Saya gak yakin mas kalau pemda kita punya pikiran ke sana... PEMDA kita itu cuma mikir.. gimana caranya dalam waktu 5 tahun jabatan bisa mengeruk kekayaan untuk 5 turunan. Jadi semacam babak bonus gitu deh.
Jangan heran kalau akhirnya setiap proyek itu selalu tendensinya jangka pendek dan cukup menjawab sementara waktu aja. Perhatikan saja.. dari semua solusi pemerintah / pemda.. semua berjangka pendek.. gak ada tuh yang berfikir manfaatnya bisa 20 tahun ke depan. Jadi kalau mau memperbaiki pasar, boleh.. asal cukup untuk setahun ini saja, tahun depan musti ajukan proposal perbaikan lagi.. dua tahun mendatang juga ajukan lagi.. JADI.. setiap tahun pemda dapat komisi terus.. Nah.. kalau ada yang punya usul cukup memperbaikinya setahun saja dan manfaat dari perbaikan itu bisa sampai 5 - 10 tahun.. saya jamin pasti proposal itu DITOLAK! Hahahaha.. abis nanti tahun depan gak dapat komisi lagi Motulz kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kalau ada Pemda yg bangga kalau sudah punya banyak Mall lalu Pasar Tradisionalnya "tewas"....sebenarnya yg kumuh adalah isi kepalanya Pemda,sehingga tidak bisa berfikir dan membuat rencana jangka panjang bagi masyarakatnya secara keseluruhan. Kapan ya kita punya FM Road (Farm to Market)......saat ini kenyataan itu ada lho, sayang tidak dikelola dengan benar, malah dijadikan dijadikan PAD Oknum, coba lihat di Pasar Minggu, Ciputat, Kramat Jati atau tempat2 lainnya....Para Pedagang buah sayur, ikan pada berjualan dipinggir jalan dan mengakibatkan jalanan macet luar biasa. Kenyataan bahwa kegiatan itu ada kan harusnya dikelola, ditingkatkan sehingga saling menguntungkan karena kwalitas sayur, buah ikan yg dijual semakin lama semakin baik, dan jalananpun tidak macet karena kegiatan mereka. Lalu penerangan yg dipergunakan juga legal, saya tidak tahu bagaimana gerobak2 dorong yg dipakai jualan buah hampir semuanya menggunakan listrik dari PLN? Penggunaan penerangan ini seharusnya sih wajar2 saja, kalau cara mendapatkannya juga legal. Demikian juga penggunaan sebagian jalan untuk berjualan dan membuat macet jalan tentunya merugikan para pengguna jalan lainnya. Itulah kontradiksi2 yg gampang kita jumpai diberbagai kota2 di Indonesia, sehingga kita tidak bisa membedakan lagi antara Surabaya, Bandung, Jakarta, Depok, Makasar, Tangerang, semuanya punya Hypermarket yg sama dan punya penyakit yg sama pula.... Penginnya bergaya hidup ala Barat namun kalau bisa sambil lesehan.... Salam Kukuh Kumara
