Saya telah melihat aksi kekerasan IPDN di www.youtube.com.
Apakah mereka yang melakukan kekerasan ini, sudah tidak punya hati
nurani?.
Tujuannya hanya untuk melakukan kekerasan demi kekerasan, yang tidak
ada manfaatnya. Malahan mendidik orang2 untuk bertindak keras kelak
pada saat terjun di masyarakat.  Jadi mirip sekolah untuk mendidik
orang jadi Preman dan jadi Tukang Pukul saja.

Sepertinya ini sekolah hanya menunjukkan balas dendam dari satu
angkatan ke angkatan berikutnya.

Diharap IPDN ini segera dirombak total gaya pendidikannya dan menjadi
lebih terarah dengan benar untuk mendidik orang jadi lebih bermoral
dan bukan menjadi a-moral.

Biarlah semua pada sadar diri dan kembali ke jalan yang benar.

Lily

--- In [email protected], ana sari
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> harusnya ditambahi, otot kawat, balung wesi, weteng karet (otot
kawat, tulang besi, perut karet) artinya perutnya tak pernah kenyang
oleh apaun juga, karena selalu melaaaar kayak karet, he he he, just
kiding..
> membahas masalah IPDN kok ya gak ada habis2nya ya..saya pendidikan
seminari (sekolah2 calon pastor) bisa disiplin tanpa militeristik
sedikitpun..karena yang dibina adalah masalah moral, jadi disiplin
buka karena hukuma. mungkin dipondok pesantren juga bagitu..para
santri bisa disiplin tanpa militeristik..cukup dengan pembangunan
moral dan aklak yang bagus..maka disiplin bisa terbentuk..
> untuk memutus mata rantai kekerasan, mungkin sebaiknya selama 3
tahun IPDN tidak menerima praja, jadi sampai prata termuda saat ini
lulus semua, baru menerima prja. dengan begitu tidak ada transfer
kekerasan antar angkatan..semua praja yang masuk 3tahun yang akan
datanag adalah praja2 yang tidak akan di zolimi oleh seniornya
(karena tidak punya lagi senior)..sehingga diharapkan mereka tidak
punya dendam yang akan dilampiaskan ke adik kelasnya kelak.
> maaf kalau salah..
> peace.. Ana

Kirim email ke