Soalan untuk demo yang berat bagi kita ada lagi, ketika guru-guru SD mengajak
orang tua wali dan para siswanya ikut ber-orasi demo anti IPDN di "Taman
Margasatwa", dikawal para pulisi senior, aman, sehingga siswa sangat antusias
menjawab orasi para gurunya......
*
Guru-guru kelas 3 dan 4: "Untuk anak-anak kelas 3 dan 4, soal-nya :
"Siapakah Cliff Muthu?, ia adalah praja I..pe deeee -.... "
Soal lagi,
"Cliff Muthu meninggal karena prilaku kekeras -......."
"Sistem kekerasan adalah bertentangan dengan Pancasi -......"
Serentak guru-guru pun koor berucap: "seratuuus..." sambil tertawa "hehehe"
**
Kemudian beralih ke anakanak kelas 5 dan 6:
"Hallo anak-anak kelas 5 dan 6 soalannya adalah; Presiden RI yang sangat
simpatik dan penuh pertimbangan matang sekarang ini adalah bapak Susilo Bambang
Yudhoyooo..oo...o - "...."
Serentak senyum dengan pandangan serius, para guru dengan percaya diri
mengacungkan jempol ke hadapan para demonstran dan pulisi pengawalnya.
***
Pertanyaan berikutnya, untuk kita semua para demonstran dan para wali murid
semuanya adalah...:
"Kekerasan adalah bertentangan dengan Penghayatan dan Pengamalan
Pancasi..-....".
"Pemimpin kita yang paling berjasa membina kekerasan, merusak karakter bangsa
dan membebani utang pada generasi anak cucu kita adalah .....ssst.."
(suasana pun diam menunggu arahan, para guru pun cemas, tercekat orasi,
menanti jawaban, saling bisik "siapa?", ukh, bumerang...).
Pak Pulisi pengawal pun berucap: "Awas, kalau benar jawabnya, kenal cekal
kau..!"
kcn,-
maap, ikut latah...
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak loekyh,
Saya setuju sekali bilapun anak-anak ikut demonstrasi
karena orang tuanya harus membawanya. Dan orang dewasalah
yang mengerti apa yang hendak disuarakan.
Anak-anak SD seharusnya diperhatikan pendidikan di sekolahnya,
mata pelajaran yang bertumpuk-tumpuk membuat mereka kekurangan
waktu untuk menjadi diri sendiri dan kreatif dalam bermain.
Keponakan saya anak perempuan di bangku SD punya buku pelajaran IPA yang isinya
begini:
- Kalau menyisir pakai.... (keponakan saya harus menjawab: sisir)
Ada lagi pelajaran apa ya, saya lupa namanya. Soalnya seperti ini:
- Kalau anak perempuan seperti apa?
Keponakan saya harus menjawab: Berambut panjang, memakai pita dan rok
mainannya boneka.
- Kalau anak laki-laki seperti apa?
Dia harus menjawab: Berambut pendek, memakai celana pendek dan mainnya
perang-perangan dan mobil-mobilan.
Terus saya tanya ke keponakan saya itu. "Tapi sekarang kamu pakai celana pendek
dan main mobil-mobilan, padahal kamu anak perempuan? Jadi gimana
dong?"
Lalu keponakan saya langsung memonyongkan bibirnya dan alisnya
berkerut, bahunya dinaikkan, "tau tuh, abis bu guru begitu
mintanya..."
Betul juga, karena kalau nggak jawabannya dicoret dan nilainya jadi
jelek.
Mariana