Pak.Manneke, Menurut saya jawaban atas 3 pertanyaan tersebut sederhana saja yaitu : 1. Pak. Harto hanya melakukan gubahan alias memodifikasi pepatah Arab "Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu" MENJADI "Anjing Menggonggong Kasi-in Tulang" artinya sesungguhnya para lawan-lawan politik Soeharto pun sesungguhnya kebagian juga kok ! meskipun hanya berupa tulangnya doang. 2. Pak.Harto hanya melakukan gubahan atas Doktrin pendahulunya Bung Karno, "Bung Karno adalah Nasakom dan Pemimpin Besar Revolusi, Barang siapa menentang Nasakom berarti anti alias kontra Revolusi MENJADI "Soeharto adalah Panca Sila, Barang siapa menentang Soeharto berarti anti Panca Sila" artinya halal diciduk / dibungkam / diamankan. 3. Samimawon Pak.Harto hanya melakukan gubahan alias memodifikasi Doktrin pendahulunya Bung Karno, "Iki dada ku, Endi dada mu ?" MENJADI "Mikul dhuwur Mendem Jero" bukti peninggalannya yang masih dapat kita saksikan hingga kini adalah "STPDN / IPDN" sopo sing projo yunior wani ngomong ?
Salam, Suhaimi ----- Original Message ----- From: manneke budiman To: [email protected] Sent: Monday, April 16, 2007 5:44 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Sosok Soeharto Harus Dilihat secara Lebih Lengkap Pertanyaannya kebalik semua. Mestinya: 1. Bagaimana Suharto 'melahirkan' Indonesia yang korup? 2. Bagaimana Suharto 'membentuk' sejarah yang palsu? 3. Bagaimana Suharto 'menciptakan' budaya Jawa yang menguntungkan rejimnya? manneke Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bagi saya, buku semacam itu merupakan suatu literatur sosio-historis yang menarik untuk dibaca. Terlepas dari pro dan kontra terhadap Soeharto, bagaimana jika buku itu juga dipahami sebagai "media introspeksi" tentang : 1. Bagaimana Indonesia "melahirkan" Soeharto? 2. Bagaimana sejarah membentuk Soeharto? 3. Bagaimana budaya (Jawa) dan nilai-nilai sosial yang kita miliki menciptakan Soeharto? Saya belum membaca buku itu, namun, hemat saya, kajian ilmiah seperti itu patut dilakukan ketika kita ingin memahami para tokoh Indonesia lainnya, seperti KH Ahmad Dahlan, Soedirman, Ki Hajar Dewantoro dan Douwes Dekker. Salam,
