Wahhh...

 

Kalau saja ada partai yang ingin menggandeng TUKUL jadi PRESIDEN. wah saya
akan pilih dia nih

 

 

Muka NDESO rejeki KOTA

 

 

 

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Christovita
Wiloto
Sent: 20 April 2007 14:07
To: Sahabat-sahabatku
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Republik Rakyat Tukul
Importance: High

 

Lebih jelas kunjungi http://christovita-wiloto.blogspot.com/
Bisnis Indonesia Minggu, 22-APR-2007 
Republik Rakyat Tukul

Oleh:
Christovita Wiloto 
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific 
www.wiloto.com, 
email: [EMAIL PROTECTED] <mailto:powerpr%40wiloto.com>  

"Kembali ke Laptop...!" kalimat ini bergema di Istana Negara Kamis sore itu
(12/4). Kalimat itu bukan keluar dari mulut Tukul "Renaldi Cover Boy" Arwana
seperti biasanya, tapi dari mulut orang nomor satu di negera ini, Presiden
SBY.

Tukul bertemu dengan Presiden SBY? Tentu ini bukan suatu peristiwa yang
mengagetkan. Karena pelawak Ndeso ini sedang naik daun, persis ulat bulu
yang ulet merambati daun. Saat bertemu di Istana Negara itu, saat menyalami
Tukul, SBY sempat berteriak,"Wah, ini dia," entah apa maksud Pak Presiden.
Tak lupa Presidenpun mengajak Tukul berfoto bersama. Setelah puas
berfoto-foto, Presiden sambil terus bergurau, berkomentar, "Kembali ke
Laptop...!"

Sungguh lain suasana Istana Merdeka, yang biasanya penuh adegan protokoler
yang resmi dan cenderung tegang itu, sore itu menjadi segar penuh gelak tawa
meriah. Bukan hanya Pak Presiden beserta Ibu yang tertawa, namun juga dari
para rekan wartawan Istana yang sempat mengeroyok Tukul. Tentu saja kali ini
justru Tukul yang tidak berani berteriak, " tak sobek...sobek... lho..." lha
wong di depan Presiden, ha..ha..ha..bisa dianggap subversif dia. 

Tukulpun dihujani pertanyaan oleh para wartawan, walau pertanyaan para
wartawan Istana kali ini tidak menyangkut korupsi di Bulog, besarnya dosa
warisan di Garuda, pembiayaan APBN untuk bencana Lumpur Lapindo, tragedi
STPDN, masalah Ujian Nasional, ruwetnya sistem transportasi nasional atau
masalah reshuffle kabinet seperti biasanya. Namun suasana riuhnya tidak
kalah dengan suasana selepas rapat kabinet.

"Puas, puas, puas.....!" suara khas Tukulpun mengema di Istana Negara,
menjawab pertanyaan para wartawan."Ini memang wajah melankolis. Sedikit
seperti wajah cover boy." kata Tukul terkekeh saat wartawan bertanya
menggoda, "Kenapa wajahnya (Tukul) kok kelihatan pucat saat bertemu
Presiden." 

Komunikator Strategis

Setidaknya ini adalah pertemuan kali kedua, Tukul dengan Presiden, di Istana
Negara. Dengan posisinya saat ini, Tukul selain sebagai penghibur dengan
mengocok perut para pemirsanya di seantero nusantara. Sebenarnya juga bisa
memainkan peranannya sebagai komunikator yang strategis. Baik antara rakyat
dengan Presiden, maupun Presiden dengan rakyat, juga menanamkan kembali
nilai-nilai positif pada masyarakat dengan cara canda ria dan ringan riang.

Misalnya membangkitkan budaya membaca di kalangan masyarakat. Menurut Tukul,
"Buku merupakan jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala
seseorang dan lebih mampu mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi
kita." Wah, dahsyat bukan? Pesan ini dikemas dalam bahasa yang sangat
sederhana dan mudah dicerna masyarakat.

Atau contoh lain, tentang etos kerja. "Semangat pantang mundur dan optimisme
tinggi menjadi modal utama meraih kesuksesan," kata Tukul sambil mengakui,
kesuksesan yang diraihnya bukan tanpa rintangan, bahkan ejekan dan cemoohan
dari orang sering mewarnai kehidupan sehari-harinya. Di TV Tukul acapkali
mengatakan "Yang penting kerja keras... lalu serahkan kepada Allah." Etos
kerja ini akan menjadi modal yang sangat dahsyat bagi siapapun orang
Indonesia yang menjalaninya. Dan Tukulpun menjadi contoh hidup.

Atau simak statementnya, "Lagu Wong Ndeso bercerita tentang kesuksesan orang
desa berjuang hidup di kota besar. Walaupun sangat sukses, orang desa itu
tetap menjadi dirinya sendiri, sama sekali tak berubah. Hal itulah yang
terjadi pada saya. Kristalisasi keringat, Mas!" canda Tukul dengan mimiknya
yang katro dan culun.

"Wong Ndeso" adalah album kompilasi yang segera dirilis Tukul, berisi
sepuluh lagu. Dengan satu lagu andalan yang dinyanyikan Tukul, berirama
campur sari dangdut ini diharapkan Tukul mengena di telinga pendengarnya.

Nilai yang sangat luhur tentang kerendahan hati dan semangat untuk berkerja
keras, yang dalam istilah Tukul "Kristalisasi keringat" pun terdapat dalam
album itu. Dalam bait lagu yang dinyanyikan Tukul di album Wong Ndeso ini,
terdengar kata-kata yang mengelikan, "...memang tampang aku katro, tapi
rezekinya kota...." . 

Juga prinsip Tukul yang kukuh anti-poligami pun dapat dengan gamblang
dijelaskannya dengan penuh canda "Iya..kan banyak orang yang kalau sukses
lupa diri. Bahkan ada yang kawin lagi atau poligami. Saya justru nggak
simpati dan kurang setuju dengan sikap orang seperti itu," kata Tukul lucu.
"Saya nggak pernah berpikir ke arah situ (poligami). Wong waktu susah, jadi
kutu kupret, sama-sama istri, ya... begitu senang, sama istri (yang sama)
juga dong. Jangan cari istri baru lagi...ha...ha....ha...," kata Tukul
diselingi tawa. 

Dalam upaya mengapai hati terdalam dari semua pengemar Tukul di seantero
nusantara, maka jargon "Kembali ke Laptop"pun disajikan dalam berbagai
bahasa. Seperti back to laptop (Inggris), wangsul maleh wonten laptop
(Jawa), molleh ka laptop (Madura), revenez au laptop (Perancis), vuelta al
laptop (Spanyol), mulak tu laptop (Batak), balek keleptop oi...(Palembang),
balik deui kana laptop (Sunda), mari jo torang bale' ke laptop (Manado),
mewali malih ring laptop (Bali), ke laptop lagi nyok.. (Betawi) dan masih
banyak lagi. Sesuatu yang nampak sederhana di mata para pejabat kita ini,
justru merupakan kekuatan Tukul untuk berkomunikasi dengan segala lapisan
masyarakat.

Kembali ke Rakyat

Kita bisa bayangkan dengan media televisi yang bisa dijangkau siapa saja
penduduk Indonesia, secara free, tanpa harus berlangganan, selama masih
memiliki pesawat televisi, antena dan aliran listrik. Tukul melalui Empat
Mata yang stripping dari Senin sampai Jumat non-stop, dapat menjangkau
jutaan rakyat Indonesia setiap malamnya, tidak perlu press release, tidak
perlu press conference, juga tidak perlu juru bicara yang mahal-mahal.

Kalau jaman dahulu raja-raja di Jawa menggunakan media wayang kulit sebagai
media hiburan dan komunikasi dengan rakyatnya, yang digelar semalam suntuk
di alun-alun kota. Kini kita memiliki Tukul yang berada dalam posisi yang
sangat strategis untuk menjadi media komunikasi antar masyarakat, baik elite
maupun rakyat biasa.

Dengan latar belakangnya yang pernah menjadi sopir omprengan, sopir pribadi,
tukang kabel, model video klip penyanyi cilik Joshua, bahkan pembuat sumur
pompa. Tukul benar-benar dapat menghayati dan merasakan sendiri kesulitan
dan perjuangan hidup orang kecil, yang merupakan potret sebagian terbesar
rakyat Indonesia. Dimana kini jurang antara si miskin dan si kaya semakin
besar dan dalam. 

Bukankah dalam alam demokrasi ini Indonesia mestinya lebih pro ke rakyat?
Bukankah Republik seharusnya kembali ke rakyat kecil kebanyakan? Jadi Tukul
yang notabene bukan "wakil rakyat" tapi justru sangat mewakili rakyat ini
bisa berfungsi sebagai komunikator yang strategis. Dengan tampil apa adanya
tentunya. Bukankah kedaulatan berada ditangan rakyat? 

Agar lebih 'mak nyuss, apa perlu kita sebut Republik Rakyat
Tukul?.....sekali lagi.... dalam bahasa Betawi "kagak tau
dah"...he...he...he...tidak tahu ah...., kite balik ke laptop lagi nyok...!!
eh salah...kite balik ke rakyat lagi nyok...!!

[Non-text portions of this message have been removed]

 

__________ NOD32 2206 (20070420) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke