Pak Haniwar,
Maka tetap lah mengikuti milis FPK saja, gak perlu lagi ikut milis tetangga,
soalnya dimilis FPK ini semua opini dan argumentasi nya:
TEGAS; CERDAS dan BISA DIPERCAYA, serta bisa di-ikuti oleh semua golongan dan
umur. Artinya milis FPK ini PLURALIS.
Anggotanya ada perempuan yang aktif menanggulangi tentang PEREMPUAN - mbak
Mariana; yang ahli dalam EKONOMI seperti Ibu Binny Buchori; ada juga mbak
Fauziah yang tinggal diseberang dan sangat cerdas dan jeli. Dan
perempuan-perempuan yang lain yang meneruskan perjuangan Kartini. Tetapi kami
tidak ANTI Laki-laki.
Para Perempuan di milis FPK ini juga tidak pernah meragukan kepentingan dan
keberadaan laki-laki, kecuali jika para laki-laki sendiri yang memulai
meragukan keberadaan perempuan, seperti Pak Iwan; Pak Bungaran dan Pak Andy,
dll.
Dibagian LAKI-LAKI nya ada pak Manneke - yang bisa cuek; jutek tapi penuh
dengan akal yang brilian dan juga parody yang menyegarkan.
Dan masih banyak lagi seperti: Pak Mulyadi yang memperjuangkan hutan di
Kalimantan; Pak Loekyh; Mas Radityo; ada pak Haniwar sendiri; Mas Budi (Ibud)
yang aktif anti korupsi dan pemimpin busuk , dan ada mas Totot yang berkutat di
Gramedia.
Juga ada Mas Agus (moderator kita); pak Bambang di Belanda; Pak Gaffar di
Australia; pak Edi di Jerman dan juga bapak Sensei di Houston. DLL nya.
Dan kita beruntung bahwa tidak ada Uztad yang melarang-larang perempuan
bekerja di milis FPK kita. Bisa-bisa mbak Mariana enggak bisa tidur soalnya
harus menulis opini nya setiap saat untuk menjelaskan bahwa kedudukan PEREMPUAN
dan LAKI-LAKI itu sama dan sederajat.
Hanya kita diciptakan untuk saling menunjang; jadi setiap mahluk itu punya
kelebihan dan kekuranagn nya sendiri-sendiri. Orang Jawa kalau mengatakan:
"Tumbu oleh Tutup" itu artinya saling melengkapi. Tidak kurang dan tidak lebih!
Jika sang Perempuan yang diberkahi bisa menyumbangkan hasil lebih tinggi dari
sang Laki-laki, itu memang sudah diatur dari SONO nya, pak. Jadi enggak usah
para laki-laki merasa direndahkan, ataupun merasa kurang tanggung jawabnya.
Gitu aja ya pak Haniwar, -:) jangan selalu bingung mendengarkan milis
tetangga dan membandingkan nya dengan milis FPK. Malahan bisa-bisa enggak punya
pendirian sendiri nanti nya, pak? Hehehe...
Salam,
Yuli
Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya suka takut dimarahi.. dimilis sana sy sering dimarahi krn
pendapat
saya.. .al ttg setuju istri kerja..., kalo bisa dimilis sini ya jangan di
marahi lagi ..., apalagi oleh Bu Mariana.. :)
Di milis sana sy, malah kabur.. krn bosan dimarahi... moga2 disini nggak
perlu kabur..
Maklum da pengalaman traumatis :( .. malas deh di galakkin.. enaknya adu
argumen aja..
soal ijin suami... ya sebenarnya harus selalu ada ijin biar enak,, termasuk
juga ijin istri utk hal tertentu bagi suami .. saya pernah mau masuk suatu
partai tertentu.. dilarang istri ya... nurut..
Soal istri kerja ya , perlu ijin lah.., kan ada konskwensi, jaga anak
misalnya , umumnya suami akan berkata .. sy beri ijin asalahal spt itu
sudah juga terpecahkan. Dalam kasus saya, krn sy wiraswasta dan dia
"pegawai ". maka ada beban yg teralih ke saya.., misalnya urus anak
kesekolah ( ambil rapot, atau di panggil krn anak nakal ) atau bahkan nyuci
piring dan ngepel, nyiapin sarapan anak.. kalo pembantu lagi nggak ada,
lha dia harus berangkat sebelum matahari terbit kok kalo mau nggak
terlambat kekantor..Sering lho pembantu nggak ada itu..
Tapi ada hal penting lain...
kata pak Uztadku .menurut Islam yang beliau pahami .. istri boleh kerja
jika ada ijin dan restu suami...nah ini jangan dimarahi lagi .oleh Mas Luky
..krn bawa bawa pandangan agama.dalam diskusi disini .. kan manusia itu
harusnya cuma melaksanakan perintahNya dan menjauhkan diri dari
laranganNya..amar maruf nahi mungkar..... ya sesederhana itu
. Kalo dimilis tetangga, ada uztad nya yang malah berpendapat sama sekali
nggak nggak boleh..:(
Jadi aku yang tengah tengagh aja... mendukung dgn syarat ijin dan restu...
, seperti dalam banyak kegiatan ekstra aku juga minta ijin dan restu kok
dr nyonyaku.., nanti dia merasa di sia siakan.. suaminya sok sibuk terus..
Salam
Haniwar