Yang sakit itu kalau kebanyakan.. lalu dipihak lain kurang ruang publik terbuka ,jalan, trotoar..
Jakart aini sudah banyak mall yang masih kosong,ahkan yg ITC cempaka Mas masih banyak yg tutup kiosnya, apalagi Kepagading Trade Center.. Toko nggak nambah penawaran.. jadi yg perlu justru investasi di industri..., disitu lalu muncul.. mulai dr pegawai bahan baku itu pabrik.. , pegawai pabrik.. sampai ke tokoyangjual.. kalo sekarang Mall yg kebanyakan itu malah jual produk Cina dan asing lainnya.. Apalagi.. kalo udah ada Care4.. abis deh peretail lokal.. Nyumbang APBD.??. mungkin ya.. sambil bunuh rakyat kecil khususnya peretail kecil.. Lha kalau pentas gratis di buat di taman yg asri.. kanmalah semua lapisan rakyat bisa lihat... Aduh... sedih deh kalo orientasi nya keatas melulu.. Lupakan si kecil Salam Haniwar At 07:46 PM 4/25/2007, you wrote: >Saya kok kurang sependapat dengan opini Senor Enrique. >Dalam kondisi Indonesia saat ini, dimana tingkat pengangguran sangat >tinggi, makin banyak mal yang dibuka justru makin baik, karena bisa >menyerap lapangan kerja formal dan informal, menyumbang APBD, dll. > >Bagi masyarakat urban Jakarta, mal justru telah berubah menjadi tempat >untuk bersosialisasi sekaligus berekreasi. Pengelola mal juga makin giat >menyelenggarakan event-event sosial dan budaya termasuk pentas musik >gratis yang dapat dijadikan wadah penyaluran kreatifitas seni anak-anak >muda kita. > >Saya bukan membela para pengelola mal. Namun jujur saja, kalau di Jakarta >misalnya dikeluarkan larangan membuka Mal di tengah kota, saya rasa kota >ini justru kehilangan pesonanya. Dan masyarakat yang tak punya hiburan >(baca : mal) justru berpotensi menjadi masyarakat yang "sakit", dan >ekstrimnya bisa saja berubah menjadi si Cho dengan aksi Virginia Tech >Massacre-nya. > >Salam.
