Kalau saja semua orang mau bermain sesuai aturan, tak akan ada komplikasi macam 
begini. Yang saya sayangkan justru tndakan teman Anda. Dia diberi wewenang dan 
otoritas untuk menindak, malah manut aja pada kepsek yang nggak bener itu. Ya 
jangan heran jika tiap tahun nanti kejadian yang sama akan terulang lagi dan 
lagi dan lagi...
   
  Kalo orang nyontek, nggak usah pake alasan kemanusiaan segala untuk tidak 
menindaknya. Wong punya HP segala kok, kurang apa lagi? Laen halnya kalo orang 
kelaparan dan terpaksa nyolong jemuran. Bolehlah dihukum tapi jangan lupa 
ditolong juga. Lha nyontek? Apanya yang 'kemanusiaan" di sini? Mau ditolong 
gimana?
   
  Soal UN, sudah pernah diperdebatkan di milis ini sampai lidah keriting. 
Seperti biasa, selalu ada yang menolak dan mendukung.
   
  manneke

Agustinus Supriyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Melalui milis ini saya meminta pedapat pembaca mengenai Ujian 
Nasional tingkat SMA yang diselenggarakan minggu yang lalu. Kawan saya, seorang 
guru, bertugas sebagai pengawas UN di SMA Negeri I Semarang. Pada saat ujian 
hari kedua (mata uji Ekonomi), seorang peserta ujian ketahuan membawa handphone 
karena handphonenya jatuh. Setelah diambil oleh pengawas, ternyata isinya SMS 
jawaban ujian. Ketika hal ini dilaporkan kepada kepala sekolah SMA NEGERI I 
SEMARANG, beliau hanya mengatakan bahwa kasus ini tidak perlu diperpanjang. 
Dilihat dari sisi pendidikan, tindakan kepala sekolah sangatlah memalukan 
karena melindungi yang salah. Sedangkan tim pemantau independen yang 
ditugaskan, terkesan tunduk pada sekolah dan bukan pada aturan dan kejujuran. 
Inikah yang disebut sebagai pendidikan ataukah ini model mafia pendidikan. 
Sayang, kawan saya tersebut tidak menyita kartu perdana tsb. dengan alasan 
kemanusiaan sehingga tidak mempunyai bukti lagi. Yaah, inilah wajah pendidikan
 di negara
kita. Mohon tanggapan dari anggota Forum Pembaca Kompas.

Priyo- Semarang

Kirim email ke