Sangatlah menyedihkan kejadian yg dialami oleh para guru pengawas di
Kota Medan itu. Kontroversi memang masih menjadi ritual pendidikan
tahunan yang bernama UN. Ritual yang berbiaya bermiliaran rupiah. Saya
tidak akan masuk ke ranah perdebatan pro-kontra UN yg menghabiskan
tenaga itu. Saya hanya ingin berbagi pengalaman selama saya menjadi
pemantau independen. Kebetulan, kampus saya ditunjuk sebagai
koordinator Tim Pemantau Independen di Kota Bandung. Saya pun
ditugaskan utk memantau UN di SMPN 42 Kota Bandung. 

Pengalaman menarik terjadi pada hari kedua. Pada hari itu, terjadi
ketidaklengkapan soal paket A. Dari 15 kelas, hanya 2 kelas yg
memiliki soal-paket A yg lengkap. Selanjutnya, pihak sekolah
menggandakan soal di SMP lain yg kebetulan memiliki mesin cetak dan
fotokopi. Sekitar setengah jam kemudian, soal-soal yg digandakan itu
datang. Dan, waktu bagi siswa pun ditambah sekitar 20 menit. Saya
merasa kasihan kepada siswa yg sudah pasti terganggu konsenterasinya. 

Saya sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa kelalaian seperti itu
terjadi? Padahal, hajatan UN sudah merupakan ritual tahunan. Dan
ternyata, kejadian itu juga dialami oleh beberapa sekolah lain, baik
di Kota Bandung dan kota-kota lain. Kejadian itu kebetulan dialami di
Kota Bandung, saya tidak dpt membayangkan bila itu terjadi di sekolah
yg terletak di pedesaan, jauh dari teknologi bernama mesin cetak &
fotokopi. Siapa yg dapat digugat? Siapa yg bersalah? Apakah,
pemerintahan provinsi yg tidak becus dlm menunjuk pihak percetakan?
Atau, pihak percetakan sendiri? Yg jelas, korbannya adalah siswa dan
guru yg sudah mempersiapkan diri menghadapi ritual tahunan bernama UN
itu! 

Salam,

Patrick Hutapea
Mahasiswa  S1 Ilmu Hubungan Internasional
Fisip – Universitas Katolik Parahyangan Bandung 



--- In [email protected], "loekyh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya percaya keberadaan sindikat (kepala2) sekolah yang membantu 
> anak2 didik sendiri lolos UN. Kalau kecurangan dilakukan secara 
> sistematis, ini versi 'kasus IPDN' dalam bentuk lain.
> 
> Ini bukan cuma cerita lama yang berulang dan bertambah keras 
> gaungnya, tetapi juga indikasi kecurangan UN yang semakin merata dan 
> membudaya, baik ditinjau dari banyaknya lokasi kejadian kecurangan 
> atau dari status dan posisi para pelaku2-nya. 
> 
> Salam


Kirim email ke