Ya itulah point saya, pak Suparmo, bahwa ketika kita sudah masuk
pada tema 'kekejaman', bapak sudah membuat klasifikasi mana yang lebih
kejam dan yang mendingan, dan ketidakpercayaan bapak tentang
penyiksaan, bahwa seringkali dalam peperangan perempuan tidak hanya dipergunakan
sebagai pemuas nafsu, tetapi juga memang ada taktik perang untuk
melakukan penyiksaan seksual untuk agar lawan jatuh mentalnya.
Entah itu anaknya, istrinya atau ibunya yang diperlakukan demikian.

Maksud saya, artinya bapak tidak mendengarkan sama sekali
korban-korban perempuan jugun ianfu itu, hanya karena tidak sesuai
dengan pikiran bapak tentang apa yang disebut "memuaskan nafsu" yang
berarti seharusnya "tanpa penyiksaan". Dalam peperangan, jangan
membayangkan manusia dalam keadaan normal.

Mariana


Namun dalam hal iugun ianfu banyak yang tidak cocok, yang
> diceritakan SEKARANG oleh yang pernah menjalankannya seperti
> penyiksaan dsb, hal itu tidak logis karena apa gunanya menyiksa jika
> orang itu hendak dipergunakan sebagai pemuas nafsu (apalagi kalau
> menjadi cacat dsb)

Thursday, April 12, 2007, 2:17:01 AM, you wrote:

> Ibu Mariana,

   Secara singkat saya hendak mengatakan bahwa kita jangan berfikir
> seperti SEKARANG tetapi kembali ke  zaman PERANG . Di dalam perang
> kapan dan dimanapun dan bangsa apapun pasti terjadi kekejaman yang
> berdasarkan kultur masing2 bangsa. Jadi soalnya bukan ada dan tidak
> adanya impati.Saya juga sangat   mengutuk terjadinya hal ini dan
> tentara Jepang memang terkenal dengan memerkosa,menyiksa bahkan memenggal 
> kepala musuhnya.
>   Namun dalam hal iugun ianfu banyak yang tidak cocok, yang
> diceritakan SEKARANG oleh yang pernah menjalankannya seperti
> penyiksaan dsb, hal itu tidak logis karena apa gunanya menyiksa jika
> orang itu hendak dipergunakan sebagai pemuas nafsu (apalagi kalau
> menjadi cacat dsb).Seperti saya sudah katakan, bahlan para iugun
> ianfu nasibnya lebih baik dari rakyat biasa yang dalam keadaan
> sangat menderita karena kurang makan, kesehatan, dan sandang serta
> papan.Hal ini tidak dialami oleh iugun ianfu dan pada WAKTU itu
> terkesan malah bangga.Bahwa sekarang  memberi pernyataan TERBALIK
> dan malu dsb itu soal lain dan dapat dimengerti .Saya tetap pada
> konsatering bahwa paksaan secara ekonomis dan penipuan MEMANG
> TERJADI,karena ada saudara jauh saya yang sudah diperingatkan olh
> keluarga tetapi ia NGOTOT tetap mau berangkat  ke Jepang dan bangga
> akan hal itu.Bahwa para iugun ianfu BERHAK atas pembayaran selama
> 3,5 tahun dan GANTI RUGI saya setuju sekali.
>   Namun saya juga lebih menkankan nasib yang LEBIH BURUK dari para
> Romusha yang sama sekali tidak mendapatkan apa2 dan tidak ada orang yang 
> membela mereka.
>   Wasalam,
>   Wal Suparmo

Kirim email ke