Saya setuju Pak Tri, Tapi tepatnya bukan seperti itu. Maksudnya, untuk instansi pemerintah, berapa banyak orang-orang yang duduk pada posisi tertentu adalah orang-orang yang memang berkecimpung di bidang tersebut ? Yang seperti yang saya contohkan, untuk bidang telekomunikasi misalnya adalah orang-orang yang ahli di bidang tersebut. Kalau mau jujur, banyak posisi di instansi pemerintahan kita yang diisi oleh orang-orang yang salah, bukan hanya salah dalam hal moral saja seperti yang selama ini kita rasakan, tapi juga salah dalam hal bidang keahlian.
Saya akui bahwa tidak harus lulusan komputer yang bisa bekerja di bidang tersebut. Dan memang lulusan mana pun sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang paling penting adalah orang tersebut ahli di bidang yang digelutinya itu. Nah posisi-posisi pada instansi instansi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, misalnya tata kota, kita bisa melihat bagaimana hasil kerja mereka. Kalau di sebuah perusahaan swasta, maka hasil akhir menjadi poin penilaian yang sangat penting di samping hal-hal lain tentunya. Tapi dengan hasil yang amburadul seperti itu mereka masih saja dipertahankan di posisi mereka. Contoh instansi lain cybercrime. Berapa banyak personil di sana yang memang ahli di bidang cyber ? (tanpa melihat latar belakang lulusannya dari mana). Dan yang saya maksud dengan ahli di sini, bukan mereka yang cuma ahli menyusun kata-kata indah setinggi langit, tapi praktek. Result, result dan result. Dan di luar dari masalah di instansi, soal ada lulusan yang tidak bekerja sesuai dengan bidang pendidikannya, ah itu menurut saya sudah biasa kok. Semua itu berpulang pada pribadi masing-masing individu. Ada teman saya yang lulusan akuntasi tapi ternyata pada akhirnya tertarik pada dunia pemrograman, akhirnya skrg bekerja di bidang tersebut. Ada juga banyak yang lulusan teknik informatika, tapi ternyata saat masuk kuliahnya hanya ikut-ikutan, dan sekarang pekerjaannya jauh sekali berbeda dengan apa yang dipelajarinya. Bukan begitu pak Tri ? Regards, Paulus T On 4/30/07, Tri Handoko Seto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > pak paulus, > saya kira wajar jika ada pekerjaan terkait dg komputer tidak mesti > dikerjakan oleh sarjana komputer. memang sarjana komputer mestinya jadi > orang yang paling paham tentang seluk beluk komputer. tetapi kenyataannya > kan tidak demikian. kita tidak bisa membedung orang lain untuk belajar > kompter. sehingga banyak pakar2 komputer yg tidak belajar secara formal di > bangku kuliah. kita tidak bisa berpola pikir bahwa kalau kita seorang sarjaa > komputer maka segala perkerjaan terkait komputer adalah milik kita. lagian > kan komputer itu sangat luas. > > jadi, ya harus sabar ya pak heheee.... >
