Pak Putu Pendit Yth,
   
  Akhirnya tampil juga, kemana saja bapak kok enggak pernah menulis lagi?
   
  Untuk menangggapi pendapat bapak akan saya "quote" the last two or three 
paragraphs dari tulisan nya Bpk. Soedradjat Djiwandono, yang dimuat di Jakarta 
Post, Tuesday 17 April 2007, dibawah ini dgn title: "Give credit where it's due 
to Soeharto"
   
  My last note is on speculations about what could have gone wrong that both 
the first and second of Indonesia's Presidents had to experience similar 
tragedies. She (Retnowati Abdulgani-Knapp - penulis buku ttg Soeharto) says it 
is tragics that both President Soekarno and President Soeharto had to 
experience similar ftes and that all their good work and positive contributions 
to the country counted for nothing.
   
  She stated that the first was due to his beleif that political will alone 
could resolve all problems and the second that everything could be accomplished 
through financial compensation. Retnowati conjectured the Indonesia's first 
President had been fooled by PKI, the communist party, and Soeharto by the 
conglomerates and his cronies.
   
  I cannot help to think that maybe Pak Harto's problem that his tragedy came 
not due to his weaknesses, but rather his (over) confidence in his destiny to 
lead, as well as his fate to step down, both due to the nation that will all 
characterizations that could describe him, best still "Javanese".
   
  Jadi pak Putu, pak Harto memakai "uang" untuk mencekal; membungkam dan 
mengamankan orang-orang yang tidak mepunyai pendapat yang sama dengan nya. 
Yaitu membayar orang-orang yang menjalankan tugas tersebut.
  Sedangkan Bung Karno percaya bahwa politik yang dijalankan beliau benar, yang 
mana tidak sesuai dengan pandangan pola berpikir politik nya "Barat" (Amerika 
dan Inggris).
   
  Menurut pendapat saya roda memang selalu berputar dan mungkin "karma" itu 
berlaku. Jika Pak Harto memperlakukan Bung Karno secara menyakitkan pada 
hari-hari terakhir hayat beliau, maka hal yang terjadi sekarang bahwa Pak Harto 
ingin mendapatkan "credit where it's due" dari Masayrakat Indonesia pada saat 
beliau makin tua, ada kemungkinan sulit.
  Sekarang banyak pendapat positive mengenai Bung Karno mulai berani 
dikemukakan oleh masyarakat luas, setelah pak Harto makin berumur dan Bung 
Karno sudah diliang kubur.
  Jadi pak Harto.....wait for your credit where it's due......sampai masyarakat 
Indonesia melupakan hal-hal jelek yang terjadi selama 30 tahun pemerintahan pak 
Harto. 
  Saat ini kami (dan anak cucu kami) masih menanggung pembayaran semua hutang 
dari IMF yang mana hanya anak dan cucu pak Harto serta para cronies nya yang 
menikmati semua keuntungan nya.
   
  Salam,
  Yuli

putu_pendit <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Rekan-rekan,

Komentar berikut ini mungkin perlu klarifikasi:

Pak.Harto hanya melakukan gubahan atas Doktrin pendahulunya Bung 
Karno, "Bung Karno adalah Nasakom dan Pemimpin Besar Revolusi, Barang 
siapa menentang Nasakom berarti anti alias kontra Revolusi 
MENJADI "Soeharto adalah Panca Sila, Barangsiapa menentang Soeharto 
berarti anti Panca Sila" artinya halal diciduk / dibungkam / 
diamankan.

Intinya, kan, adalah: Pak Harto meneruskan Bung Karno. Namun, apakah 
benar kegiatan "menciduk / membungkam / mengamankan" penentang 
penguasa adalah terusan tradisi Bung Karno.

Atau merupakan kreasi baru?

Sekalian mungkin para rekan yang pintar-pintar di sini bisa 
menguraikan perbedaan kebiasaan menggunakan kekerasan oleh pemerintah 
yang berkuasa, antara Orde Lama dan Orde Baru.

Salam,

Putu Pendit



  

Kirim email ke