Horas Pak Tobing. Menjadi generalis seperti opini Bapak memang tidak salah. Pertanyaannya, apa yang ingin kita cari : Kerja atau Karir? Kalau jawabannya Kerja, maka menjadi generalis adalah alternatif yang baik, karena seorang generalis bisa melakukan berbagai macam pekerjaan, walaupun tidak sampai ke tingkat sempurna. Jenis pekerjaan yang cocok juga sifatnya operasional, misalnya pekerjaan di bengkel sampai jualan es krim.
Tapi kalau pilihan kita adalah Karir, menjadi spesialis adalah opsi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Contohnya, sebuah perusahaan mencari Manajer IT. Pasti salah satu syaratnya adalah: berpengalaman di bidangnya selama "X" tahun. Kalau sang calon punya pengalaman kerja 10 tahun sebagai Manajer tetapi di berbagai bidang (karena dia menganut pola generalis), misalnya sebagai Manajer HRD, Manajer Maintenance dll, kemungkinan besar calon tersebut akan ditolak karena tidak memenuhi persyaratan "spesialisasi" di atas. Nah, sekarang kembali ke laptop, eh, kembali ke kita semua, apakah akan memilih Kerja atau Karir. Salam. ----- Original Message ---- From: Tobing Rinsan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, April 30, 2007 2:33:32 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim Kawan-kawan semuanya, Ini mungkin sudah terjadi kepada kita karena katakanlah bahwa kita hidup di jaman yang salah. Tetapi mudah2an tidak terjadi kepada anak-anak kita. Melihat kepada semua kejadian yang ada di dunia ini, menyangkut ketersediaan energi, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan di atasnya, ketersedian lapangan kerja dan berbagai jenis penyakit yang banyak bermunculan, , maka saya dan istri memutuskan hanya memiliki satu anak, yang menurut orang-orang disekeliling keputusan kami aneh. Anak kami perempuan dan sekarang sudah berumur 9 tahun kelas tiga SD dan bulan Juli ini sudah kelas 4 SD. Saat ini istri saya bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris di salah satu kursus bahasa Inggris dan juga di bimbingan belajar. Sementara saya bekerja di NGO di Aceh dengan sistem kontrak. Pada awalnya gentar juga, karena seteleh habis kontrak kemana selanjutnya. Melihat persaingan yang sangat-sangat keras, saya selalu berfikir apa yang hendak saya lakukan setelah kontrak usai. Saat ini, kami mengikutkan anak kami kursus bahasa Inggris, renang, kumon dan musik. Kami juga menyediakan seperangkat komputer di rumah untuk perkenalannya dengan dunia IT, yang sayangnya sekarang masih digunakan untuk main game. Tujuannya adalah disamping agar membuatnya lebih positif, harapan kami, juga sebagai survival kit-nya di masa depan. Jika suatu saat ijazahnya tidak bisa dipakai lagi mencari pekerjaa, dia masih bisa menjadi pelatih renang, pengajar bahasa Inggris, pengajar matematika ato pun pemusik ato pengajar musik. Saat ini memang saya masih bisa membiayai semua kegiatan anak saya dan berusaha menabung dari gaji saya dan istri. Tapi, bulan Desember ini kontrak saya habis dan belum tahu apakah diperpanjang atau tidak. Beruntung, saya juga menguasai bahasa Inggris karena pernah mengajar di Yayasan LIA selama 9 tahun. Saya berfikir bahwa saya bisa jadi translator paruh waktu, interpreter paruh waktu dan mengajar bahasa Inggris secara privat. Mudah-mudahan saya dan keluarga masih bisa *survive*. Karena untuk berbisnis, saya sudah kapok. Saya telah pernah mencobanya dan tidak kuat dengan persaingan tidak sehatnya belum lagi termasuk aksi-aksi yang merugikan dari orang-orang yang merasa peluangnya dipersempit yang membuat saya bangkrut. Saya berfikir bahwa setiap orang yang ingin *survive* di Indonesia ini haruslah yang multitasking. Setidaknya harus memiliki beberapa kemampuan untuk bisa bertahan. Jika kita hanya menguasai satu keahlian untuk *survive*mungkin akan menjadi seperti bapak-bapak yang kehilangan pekerjaan utamanya yang dulu telah menciptakan zona nyamannya dan tidak siap dengan keadaan sekarang yang tiba-tiba berubah. Sekali lagi, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi *multitasking person*ketika masih mampu. Salam
