Salam Kenal,

Saya punya pengalaman yang sama dengan adik-adik yang dipukul gurunya ini.
Kejadiannya ketika saya masih sekolah di SMP Negeri  Pematang Siantar di
Sumatra Utara sana. Waktu itu kalau ga salah, soalnya udah lama sekali
hampir 20 tahun yang lalu, saya terlambat masuk sekolah. Dan biasanya memang
ada hukuman yang diberikan kepada anak didik yang terlambat. Hukumannya
adalah kalau tidak membersihkan kamar mandi, menghormat bendera selama dua
jam pelajaran di lapangan upacara yang tepat berada ditengah-tengah barisan
ruang-ruang kelas yang membentuk hurur U. Jadi ketika kita dihukum,
setidaknya ratusan murid lain yang sedang belajar akan bisa melihat.

Pagi itu saya mendapatkan hukuman menghormat bendera selama dua jam
pelajaran,kurang lebih 90 menit. Saya bersama dengan teman-teman yang lain
yang juga terlambat menghormat bendera. Ketika lagi menengadah, tiba-tiba
saya merasakan betis saya kesakitan yang teramat sakit karena dipukul dua
kali, seingat saya, oleh guru Pak Purba, dengan bambu belah yang biasanya
dipakai untuk pagar. Beliau memukul betis semua murid yang terhukum baik
laki-laki dan perempuan. Dengan menahan sakit, pegal leher dan malu diliatin
temen2, aku tetap menghormat bendera.

Yang kemudian terjadi dan terbentuk adalah rasa dendam. Aku sejak itu
berjanji akan membalasnya ketika aku punya kesempatan dan badanku jadi gede.
Aku bahkan sampai hari ini masih mendendam kepada guru tersebut. Apalagi
badan aku udah gede, tinggi 178 dan berat 80 kg mana rajin lagi fitness
sehingga berotot. Tapi ketika beberapa tahun yang lalu aku pulang kampung
dan melihat guru itu lagi, maksudnya pengen balas dendam gitu, aku jadi ga
tega. Mereka udah pada tua dan mungkin sudah melupakannya. Tapi sampai
sekarang saya tidak bisa menerima perlakuan sang guru tersebut. Masih ada
dendam.

Tapi yah sudahlah. Sementara rekor yang saya pegang untuk dipukul guru, yang
saya ingat adalah:

SD - seingat saya 1 kali oleh guru matematika pak Nababan - dulu dendam
sekarang sudah tidak
SMP - seingat saya dua kali satu pak Nadeak dan satu lagi pak Purba itu -
masih marah.

Untung SMA pindah ke Bandung, jadi tidak mengalami pemukulan fisik dan
untungnya tidak masuk STPDN alisan IPDN.

Thanks

Rinsan Tobing

On 4/18/07, Heratwan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Lagi2 kekerasan di negri tercinta ini? coba tanya siapa ???
> jangan2 guru yang bernama Suhada ini pernah DO dari IPDN hingga stress
> berat karena gak bisa jadi lurah atau bupati (heee...heee..heeee). Mau
> dibawa kemana arah pendidikan anak2 kita ini? Mau jadi preman? atau mau jadi
> manusia2 "yes man"?
>
> Sekali lagi, mesti di pecat tuh guru apapun alasannya. Sudah seharusnya
> kita suarakan bersama bahwa apapun bentuk pemberian hukuman physik harus
> dilarang dan diberikan sangsi yang seberat-beratnya kepada pelakunya.
>
> salam
> Her

Kirim email ke