Oleh Tjipta Lesmana Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/20/opini/3467646.htm =============================
Gambar Harian Kompas (18/4/2007) menunjukkan Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla baru keluar ruang kerja Presiden di Istana, Jakarta. Presiden menunjuk sesuatu sambil berkata kepada Wapres, "Wartawan mengira pertemuan kita membicarakan masalah reshuffle", sementara Wapres tertawa ceria. Dengan ucapan itu, Presiden hendak mengatakan kepada pers, "Kalian kecele...," sekaligus menepis spekulasi publik, pertemuan itu membahas rencana perombakan kabinet. Padahal, itulah sebenarnya substansi pembicaraan empat mata kedua pemimpin bangsa pada Selasa lalu. Dukungan masyarakat Mengapa rencana perombakan kabinet dirahasiakan? Orang yang mengenal karakter SBY tahu, itulah tipikalnya, selalu undecided, lamban dalam mengambil keputusan penting. Ihwal perombakan kabinet, sejauh ini SBY tidak ingin memberi kesan, perombakan kabinet dilakukan karena desakan publik. SBY menghendaki, perombakan kabinet merupakan keputusan sendiri selaku kepala negara. Semua tahu, perombakan kabinet untuk meningkatkan kinerja kabinet. Semua tahu, kinerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) menyedihkan meski sudah mengalami perombakan kecil pada Oktober 2005. Banyak menteri yang "tidak bunyi", atau buruk prestasinya. Buat apa Presiden mengulang hal yang sudah diketahui publik secara telanjang? Sebenarnya, perombakan kabinet yang banyak diusulkan berbagai komponen masyarakat justru untuk kebaikan SBY. Publik amat tidak puas dengan pemerintahan ini. Simak hasil jajak pendapat Kompas. Kalangan bisnis amat tidak puas dengan kinerja Tim Ekonomi KIB. Jika masyarakat mendesak agar dilakukan perombakan, hal itu merupakan manifestasi masih adanya kepercayaan rakyat kepada SBY. Karena itu, seharusnya SBY berterima kasih atas dukungan masyarakat ini. SBY dan Surayud Karakter SBY tidak sama dengan karakter Surayud Chulanont, Perdana Menteri Thailand. Presiden SBY selalu berbicara dengan bahasa konteks tinggi: penuh ethok-ethokmeminjam istilah Prof Magnis Suseno. Sebaliknya, Jenderal Surayud lebih memilih bahasa konteks rendah. Ketika menteri keuangannya mendadak mengundurkan diri karena berbeda pandangan dengan menteri-menteri lain terkait persoalan investor asing, Surayud segera memberi sinyal bahwa ia akan segera menunjuk seorang menteri keuangan baru. Ketika publik menjagokan seorang bankir kenamaanChalongphob Sussangkarnuntuk menduduki posisi itu, Surayud tidak berpikir panjang. Ia segera berkonsultasi dengan kalangan bisnis. Setelah itu, spekulasi pun sirna. Surayud merasa perlu cepat menunjuk menteri keuangan baru sebab ia menyadari semakin lama ia "menggantung" masalah ini, dampaknya terhadap dunia bisnis akan semakin jelek. Mendekati akhir April, imbauan agar Perdana Menteri melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pun mencuat. Lebih hebat lagi, imbauan itusecara implisitjuga disuarakan menteri keuangan yang belum lama duduk di kabinet. Menurut Sussangkarn, pertumbuhan tinggi ekonomi Thailand sulit dicapai karena ketidakpastian politik saat ini. Jajak pendapat terakhir Suan Dusit Poll menunjukkan, 57 persen rakyat Thailand menghendaki perombakan kabinet dalam meningkatkan efisiensi pemerintahan. Surayud membaca dan memahami aspirasi rakyat. Surayud berbeda dengan SBY. Tanggal 17 April lalu, secara terbuka dan tegas Surayud mengatakan, "Ya, saya akan segera menunjuk sejumlah menteri baru!" Selebihnya, Perdana Menteri menolak menyebut portofolio apa yang akan mengalami pergantian menteri. Alasannya, daftar susunan baru kabinet harus lebih dulu mendapat persetujuan Raja. Merugikan citra Sekali lagi, mengapa SBY bersikap "malu-malu kucing" dan ragu dalam merombak kabinet? Jika mau jujur, menurut hemat kita, sebenarnya SBY juga menyadari, ia perlu merombak KIB dan mencopot sejumlah menteri yang selama ini menjadi bulan-bulanan kritik masyarakat. Komunikasi politiknya yang cenderung "mengambangkan" permasalahan hanya akan merugikan citranya sebagai pemimpin bangsa. Mungkin juga wacana perombakan yang on-and-off selama enam bulan terakhir menjadi salah satu faktor utama dari sekian banyak menteri yang harus berurusan dengan rumah sakit. Menurut Wapres Jusus Kalla, ada 13 menteri KIB yang sakit, delapan di antaranya sakit jantung. Rupanya, makin lama wacana perombakan dipelihara", makin banyak menteri yang kian berdebar-debar jantungnya.
