Perhatikan bahwa semua kata kerja yang saya pakai untuk atribut Pak Harto 
diapit oleh tanda kutip. Jadi, mohon tak diartikan secara harfiah.

  1. Korupsi memang telah ada sejak zaman dahulu kala. Tapi, korupsi yang 
disponsori negara baru di Indonesia ada zaman Orba. Zaman Belanda, kalo ketauan 
korupsi langsung digebuk. Zaman Orba, korupsi boleh asal direstui dan 
"bagi-bagi" dengan penguasa tertinggi. Jadi, nggak salah kalo dibilang bahwa 
Orba "melahirkan" Indonesia yang korup (bukan Majapahit, bukan VOC, tapi 
INDONESIA).

  2. Yang sudah jelas dipalsu secara vulgar dan abis-abisan adalah sejarah 
Indonesia sejak 1945 hingga 1966, dan ini ulahnya Orba. Apakah Negarakertagama, 
Pararaton, dsb, juga memalsukan sejarah? Entahlah. Anda punya sumber, atau cuma 
bermungkin-mungkin saja? Jangan lupa, kitab-kitab Pararaton dan Negarakertagama 
ditulis untuk raja-raja penguasa masa itu, bukan untuk pelajaran sejarah 
rakyat. Ilmu sejarah modern bekerja atas dasar ilmiah dan merupakan bagian dari 
pendidikan publik. Jadi, tak sepenuhnya sama dengan kitab-kitab kronikel zaman 
dahulu.

  3. Ya memang itulah maksud dari tanda kutip pada kata "menciptakan". Kalo 
secara harfiah ditafsirkan bahwa Suharto pencipta budaya Jawa, ya memang jadi 
tak masuk di akal. Hang loose, my friend.

  manneke

Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya kira, pertanyaan saya tidak terbalik. Soeharto adalah produk 
masyarakat dan budayanya. Tanpa ada Soeharto pun, penyimpangan-penyimpangan 
dalam masyarakat (termasuk Jawa) sudah ada sejak dulu. Dengan kata lain, 
penyimpangan (deviance) sebenarnya merupakan realita yang "inherent" dalam 
setiap masyarakat. Singkatnya :

1) Korupsi sudah lama ada di Nusantara sejak sebelum jaman Soeharto, misalnya 
korupsi di kalangan bangsawan Banten pada era Douwes Dekker (lihat Max 
Havelaaar). Jangan lupakan pula korupsi VOC.

2) "Sejarah palsu" mestinya dipandang sebagai bagian dari dinamika realita 
historis dan ini kewajiban para ahli sejarah untuk meluruskannya. Apalagi 
pemalsuan sejarah mungkin juga terjadi pada periode-periode sejarah Nusantara 
sebelumnya. Misalnya, sejarah berdirinya Singosari, Majapahit, Demak sampai 
Mataram masih banyak yang dipertanyakan dan perlu diluruskan. Tak dapat 
dilupakan, terdapat karya satra seperti Pararaton, Negarakertagama dan Sutasoma 
maupun Babad Tanah Jawi yang ditulis dari sudut pandang penguasa. Karya-karya 
monumental itu sering menjadi referensi sejarah.

3) Budaya Jawa tidak diciptakan Soeharto. Budaya Jawa adalah produk dari suatu 
proses kristalisasi rasa dan karsa leluhur Jawa sejak jaman Pra Sejarah. Saya 
kira, kurang tepat jika Soeharto dianggap "menciptakan budaya". Soeharto hanya 
"menafsirkan" budaya Jawa sesuai dengan pemahaman pribadi demi keuntungan 
pihaknya.

Terlepas dari itu semua, sebagai individu, Soeharto adalah produk dari suatu 
"proses sosio-historis" yang sebenarnya juga dialami oleh orang-orang Indonesia 
sejamannya.

Salam,

Kirim email ke