Sementara air untuk petani makin langka karena perubahan iklim, 
kerusakan lingkungan dan bertambahnya pengguna. Perubahan iklim 
bukan karena kehendak Tuhan tetapi akibat ulah manusia, kerusakan 
hutan memperkecil debit kemarau sungai dan memperbesar dan 
mempersingkat debit musim hujan mengakibatkan air irigasi tidak ada 
waktu dibutuhkan, bibit padi yang butuh air sedikit tidak 
dikembangkan. Air yang turun temurun oleh petani disadap oleh 
perusahaan industri dan air minum yang mestinya membuat waduk untuk 
menampung air banjir. Pupuk kebanyakan dipakai perkebunan sedangkan 
petani hanya kebagian pupk palsu. Harga beras selalu ditekan oleh 
Pemerintah melalui Bulog hanya untuk menstabilkan politik bukan 
untuk meningkatkan kehidupan petani. Sementara hasil sawah di negeri 
maju di atas 10 ton/ha, di mari tetap saja berkisa. Karena bertani 
tidak menguntungkan sawah subur di Jawa dijual agar bisa beli oyek 
yang sekilas menjanjikan. Pembangunan jalan Tol di Pantura akan 
makin memperluas konversi sawah ke industri dan perumahan. 
Industri tidak menambah pangan untuk petani, tetapi hanya 
mengolahnya untuk kepentingan non petani. Harga produksi pertanian 
makin tidak sebanding dengan harga kebutuhan petani sehingga mereka 
beralih professi. r 2-4 ton/ha sehingga untuk memberi makan penduduk 
beras harus diimpor. 


rzain


--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Jakob Sumardjo
> Esais 
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/28/opini/3461205.htm
> ==============================
> 
> Sejak dulu, Indonesia hidup dari pertanian dan berjaya dengan
> pertaniannya. Sebelum kolonialisasi, Indonesia menjadi pengekspor
> beras di Asia Tenggara. Kini kita menjadi pengimpor utama beras 
dari
> Asia Tenggara. Indonesia telah lama membunuh para petaninya.
> 
> Dalam pikiran sederhana, dari mana bangsa ini menyandarkan
> kehidupannya? Katanya, negeri ini kaya-raya alam tropisnya. Namun,
> mengapa bencana kelaparan dan kurang gizi selalu terjadi. Kapan
> sejarah hongeroedem alias busung lapar mulai terjadi di Indonesia?
> Seperti istilahnya, bahaya kelaparan terjadi pada zaman kolonial, 
saat
> kaum penjajah mengubah pertanian sawah menjadi industri pertanian.
> Sawah diubah menjadi ladang tembakau dan ladang tebu. Abad ke-19.
> Culturstelsel. Saat itulah petani dibunuh budayanya.
> 
> Mimpi negeri industri
> 
> Hingga kini, pikiran kolonial itu tetap dilanjutkan. Ambisi kita
> adalah menjadikan Indonesia sebuah negara industri raksasa, 
berlomba
> dengan negara-negara industri di dunia. Industri pertanian telah
> dibuktikan penjajah, memberi keuntungan luar biasa di pasar dunia.
> Kekayaan pertanian dan pertambangan Indonesia diangkut ke Eropa.
> Rakyat Indonesia pun cukup dihibur dengan Politik Etika.
> 
> Setelah kemerdekaan, industri pertanian dan pertambangan hanya
> dilanjutkan, tidak dikembangkan. Maka, mitos sebagai bangsa pemalas
> ada benarnya. Dari dulu hingga kini, kebun-kebun teh di Jawa tetap
> merupakan hasil pemikiran kolonial, dan tak ada kebun-kebun teh 
baru.
> 
> Petani sawah pun disingkirkan sehingga untuk memenuhi kebutuhan 
makan,
> bangsa ini mengimpor dari negara-negara tetangga yang luasnya lebih
> kecil dari Indonesia. Vietnam dan Thailand adalah pemasok beras 
untuk
> Indonesia yang katanya agraris ini.
> 
> Pulau-pulau yang luas dan subur ini tidak mampu memberi hasil
> pertanian untuk dimakan rakyatnya sendiri. Mereka yang masih setia
> bertani dianggap kelas paria yang harus ditingkatkan martabatnya
> menjadi pegawai negeri. Sawah-sawah di Jawa disulap menjadi
> pusat-pusat industri patungan luar negeri. Petani pun didesak 
menjadi
> penganggur. Anak-anak petani memilih menjadi TKI di luar negeri 
karena
> tidak mampu bersaing dengan kaum terdidik di kota-kota.
> 
> Bangsa ini telah membunuh para petaninya sejak adanya industri
> agrikultur tahun 1830. Sumber hidup bangsa yang telah berabad-abad 
ini
> dimatikan oleh kaum penjajah pada abad ke-19, dilanjutkan bangsa
> sendiri setelah kemerdekaan. Kaum tani berarti kaum desa yang
> berkonotasi "rendah", "bodoh", "miskin", atau ndeso. Semua anak
> sekolah di Indonesia tidak mau menjadi ndeso lagi, tetapi mau 
menjadi
> priayi birokrasi di kota-kota.
> 
> Dari mana gaji para priayi diperoleh? Di zaman kerajaan-kerajaan
> agraris, sumber gaji pegawai keraton dan bupati adalah sawah 
petani,
> tetapi kini diambil dari utang luar negeri yang maksudnya untuk
> industri. Belum dihitung berapa besar utang luar negeri dikorup 
oleh
> para penjabat.
> 
> Jadi, dari mana bangsa ini menghidupi dirinya? Dari ekspor? Apa 
yang
> mau diekspor? Hasil hutan yang di zaman dulu berupa rempah-rempah?
> Hasil pertambangan yang patungan? Hasil pertanian seperti di zaman
> dulu? Atau ekspor tenaga manusia tingkat rendahan? Apakah akan 
hidup
> terus dari utang luar negeri? Bagaimana membayarnya? Dengan menjual
> pulau-pulau kepada negara asing?
> 
> Indonesia dianugerahi kekayaan alam beragam. Orang Indonesia kuno
> lebih arif dalam menyikapi anugerah alam. Mereka mengolah menjadi
> tanah pertanian atau sumber hasil hutan berupa rempah-rempah,
> perkebunan cengkeh, kopi, teh.
> 
> Kini, semua potensi alam itu disia-siakan karena ingin menjadi 
negara
> industri seperti Jepang, Amerika, Eropa. Kecuali Amerika,
> negara-negara industri itu tak bisa lagi mengandalkan hidup dari
> pertaniannya. Dan Indonesia, kaya sumber alam nabati maupun bumi. 
Mata
> kita buta terhadap kenyataan ini. Para petani dibunuh dan anak-anak
> mereka lari ke kota atau luar negeri menjadi orang gajian.
> 
> Setiap jengkal tanah di Indonesia ini subur dengan tumbuhan. 
Hutannya
> banyak. Meski dijarah para pejabat, tetapi masih berpotensi untuk
> dihutankan kembali dan kita tidak melakukannya. Industri hutan
> sebenarnya merupakan sumber penghasilan. Dulu, industri hutan 
semacam
> itu dilakukan penjajah Belanda dalam bentuk hutan-hutan jati di 
Pulau
> Jawa. Mengapa kita tidak membangun kembali industri hutan semacam 
itu
> di bekas hutan-hutan yang digunduli para penjarah?
> 
> Menjadi diri sendiri
> 
> Indonesia tidak harus bermimpi menjadi Jepang atau Amerika. 
Indonesia
> harus menjadi diri sendiri, yakni Indonesia yang agraris. Indonesia
> kembali menjadi petani, yakni petani-petani modern yang mengolah
> kekayaan tanahnya dengan teknologi pertanian.
> 
> Mutakhir Indonesia menjadi pengekspor kembali hasil-hasil pertanian
> seperti berabad-abad lalu yang membuat Indonesia memiliki
> kerajaan-kerajaan besarnya yang disegani di Asia Tenggara. 
Indonesia
> hanya dapat membayar kembali utang- utangnya dengan pertanian. 
Itulah
> sumber hidup sesungguhnya bangsa ini.
> 
> Para petani Indonesia tidak harus ndeso, yang miskin, bodoh, kelas
> tiga. Para petani Indonesia modern adalah mereka yang kaya,
> terpelajar, dan kelas satu di negeri ini. Para pegawai itu hanya
> menyusu hasil pertanian saja. Wilayah Indonesia masih luas. Pulau 
Jawa
> tak bisa lagi diharapkan sebagai sumber masa depan. Jika Amerika 
pada
> abad ke-19 bersemboyan Westward No untuk memperluas wilayah
> pertaniannya, semboyan Indonesia, Hai Luar Jawa.
> 
> Petani-petani Indonesia harus dihidupkan kembali dari kematiannya.
> Kini, petani sedang jatuh karena harga gabah jatuh berat.
> Petani-petani baru Indonesia harus berdasi dan bermobil. Sekolah
> pertanian dan kehutanan menggantikan fakultas hukum dan sosial 
serta
> ekonomi yang tak mampu menjadikan Indonesia kuat.
> 
> Pemikiran Barat, yakni penjajah Belanda, lebih jeli membaca potensi
> Indonesia di dunia modern. Mereka membunuh petani sawah untuk
> membangun industri pertanian, di Jawa maupun luar Jawa. Mungkin 
kita
> tidak menjadi lumbung beras Asia Tenggara lagi, tetapi lumbung
> industri pertanian. Industri dunia masih memerlukan karet, kayu
> olahan, kelapa sawit, minyak kayu putih, teh, kopi, cengkeh, pala,
> merica, dan sebagainya.
> 
> Kebun Indonesia begitu luas.
>


Kirim email ke