Gubernur DKI Sutiyoso geram soal DBD sehingga sampai mengeluarkan pernyataan 
bahwa Warga yg menolak rumahnya berpartisipasi untuk diasapi (Fogging) 
sebaiknya mendapat sangsi sosial.
   
  Berkaitan dengan hal tersebut saya ingin bertanya kepada Pak Gubernur, 
bagaimana dengan tindakan Pemda atau siapapun yg bertanggung jawab dengan 
kebersihan di Pasar Minggu khususnya tempat Pembuangan Sampah Sementara tidak 
resmi di Jl AUP yg telah bertahun-tahun dibiarkan tanpa ada upaya nyata Pemda 
untuk membersihkannya.  
   
  Sebagai Informasi Tempat Sampah ini berada di tengah2 kompleks Perumahan ada 
Kompleks BI, Kompleks Pertanian Palapa dan ada juga Sekolah.
   
  Padahal masyarakat sekitarnya setidaknya warga RT 12/RW 05 Pasar Minggu telah 
berkali2 melayangkan keberatannya soal pembuangan sampah liar kepada Pemda.  
Tempat ini jelas2 melanggar berbagai aturan yg telah ditetapkan oleh Pemda 
sendiri dan jelas menjadi sarang berbagai macam penyakit termasuk DBD.  
Beberapa bulan terakhir ini setidaknya ada lebih dari 10 warga yg terserang 
demam walaupun upaya "Fogging" telah sering dilakukan baik atas prakarsa warga 
sendiri ataupun  Pemda.
   
  Namun apa artinya Fogging dan mencegah jentik di-rumah2 warga kalau di tanah 
kosong yg dijadikan tempat pembuangan sampah dan berbagai barang bekas yg tidak 
dikubur dibiarkan menjadi sarang nyamuk, belum lagi asap pembakaran plastik, 
ban bekas atau pembuatan arang serta bau pembusukan sampah yg telah bertahun2 
menganggu warga sekitarnya.
   
  Usulan telah pula disampaikan oleh RT ke Walikota Jakarta Selatan beberapa 
bulan yg lalu, namun lagi2 jatuh ke penguasa yg tidak tahu kewajiban dan 
tanggung jawabnya kepada warganya.  Pertanyaan saya apa benar kita masih punya 
PemDa??????
   
  Salam Sebel
  Kukuh Kumara

kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Buruknya lingkungan Jakarta berawal dari Pola Pikir yg sudah sekian lama 
memang juga buruk.  Terima kasih mash ada upaya seperti yg dilakukan Unilever, 
plus fogging Baygon, sedikit membantu, namun tidak menyelesaikn masalah yg 
mendasar.
   
  Sebagai contoh di dekat tempat tinggal saya di jl AUP, Pasar Minggu ada lahan 
kosong, yg telah beberapa tahun belakangan ini menjadi awalnya Tempat 
Pembuangan Sampah Sementara namun akhirnya berkembang menjadi Tempat Seleksi 
Sampah dan penimbunan Sampah yg sangat menganggu lingkungan perumahan 
disekelilingnya.  Dan saat ini juga bertambah dengan munculnya tempat2 jual 
beli besi bekas & kaleng2 bekas.
   
  Setiap musim penghujan bau busuk sampah merebak keseluruh kompleks perumahan 
disekitarnya, demikian pula disaat kemarau asap pembakaran sampah dan juga asap 
dari proses pembuatan arang membuat sesak napas bagi penghuni perumahan 
disekitarnya.
   
  Entah sudah berapa kali dilaporkan ke kelurahan dan kecamatan Pasar Minggu, 
namun tidak ada tindakan nyata dari Pemda.  Sementara saat merebaknya penyakit 
DBD, kompleks2 perumahan di fogging, namun apa artinya kalau sumber masalahnya 
tidak dibersihkan (TPS)nya dibiarkan tidak terkendali?  Kemarin kebetulan saya 
mengikuti sebuah kendaraan terbuka yg membawa sampah dari daerah diluar Pasar 
Minggu, ternyata sampah itu dibawa ketempat di Jl. AUP.  Dengan kata lain TPS 
ini diam2 dijadikan TPS dari daerah lain dan PEMDA diam saja.
   
  Lalu apa artinya spanduk2 Pemberantasan DBD dibentangkan ....kalau 
kenyataannya tidak ada tindakan nyata dari Pemda....Masalah ini juga sudah 
dilaporkan pengurus RT ke Walikota, namun tetap saja tidak ada tindakan.
   
  Ini adalah sebagian kecil masalah lingkungan di Jakarta, tentunya masih 
banyak lagi kasus2 serupa di Jakarta ini.....intinya kebersihan atau apapun lah 
namanya program yg baik hanya sampai di tingkat "Spanduk" Nol Realisasi....
   
  Salam
  Kukuh Kumara

Totot <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Padahal udah dibantuin sama Unilever-KOMPAS dgn program Bersih2 
Jakarta
plus program Fogging Baygon.....

Gimana sih pemkot DKI? Untuk kesehatan warganya aja gak peduli, gimana
urusan lain2 yah?

Kalo mo kampanye pilkada aja, buang2 duit pasang banner dimana2...

----- Original Message ----- 
From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, April 11, 2007 1:37 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Lingkungan Jakarta Buruk

> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/11/metro/3444054.htm
> =========================
> 
> Jakarta, kompas - Kondisi lingkungan Jakarta yang buruk menyebabkan 
> nyamuk Aedes aegypti terus berkembang biak dan menebarkan demam 
> berdarah. Di Jakarta, selama Januari-April, terdapat 11.336 pasien 
> demam berdarah. Untuk menanggulanginya, Pemprov DKI Jakarta kini 
> kekurangan dana Rp 15,89 miliar. 
> 
> Selain kekurangan dana, Pemprov DKI Jakarta juga kekurangan 
> insektisida yang dibutuhkan untuk melaksanakan program pengasapan 
> (fogging). Dari kebutuhan dana Rp 17,177 miliar, Pemprov DKI Jakarta 
> hanya memiliki dana Rp 1,28 miliar atau kurang Rp 15,89 miliar. 
> 
> Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Selasa (10/4) di Jakarta 
> Pusat, pemerintah akan mencoba menutupi kekurangan dana itu dari 
> anggaran biaya tambahan (ABT) APBD 2007. 
> 
> Saat ini, pemerintah sudah mengirimkan surat ke DPRD untuk 
> mempercepat pelaksanaan ABT guna mengatasi kejadian luar biasa (KLB) 
> demam berdarah dengue (DBD). "Pengasapan serentak merupakan keharusan 
> agar seluruh populasi nyamuk dewasa dapat dibasmi. Masalahnya, banyak 
> dan luasnya wilayah yang harus disemprot membuat penyemprotan 
> serentak secara rutin membutuhkan dana besar," kata Sutiyoso. 
> 
> Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Wibowo Sukijat mengatakan, 
> terdapat 135 kelurahan yang dinyatakan berstatus merah atau bahaya 
> DBD. Luas ke-135 kelurahan berstatus merah itu mencapai 34.048 hektar 
> dan seluruhnya harus disemprot insektisida. 
> 
> Keadaan yang serba kekurangan menghambat upaya penanggulangan DBD. 
> Akibatnya, jumlah pasien makin bertambah. Salah satu pasien di RSUD 
> Tarakan, Jakarta Pusat, Deni (21), warga Jalan Tali RT 05/RW 08, Kota 
> Bambu, Jakarta Pusat, dinyatakan meninggal dan menambah deretan 
> korban meninggal akibat DBD di seluruh Jakarta. 
> 
> Menurut Kepala Bidang Keperawatan RSUD Tarakan Zuraidah, pasien DBD 
> sejak tahun 2005 hingga 2007 cenderung meningkat. Jika tahun 2005, 
> jumlah total pasien per bulan selama Januari-April maksimal hanya 150 
> orang, tahun 2006 melonjak hingga 200 orang per bulan dan pada tahun 
> ini naik hingga 400 pasien per bulan. 
> 
> "Dapat dipastikan bahwa lingkungan tempat tinggal pasien maupun 
> lokasi-lokasi yang dikunjunginya belum bebas nyamuk pembawa virus 
> DBD. Hal ini menunjukkan kebersihan lingkungan di Jakarta belum 
> terjaga, justru cenderung memburuk," kata Zuraidah, Selasa. 
> 
> Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat Evi 
> Zelvino menegaskan, merebaknya DBD adalah akibat belum efektifnya 
> program pemberantasan sarang nyamuk setiap Jumat pukul 09.00 selama 
> 30 menit serentak di seluruh kelurahan. "Harus dicari cara yang tepat 
> agar pemberantasan sarang nyamuk atau PSN dapat efektif dilakukan 
> karena hanya dengan PSN vektor pembawa virus dilenyapkan, sekaligus 
> menjaga kebersihan lingkungan," kata Evi Zelvino. 
> 
> Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan menyatakan tetap akan 
> berupaya menanggulangi DBD. Pengasapan terhadap 22 kelurahan yang 
> dinilai rawan demam berdarah dengue di Jakarta Barat akan dilakukan 
> serempak hari Jumat (13/4) sampai dengan hari Minggu (15/4). Namun, 
> jika kesadaran warga untuk melakukan PSN rendah, segala upaya 
> pemerintah akan sia-sia. 
> 
> Manajemen DBD salah 
> 
> Meningkatnya kasus DBD dan KLB di pelbagai tempat di Indonesia, 
> menurut Anies, dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran 
> Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro disebabkan 
> salah manajemen. 
> 
> "Selama ini anggaran lebih banyak digunakan untuk pelayanan 
> kesehatan. Padahal, demam berdarah dengue adalah gangguan kesehatan 
> terkait lingkungan. Siklus KLB DBD kini tidak lagi lima tahunan, 
> melainkan lebih cepat akibat perubahan lingkungan, tetapi kebijakan 
> tidak berubah," papar Anies, kemarin. (win/eca/nel/ong/arn/atk) 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> =====================================================
> Pojok Milis FPK:
> 
> 1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
> 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
> 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
> 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> 
> KOMPAS LINTAS GENERASI
> =====================================================
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 



         
    
---------------------------------
  Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke