] Saya rasa keadilan muncul dr ketidak sama kekuatan..., yang disalah gunakan.. istilah asingnya " abuse of dominant power " , ketika siistri tergantung pd suami.. dan si suami nggak tahu diri... abuse itu bisa terjadi.
Tapi yakin seyakin yakinnya.. hal itu terjadi juga sebaliknya.. disaat si perempuan yg punya posisi dominant hal itu bisa terjadi juga... Makanya dalm kisah seleb perempuan.. banyak kisah artis hebat..uang banyak duit . yang justru menyia nyiakan suami.. termasuk selingkuh duluan... Saya juga tidak setuju soal ini ( abuse of dominant power thf perempuan ) di kaitkan dgn islam , kita tahu di India yg bukan muslimj uga terjadi...begitupun tradisi di negara lain... termasuk negara non muslim.. Sebaliknya.. Islam justru membawa perbaikan posisi perempuan dijazirah Arab dibanding sebelum nabi... Dan bu Musdah juga muslimah.., Gus Dur juga muslim.. Bahkan sejatinya di dunia barat pun , yang tradisionalnya tetap begitu.. Bagi saya pembicaraan kesetaraan.. tentulah diwarnai debat apa itu setara... , yang bisa aja spt bandul yg bergeser ke ekstrim kiri atau kanan... Di keluarga saya itu bukan masalah............... , kakak sulung sy yang kebetulan menjadi orang yg paling dihormati di keluarga, ayah saya mengatas namakan rumahnya di nama analperempuannya, krn yakuin perempuan bisa lebih adil dalam pembagian waris di banding adik laki lakinya. Jadi bagi saya .. kekuasaan bisa jadi racun.. dan perempuan yg pegang kuasa pun bisa cenderung melakukan itu..bila nggak diiringi akhlak mulia... teman sy bilang..kebenaran itubis amilik kita tapi bisa juga milik orang lain.... kata dibawah ini " seringkali tidak adiladan tidak ada kesetaraan " sungguh debatable... karena seringkali saya lihat jauh lebih banyak yang merasa keadaan diri dan keluarganya OK OK aja tuh... Salam Haniwar At 08:20 PM 4/24/2007, you wrote: >Saya sangat heran, kenapa diberbagai pembicaraan tentang sesuatu yang >menyangkut hak dan kewajiban Suami dan Istri seringkali terasa tidak >adil dan tidak ada kesetaraan hak. > >Saya murni 100% laki-laki, dan saya kok merasa ada beberapa pihak >yang selalu menempatkan perempuan (status dan haknya) dibawah laki- >laki. > >Jadi seolah-olah laki-laki adalah sang penguasa dan perempuan sebagai >pengabdinya, itu kan sangat tidak logis, menurut saya perempuan juga >sama tingkatannya dengan laki-laki, bukannya dibawah laki-laki. >Cobalah melihat ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh laki- >laki yang dapat dilakukan perempuan, misalnya hamil. Tanpa perempuan >emangnya laki-laki bisa meneruskan keturunannya? tidak bukan? > >Dinegara Eropapun yang saya tahu, tidak ada perempuan yang mau untuk >menjadi istri untuk seorang yang otoriter dan penuh arogansi. >Kebanyakan orang yang arogan terhadap perempuan ini mengatasnamakan >ajaran agama tertentu untuk pembenarannya, SUDAH BUKAN JAMANNYA lagi >Bung !!! > >Saya baru dengar cerita seorang teman yang menjadi istri orang Arab >(Saudi Arabia), dia bercerita untuk keluar rumah saja harus >mendapatkan surat resmi dari suaminya dan ditunjukkan kepada pihak >berwenang supaya tidak ditangkap. Akhirnya dia dengan segala upaya >yang sangat panjang bisa lepas dan pulang ke Indo (mau cerai aja >susah). IRONIS sekali hukumnya. > >Memangnya PEREMPUAN itu sama dengan BINATANG? > >Tidak sadarkah kalau laki-laki itu juga LAHIR dari SEORANG WANITA? > >Marilah kita mencoba (kalau merubah nanti dikira tidak taat Agama) >untuk tidak memperlakukan kekerasan dan intimidasi terhadap >perempuan, termasuk membatasi haknya, berikanlah hak yang sama dengan >yang didapat laki-laki. > >Salam >Cahyadi > >
