pertanyaan kenapa kisah kekerasan di ipdn terus di bahas oleh media, bukan cuma 
pak mahatmanto yang (mungkin) kurang paham...banyak praja ipdn juga yang 
menanyakan hal serupa...dan waktu saya bertanya balik pada mereka, kenapa 
terjadi lagi praja yang tewas dipukuli seniornya setelah wahyu hidayat tahun 
2003 lalu?? praja-praja ipdn gak bisa jawab...yang saya tanya beragam...tingkat 
1 sampai 4...itukan oknum mas...kata mereka...itu kan cuma sebagian kecil dari 
kita mas...tambah beberapa lainnya...orang tua kami di daerah pada gusar 
mas...tambah sebagian lainnya...baguslah..kata saya..hehehe kenapa?? 

mungkin masih ada yang ingat saat wapres jusuf kalla berkunjung ke barak dki 
jakarta tempat cliff dan temen2nya digebukin?? wapres nanya apa mereka tahu 
kalo terjadi pemukulan??? mereka bilang gak tau dan gak dengar!! sudah tidur!!! 
mereka berbohong kepada wapres!!! oke lah kita nafikan siapa sih itu jusuf 
kalla...anggaplah dia bukan siapa2 seperti halnyasaya...mereka BERANI 
BERBOHONG..dan kebohongan itu tidak terjadi secara alamiah...terstruktur pak 
mahatmanto...GTM itu bukan basa-basi...memang ada di sana...percayakah anda 
kalau saya katakan mereka juga tidak menyampaikan "THE WHOLE TRUTH" kepada 
orangtua mereka?? dengan alasan supaya orang tua tidak khawatir...

kalau memenag akhirnya terbentuk opini : bubarkan atau rombak fundamental 
ipdn...bagus dong...artinya memang ada kepedulian banyak pihak terhadap BUDAYA 
KEKERASAN (yes bung loekyh...itu sudah membudaya..ini bukan saya yang bicara, 
tapi praja2 di ipdn..) di ipdn dan KELANGSUNGAN LEMBAGA pendidikannya...saya 
rasa harus dipisahkan antara keduanya..

untuk BUDAYA KEKERASAN-nya, ya buat saya gak ada pilihan lain selain dipangkas 
habis...sementara untuk KELANGSUNGAN LEMBAGA, masih bisa di perdebatkan 
lah...kalau memang fungsinya bisa dikembalikan menjadi sekolah pemasok pamong 
praja, ya why not dipertahankan...dengan asumsi telah terjadi perbaikan yang 
signifikan dalam segala aspek pendidikan maupun para pengajarnya...(ini tugas 
pak ryaas rasyid untuk ngubek2...percayalah, beliau lagi pusing berat sekarang 
)...di bubarkan ya juga gpp...toh banyak perguruan tinggi yang memilki jurusan 
ilmu pemerintahan..saya rasa argumen ini sudah banyak disampaikan teman2 yang 
lain dalam postingan sebelumnya...logikanya, mereka-mereka yang masuk ipdn, 
seharusnya punya "nilai lebih" dibandingkan mereka yang kuliah di jurusan ilmu 
pemerintahan di perguruan tinggi biasa...tapi kalau ternyata kompetensinya di 
bawah mahasiswa ilmu pemerintahan di di perguruan tinggi biasa...ya apa gunanya 
segala fasilitas dan jaminan menjadi PNS yang mereka
 punya??

anyways..kembali ke kalimat awal saya...kenapa terus2an di tayangin??? supaya 
berhenti pak...supaya tidak terjadi lagi pak...supaya 4 tahun mendatang, atau 
kapanpun dimasa datang, kita gak dengar lagi ada pelajar tewas sia-sia 
digebukin seniornya...itu yang ada di benak saya...

salam,
--gst.

----- Original Message ----
From: loekyh <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, April 21, 2007 10:18:19 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Inu Kencana PERNAH MEMUKUL PRAJA IPDN

--- In Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com, "mahatmanto" 
<[EMAIL PROTECTED] .> wrote:

> Hmmm, sebentar... Siapa sih yang diuntungkan
> dengan perombakan IPDN ini? dan mengapa pak
> inu seperti 'dipahlawankan' ?

L: Hmm juga, argumentasi anda berdasarkan PRASANGKA yang tidak bisa 
dijamin kebenarannya, bukan berdasarkan permasalahan inti di IPDN 
(adanya KEKERASAN di IPDN). Jelas pembahasan anda sangat subyektif.

Alasan2 obyektif thd usulan perombakan IPDN harus berdasarkan pada 
alasan2 MASIH ADANYA (budaya?) kekerasan di IPDN, lepas dan tak ada 
kaitannya dg ada atau tak adanya pihak yang diuntungkan oleh 
perombakan IPDN. 

Apa pun motif Inu Kencana (baik atau buruk), aparat harus 
mendengarkan dan menggali informasi yang bisa diperoleh dari Inu dan 
keharusan ini tak perlu dikait-kaitkan dg ada atau tak adanya pihak2 
yang diuntungkan. Apalagi kalau polisi kesulitan menggali info dari 
orang2 dalam IPDN yang lain.

Kalau kurang jelas, saya beri contoh lain (tak terkait dg IPDN): 
Perombakan kabinet oleh SBY haruslah berdasarkan alasan2 obyektif 
(mis. kinerja menteri), bukan berdasarkan alasan2 subyetif (mis. 
bagi2 keuntungan pada parpol2 yang 'berjasa').

Apakah anda berpikir alasan2 perombakan IPDN adalah agar Inu Kencana 
bisa mendapat keuntungan (jadi rektor, he, he, he)? 

> Kayaknya, departemen dalam negeri emang 
> sedang diaduk-aduk: mendagrinya 'diistirahatkan'

L: Kentara sekali keberadaan prasangka anda dari kalimat di atas. 
Anda menyangka ada 'pihak2' yang sedang mengaduk-aduk Depdagri 
(untuk apa?). 

Saya bisa memastikan bahwa kalimat anda di atas salah karena publik 
sudah diberi informasi bahwa mendagri BUKAN diistirahatkan, tetapi 
memang TERPAKSA HARUS ISTIRAHAT (dan mungkin seumur hidupnya harus 
banyak istirahat) karena beliau mendapat serangan penyakit yang 
parah (kalau tak salah, di antaranya adl serangan stroke).

> sekarang sekolah calon camat seindonesia ini
> juga sedang dirombak dengan menggunakan opini 
> publik tentang kekerasan yang berlangsung di dalamnya.

L: Opini publik yang mana, ada kekerasan di IPDN? Apakah anda 
menganggap opini publik ini salah, jadi TAK ADA kekerasan di IPDN 
sehingga IPDN tak perlu dirombak? Sering2 lah nonton berita, bukan 
hanya sinetron, untuk memonton semakin banyak terkuak mantan2 praja 
yang lari, sakit (termasuk sakit jiwa), bahkan mati dg dugaan kuat 
akibat siksaan2 seniornya. 

> Pers [khususnya tivi] dibiarkan menyiarkan berulang
> -ulang kekerasan [yang itu-itu juga] untuk 
> membangun opini tertentu dari publik tentang
> lembaga ini, yakni: bubarkan atau rombak IPDN.

L: Apa kepentingan pers dg mendukung opini pembubaran IPDN? Itu kan 
opini publik. 

Menurut saya, OPINI POSITIF yang berhasil dibangun oleh pers adalah 
KEKERASAN (DI DALAM KAMPUS) TAK BISA DITOLERIR, biar pun lambat 
(kasus2 kekerasan lama di IPDN misalnya) pada akhirnya tetap akan 
diusut dan diadili.

> Emangnya hanya IPDN saja yang ketika MOSPEK
> menggunakan kekerasan? Rasanya banyak lagi 
> deh... 

L: Seperti tulisan2 saya sebelumnya, memang banyak kasus2 kekerasan 
di tempat2 lain, baik yang mengatas-namakan institusi atau mengatas-
namakan agama. Tetapi kasus IPDN memerlukan perhatian khusus sebab 
banyak indikasi penyebabnya adalah pada sistem institusi dan 
manajemen IPDN (bahkan mungkin Depdagri), jadi tidak bersifat 
individual (bukan cuma pelaku pemukulan saja yang bersalah).

> Ditonjolkannya kekerasan di IPDN oleh pers [dan
> dibiarkan saja oleh pemerintah tanpa ada usaha
> mencegah] rasanya cuma alasan untuk merombak
> institusi ini. Tapi, untuk apa? Saya tidak tahu. 

L: Eeeit, sepengetahuan saya, pemerintah tak punya kewenangan 
mencegah, apalagi menghentikan, suatu siaran atau tayangan. Kalau 
tak setuju, pemerintah atau anda bisa protes ke komisi penyiaran 
KPI, pihak yang lebih berwenang (setau saya).

> Apakah ada hubungannya dengan pemulusan program otonomi daerah yang
> selama ini macet dan tidak jelas? 
> Ah, elite lagi yang bertikai. Kita cuma ribut di riak-riaknya. ..

L: Apa hubungannya dg otoda? Apakah keluarga Clif dan pers yang 
ikut 'ribut' termasuk pihak elit?

Salam




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke