Oleh Gede Prama 
Penulis Buku; Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/14/opini/3428216.htm
====================

Lihat kebunku penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. 
Setiap hari kusiram semua. Mawar melati semuanya indah. 

Bencana, bencana, bencana, bencana, mungkin itu kabut-kabut 
kehidupan yang berganti menyelimuti Indonesia beberapa tahun 
terakhir ini. 

Belum sepenuhnya pulih dari banjir dahsyat Jakarta, tiba-tiba tanah 
longsor menggelegar, gempa bumi memakan nyawa, pesawat Garuda 
terbakar. Bencana seperti tidak bosan-bosannya menggoda jiwa 
Indonesia. 

Seorang sahabat asli Jawa berulang-ulang menyebut kata miris. 
Seorang psikiater mengutip sebutan tua tentang zaman edan saat 
menyaksikan seorang Ibu membakar diri dan sejumlah putra-putrinya 
karena terimpit kesulitan kehidupan. Bahkan, Herald Tribune menulis 
Indonesia: Mass murder or natural disaster, terutama setelah 
menghitung ratusan ribu nyawa melayang akibat bencana. 

Berduka, bersedih, tersentuh penderitaan sesama tentu salah satu 
tanda pertumbuhan jiwa. Di Timur telah lama diajarkan, untuk 
memasuki wilayah-wilayah kesucian, bahkan menginjak rumput pun, 
dilarang. Terutama karena setiap rasa sakit yang kita timpakan ke 
ciptaan lain akan kembali menyakiti diri. Karena itu, sungguh layak 
disyukuri jika Indonesia masih memiliki banyak hati yang punya 
empati. 

Cahaya bencana 

Dengan tetap menghormati banyak hati yang punya empati, banyak guru 
setuju jika jalan-jalan keindahan, apalagi kesucian, tidak ada yang 
lurus dan mulus. Semakin indah sebuah tujuan, semakin berat jalan 
yang harus dilalui. Bila ini cara memandangnya, mungkin Indonesia 
bisa menarik napas dalam-dalam, menghimpun energi untuk melewati dan 
menghadapi banyak tanjakan dan kelokan di depan. 

Dalam jeda jiwa seperti ini, mungkin berguna jika merenung tentang 
cahaya-cahaya bencana. Bagi banyak jiwa, bencana identik dengan 
kematian, perpisahan, kesedihan, duka cita. Dan tentu saja ini 
teramat manusiawi. 

Sedikit jiwa yang mau menggali lebih dalam jika di balik bencana ada 
sejumlah langit kehidupan yang tersingkap rahasianya. Ketakutan dan 
kesedihan adalah masukan berguna tentang keinginan yang demikian 
mencengkeram. Semakin mencengkeram keinginan, semakin menakutkan 
wajah bencana. Ada keinginan agar kehidupan hanya berwajah damai, 
keluarga hanya boleh bahagia, perpisahan yang identik dengan 
hukuman, kemiskinan sama dengan kutukan. 

Melalui berbagai entakan bencana, manusia diingatkan, seberapa kuat 
pun keinginan mencengkeram, kehidupan tetap harus berputar. Bila 
saatnya matahari tenggelam, tenggelamlah ia. Ketika putaran bumi 
harus ditandai oleh gempa, gempalah yang menjadi sahabat kehidupan. 
Bila kematian sudah waktunya berkunjung, berkunjunglah ia menjadi 
sahabat kehidupan. 

Maka, seorang ayah berpesan kepada anak-anaknya, kematian datang 
bukan karena penyakit, bukan karena dikerjain orang, juga bukan 
akibat bencana. Kematian datang karena waktunya sudah tiba. Penyakit 
atau bencana hanya pintu pembuka. 

Bila ini cara meneropongnya, tidak saja keinginan mulai longgar 
cengkeramannya, tetapi cahaya-cahaya bencana juga terbuka. Ternyata 
bencana lebih dari sekadar hulu kesedihan, ketakutan, dan kutukan. 
Ia juga membukakan pengertian tentang wajah kehidupan yang lebih 
utuh. 

Serupa taman 

Serupa dengan lagu anak-anak di awal tulisan ini, hidup serupa 
dengan mengurus taman. Kendati yang ditanam rumput Jepang, ada 
rumput liar yang ikut tumbuh. Kendati sudah banyak berbuat baik, 
banyak berdoa, sering ke tempat ibadah, bila saatnya bencana 
menggoda, ia tetap menggoda. Bila rumput Jepang yang ditanam seratus 
meter, rumput liar hanya mengambil porsi sedikit sekali, tetap juga 
mengganggu. Demikian juga dengan kehidupan. Sehat berumur bertahun-
tahun, tetapi kerap lupa disyukuri. Sakit hanya segelintir hari, 
sudah penuh caci maki. Indonesia sebentar lagi akan berumur 62 
tahun, hanya segelintir hari yang digoda bencana. 

Taman jadi indah karena penuh bunga dan warna. Kehidupan juga 
serupa. Kebahagiaan menjadi lebih indah jika pernah melewati 
kesedihan. Kehidupan bermakna amat dalam karena ada kematian. 
Kesuksesan berakarkan rasa syukur mendalam jika pernah dibanting 
kegagalan. 

Taman terus tumbuh bila disirami, begitu juga pertumbuhan jiwa. 
Tidak saja kebahagiaan yang menyirami kehidupan, kesedihan juga 
menyirami, terutama karena kesedihan adalah gurunya sikap rendah 
hati dan mawas diri. 

Tidak saja kedamaian yang memperkuat kehidupan, bencana pun 
memperkuatnya. Kedamaian memperkuat, seperti air bertemu 
kerongkongan yang dahaga. Bencana memperkuat, seperti ampelas keras 
dan kasar yang membuat berlian tambah bersinar. Sebagai catatan 
kontemplasi, Jepang dan Jerman yang kini menjadi salah satu pemimpin 
dunia kalah perang secara menyedihkan puluhan tahun lalu. 

Di puncak semua perjalanan ini, tersisa bait indah kehidupan: "mawar 
melati semuanya indah!". Mawar yang berduri indah, melati yang wangi 
juga indah. Siapa saja bisa melihat keindahan dalam setiap unsur 
dualitas (bahagia-bencana, untung-rugi, suci-kotor, dipuji-dicaci), 
dia berada di depan gerbang pencerahan, kemudian hatinya 
bernyanyi: "semuanya indah!". 

Dalam bahasa indah sejumlah sahabat penyair, keuntungan adalah hasil 
pelajaran dari banyak kerugian, kekotoran adalah kesucian yang 
sedang siap-siap menunjukkan rahasianya, kekayaan adalah sisi lain 
dari kemiskinan dalam mata uang kehidupan. Pada jiwa yang sedang 
bertumbuh, dualitas terus bergerak dari satu ujung bandul ke ujung 
bandul lain. Habis bahagia derita, setelah untung rugi, dan 
seterusnya. Dan lagu anak-anak ini mengajarkan, setelah semua segi 
kehidupan dicintai, disirami, diterima, kemudian dari dalam sini ada 
yang bernyanyi: "semuanya indah!". 

Ini mungkin yang menyebabkan Robert Fulghum pernah menulis "Apa yang 
perlu dipelajari tentang kehidupan, sudah selengkapnya diajarkan di 
taman kanak-kanak". Sebuah masa di mana semuanya terasa indah. Guru 
dzogchen Chogyal Namkai Norbu menyebut primordial state (titik awal 
sekaligus titik akhir perjalanan ke dalam). Cirinya sederhana, tidak 
ada hal positif yang perlu diterima, tidak ada hal negatif yang 
perlu ditolak. 





Kirim email ke