Salam Pak Ikra,
ternyata masih banyak orang yang punya akal dan memutar otak untuk
mendapatkan kesempatan mencari uang dengan cara apa pun, dengan cara kotor pun
dijalani termasuk yang korupsi, he-he
salam,
detta
Ikra Carita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kemarin, 30 April 2007, istri saya menerima telepon dari seorang
lelaki yg langsung bertanya, "Nama anda siapa?" Curiga kalau2 itu penipuan
dengan modus melalui telepon seluler, istri saya tidak mau menyebutkan namanya,
malah balik bertanya, "Memangnya anda siapa?" Setelah pertanyaan itu terjadi
beberapa kali, akhirnya orang itu menyebut sebuah nama (entah benar, entah
tidak). Namun, karena istri saya tidak mau menyebutkan nama, orang itu jengkel
dan mengucapkan kata2 kotor kepada istri saya. Beberapa waktu kemudian, nomor
tsb sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Sebelumnya, teman sekantor saya pernah menerima telepon serupa dengan
mengatasnamakan sebuah perusahaan dan meminta nama, nomor rekening, dan meminta
teman saya pergi ke atm. Teman sekantor saya yg lain menerima telepon dari
seseorang yang mengatasnamakan sebuah perusahaan dan mengatakan teman saya
telah memenangkan sebuah undian. Beruntung teman saya bertanya apakah
pengumuman itu ada di situs perusahan tsb sehingga dia bisa mengeceknya. Karena
kehati2an kedua teman saya itu, mereka bisa terhindar dari penipuan.
Beberapa kasus lain dan pernah saya alami sendiri, melalui modus pesan pendek
(SMS). Meski tidak semengganggu penipuan dengan telepon langsung, timbul korban
tetap saja bisa terjadi.
Pertanyaan saya, beberapa waktu lalu pernah dilakukan kampanye untuk
mendaftarkan nomor seluler yg dibeli oleh masyarakat, bahkan disertai ancaman
nomor yg tidak didaftarkan akan hangus. Apakah proses ini telah berjalan?
Apakah korban atau calon korban yang merasa terlecehkan seperti istri saya bisa
menuntut orang yang bersangkutan dengan menelusur pemilik nomor seluler tsb?
Untuk teman2 yang menerima telepon atau sms serupa, saya menghimbau sebaiknya
abaikan saja.
Salam,
Ikra Carita