Kenapa kita membenci Israel? Bukankah kebencian akan menjadi bara yang akan
terus membakar perdamaian? Apakah Israel sebagai negara atau Israel sebagai
agama (Yahudi). Mengapa kita harus membangun demarkasi berdasarkan agama.
Bukankah semua agama penyeru perdamaian? Mungkin kalau saya orang Palestina
akan membernci setengah mati israel. Tapi kita sebagai bangsa, mengapa harus
membangun kebencian yang sama terhadap Israel, sebagaimana rakyat palestina
membencinya. Bukankah dengan kebencian kita tak pernah bisa berbuat apa-apa
untuk mendamaikan Israel-Palestina. Kita hanya bisa mendekati Palestina, tapi
tidak dengan Israel. Mana mungkin perdamaian harus dilakukan secara sepihak?
Mari kita akhiri kebencian demi perdamaian....
salam,
raja
Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Soal hubungan dgnIsrael ada lg yg menarik, yaitu sidang antar
Perlemen di
Bali.. yg akan dihadiri juga wakil Australia..
Jd ingta kebijakan menolak Israel di Asian Games 4..
yang masih disikapi konsisten tahun lalu, ketika melarang tim tenis putri
Indonesia ke Israel, yang akibatnya cukup fatal baikkrn didendaa maupun
turn kelas...
Eh sekarang seiring dgn perubahan jaman termausk persetujuan resolusi kpd
Iran... Indonesiia semakin tundukpada "barat"
Karena sy pencinta tenis... sedih rasanya melihat tim tenis putri
dikorbankan......
Kalao mau tunduk kenapa nggak dr tahun lalu ?? ...
kasihan Indonesia..
Salam
Haniwar
At 08:19 PM 4/23/2007, you wrote:
>Kalau saya tak salah ingat, Indonesia pernah menolak seorang calon
>dutabesar AS (sebelum Paul Wolfowitz) karena sang calon tersebut
>berdarah Yahudi. (Saya tak tahu apakah ia juga memegang paspor
>Israel atau tidak). Penolakan tersebut dilakukan, terutama karena
>banyak politisi di DPR yang meributkannya.
>
>Kalau cerita Wikipedia yang disampaikan oleh Satrio Arismunandar ini
>benar (Paul Wolfowitz memegang paspor Israel--disamping paspor AS),
>lha, ngapain saja itu para politisi?
>
>Tapi, ya sudahlah, Paul Wolfowitz tokh adalah salah satu dubes AS
>yang paling populer di Indonesia.
>
>L
>Former foreign policy adviser Dewi Fortuna Anwar told ABC News that
>Ambassador Wolfowitz "was extremely able and very much admired and
>well-liked on a personal level, but he never intervened to push
>human rights or stand up to corruption."
>
>SUMBER: <http://en.wikipedia>http://en.wikipedia .org/wiki/ Paul_Wolfowitz
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]