Dan ketika Harmoko melarang lagu "Hati yang Luka", Panglima Kopkamtib (waktu itu) Laksamana Sudomo tetap menyanyikannya di mana-mana. Sekedar info tambahan.
Terima kasih. ----- Original Message ----- From: Lasma siregar To: [email protected] Sent: Tuesday, April 17, 2007 2:32 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mereka Mencatat Kehidupan dalam Lagu Menarik sekali membaca tentang bagaimana lagu-lagu pop tercipta dan latar belakang penulisnya. Saya selalu suka mendengar Gesang menyanyikan lagu "Jembatan Merah", sebuah lagu pada saat kita atau tepatnya "arek-arek Suroboyo" berjuang di Surabaya. Dikatakannya "Akan kunanti ia disini, berjumpa lagi!"..... Waktu jaman Trikora (merebut Irian Barat) ada lagu pop "Senja di Kaimana" yang dinyanyikan oleh Alfian. Dikatakannya "Seiring surya meredupkan sinar, dikau datang di hati berdebar".... Pada saat belum ada TKI di Malaysia seperti kini, sudah banyak anak Sumatra yang terpaksa mengais nasib di rantau jauh. Syaiful Bakhrie menulis lagu (yang jadi terkenal) yang berjudul "Semalam di Malaya". Dikatakannya "Aku pulang dari rantau, bertahun-tahun di negeri orang, o Malaya"... Saya terharu mendengarnya, terkenang sanak saudara yang jauh di pantai seberang! Bagaimana rekan-rekan sekalian? Apakah kalian gemar musik dan berlagu? Lagu macam apakah yang bisa menggugah kenangan lama? Bukankah musik ini sarapan yang sehat buat sukma kita... Salam Las. Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Oleh FRANS SARTONO http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/15/kehidupan/3445533.htm
