Mbak Asri, Mas Edy yg baik, Setuju dengan pendapat anda.
Sebelumnya mohon maaf kalau ada yg akan tersinggung lagi. Ahli2,pakar2 politisi kita yg sekarang berkuasa memang banyak sekali yg pinter luar biasa. Ibarat ujian , sekarang ujian dgn open book , multi choices , yg jawabannya semua seolah2 benar apalagi kalau mau gaya kita dicari2 pembenarannya. Penyakit di negara kita yg paling parah yaitu KKN, sekarang mau diobati atau dicegah dengan menaikkan gaji PNS menjadi yg terkecil 2 juta rph bisa saja benar. Apalagi kalau pilihan macam begini juga dipengaruhi keinginan tersembunyi yg berupa iming2 menjelang pemilu atau pilpres yad. Pilihan begini ibaratnya kayak main judi , siapa tahu , dikit lagi menang ... Pilihan dari yg biasa berandai2 , seolah2 , siapa tahu Gusti Allah mengabulkan dll jauh dr kalkulasi njelimet karena barangkali pakar penguasa dan politisi kita itu lebih banyak lulusan sekolah non eksakta atau seperti Mbah Marijan yg dipuja2 dgn ramalan2 tanpa sekolahnya..., atau pikiran bertanya pada pemuka agama soal me ngatasi lumpur lapindo daripada susah2 mikir bagaimana meng hentikan semburan lumpur itu secara ilmiah... Bahkan ekonom kita yg luar biasa pintar KKG juga pernah 'menjerumuskan' GD dgn usulan dan 'kalkulasi ilmiah' menaikkan gaji presiden dan menteri dll guna mencegah korupsi [ katanya, padahal permainan angka2 atau data2 oleh KKG ini juga terbukti hanya seolah2 macam tuduhan korupsi di direktorat pajak [ atau bea cukai ?] yg ternyata hanya asumsi tanpa dukungan bukti penelitian yg kuat , hingga KKG terpaksa minta maaf di koran2 supaya nggak dituntut...] Masih untung usulannya 'cuma 'dua juta , bukan dua puluh juta hingga masih bisa di talar kan .... Pikiran awal dalam kampanye P SBY mau memimpin sendiri pemberantasan korupsi , idea konsep management yg baku jelas buat memberantas KKN ternyata realisasinya hanya management gaya judi belaka...demi terpilih lagi karena populis... Usulan di milis ini agar hukum di tegakkan sungguh , kalau perlu yg korupsi dihukum seberat2nya biar kapok , dan membikin jera yg mau KKN ternyata malah dilawan dengan membiarkan menteri2 nya ' korupsi terang2an ' macam Prof YIM, P Awal, P Sudi dll nya itu. [ mungkin sdh diganti dalam resuffle kemarin ?]. Pemberantasan korupsi jelas dengan gaya tebang pilih , play safe atau bahkan demi menjatuhkan yg nggak sejalan seperti kabulog dirut PLN dll mana bisa mencegah KKN itu ? Memang benar inilah nasib bangsaku... Salam, martin -indiana ----- Original Message ---- From: Edy P <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, April 19, 2007 2:22:45 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 2009, Gaji PNS Terkecil Rp 2 Juta Kalau salah satu (atau bahkan cita-cita utama) alasan kenaikan gaji PNS pada 2009 menjadi minimal 2 juta rupiah adalah untuk memperkecil kecenderungan korupsi menurut saya itu alasan yang terlalu dangkal. Mengapa? Karena dalam prakteknya, birokrat yang gajinya sudah tinggi pun tetap korupsi kok. Lihat saja, Menteri, Dirjen, Ketua Komisi, dll nyatanya juga banyak yang jatuh ke dalam dosa korupsi. Itu artinya, gaji yang semakin tinggi TIDAK MENJAMIN BAHWA ORANG LALU TIDAK KORUPSI. Jadi alasan itu terlalu sederhana dan "nggampangke" . Kalau kenaikan itu dikatakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para PNS, itu juga omong kosong. Mengapa, karena ketika kenaikan menjadi 2 juta per bulan itu diumumkan sekarang, para PNS itu sudah akan dihadang oleh kenaikan biaya kebutuhan hidup yang bisa jadi sudah mulai bergerak naik saat ini sehingga pada saatnya nanti uang 2 juta rupiah itu sudah tidak signifikan lagi untuk mendongkrak kesejahteraan hidup keluarga PNS. Maka kenaikan itu hanya tetap akan menjadi "SEOLAH-OLAH" . Secara nominal bertambah, tapi nilainya mungkin akan jauh lebih berkurang. Kenaikan gaji seperti itu juga pasti akan memancing peningkatan gaya hidup. Yang tidak mendesak (urgen) dengan HP lalu memaksa diri membeli HP. Kalau HP tidak pernah bunyi karena tidak punya relasi, lalu yang punya gelisah dan mencoba menghubungi orang-orang yang punya tilpon dan disuruhnya tilpon ke HPnya supaya kedengaran sibuk karena banyak yang menelpon. Ah...mental apalagi ini bangsaku???? ? Nuwun sewu edy pur
