>
>
> /ReCoding DNA Itu Bagaimanakah Caranya ?/
>
>  
>
>           Memperkenalkan atau membicarakan suatu Konsep memang relatif 
> jauh lebih mudah. Namun berbicara soal bagaimana cara untuk 
> mewujudkannya ternyata jauh lebih sukar dan rumit (cfr. artikel 10 
> Januari 2007, ReCoding DNA dan Memory Reconstruction, di milis 
> Komunikasi Empati@ Yahoogroups.com). Akibatnya, memahami dan menyadari 
> betul akan perlunya perubahan saja ternyata tidak pernah cukup. 
> Semuanya akan menjadi sia-sia belaka apabila orang tidak sekaligus 
> juga diberitahukan (atau langsung dipraktekkan kepadanya) bagaimana 
> praktis untuk mewujudkannya.
>
> Cara konvensional seperti "harus begini, jangan begitu" (Cfr. artikel 
> 9 Maret 2007, Harus Begini Jangan Begitu) lebih bersifat normatif 
> namun sama sekali tidak memiliki nilai praksis.
>
> Misalnya, semua orang juga *sadar* bahwa korupsi itu jahat. Mereka 
> juga *tahu* bahwa mental korupsi harus diubah bila bangsa ini mau 
> terlepas dari krismon yang praktis sudah berlangsung hampir 10 tahun 
> lamanya. Ternyata, bangsa-bangsa lain seperti Malaysia dan Thailand 
> sudah lama pulih dari keterpurukan mereka tetapi bangsa kita tetap 
> saja *tidak berdaya* dan masih terus bergeliat dalam pasir hisap 
> dengan ketidakberdayaannya.
>
>           Paradigm shift dapatkah berubah hanya sekedar dengan cara 
> seperti memutar skakelar?  Samakah mudahnya seperti saat teknisi 
> memutar skakelar listrik PLN. Kemudian orang langsung menikmati 
> listrik Genset pada suatu Mal, Rumah Sakit, pabrik atau hotel hanya 
> dalam bilangan detik bila listrik PLN mati. Semuanya itu hanya dengan 
> cara menaikkan/menurunkan sebuah /toggle switch/ saja yang memang 
> telah disediakan untuk itu?
>
>           Ada pikiran bahwa DNA atau code DNA dapat diubah. Benarkah 
> pendapat ini atau sudah terujikah caranya secara praktek?  DNA itu 
> memuat semua /collective memory/ seseorang dan etniknya dalam setiap 
> gen orang itu. Dapatkah memori ini diotak-atik, diubah atau 
> dilenyapkan? Ternyata tidak. Collective Memory tetap tersimpan rapi 
> dalam alam bawah sadar manusia. Masalahnya bukan pada besaran data 
> memori itu sendiri.  Bukan pula hanya pada teknik atau cara mengakses 
> atau menemukan dan memanfaatkan memori itu. Masalahnya terletak pada 
> bagaimana caranya memerintahkan syaraf-syaraf yang berfungsi sebagai 
> "/traffic manager/" (Cfr. artikel Vitalnya Fungsi RAS, 5 Mei 2006) di 
> dalam otak manusia untuk menyortir data mana yang akan dipakai dan 
> mana yang tetap dibiarkan tak tersentuh. Jadi soalnya bagaimana 
> mengakses dan memanipulasi data kolektif yang tersimpan di dalam alam 
> bawah sadar secara sengaja, berencana dan efektif. 
>
>           Untuk mampu mengakses RAS dalam otak manusia sehingga mau 
> melayani kemauan manusia untuk mengakses Alam Bawah Sadar diperlukan 
> latihan-latihan (Cfr artikel Sang Nakhkoda dan Masinis, 10 Mei 2006).  
> Ada latihan-latihan yang melelahkan dalam jangka panjang yaitu latihan 
> meditasi.  Atau ada cara yang lebih afdol dengan watak generasi muda 
> sekarang yang maunya serba instan yaitu dengan teknik "Dekonstruksi 
> Memori" (Cfr artikel Dekonstruksi ala Kompatiologi Dengan Menggunakan 
> Minuman Botol, 19 Nopember 2006, revisi 7 Pebruari 2007). 
>
>           Kalau ReCoding Change DNA melulu berbicara tentang Konsep 
> teoritis, maka Dekonstruksi Memori melakukan praktek dengan teori 
> minimal tetapi dengan hasil yang jelas dan segera. Pilihan berada di 
> tangan para prospek atau konsumen sendiri, mau teori atau mau praktek 
> langsung berikut hasilnya. Masalahnya bukan menjual kecap mana yang 
> nomor satu atau nomor sepuluh melainkan kecap mana yang sesuai di 
> lidah dan sedap rasanya, entah asin ataupun manis, kental atau encer, 
> asal Inggeris, Jepang atau lokal...
>  
>
> Jakarta, 2 Mei 2007.
>
> Mang Iyus
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke