http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/02/humaniora/3499423.htm
===========================

Jakarta, Kompas - Pendekatan kekuasaan dalam kebijakan dan praktik 
pendidikan selama ini terbukti mengakibatkan proses dan mutu 
pendidikan nasional terombang-ambing menurut "bandul" kekuasaan. 
Pendekatan kekuasaan membuat gagasan pembaruan pendidikan yang segar 
dan dinamis jadi mengawang karena benturan kepentingan. 

Di sisi lain, ide Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara 
telah diabaikan dalam praktik pendidikan di Indonesia. 

"Kepentingan kekuasaan itu harus dikikis," ungkap Agus Suwignyo, 
peneliti dan pemerhati pendidikan, dalam diskusi Forum YB 
Mangunwijaya bertema "Kurikulum Nasional dan Visi Indonesia 2030, 
Seberapa Jauh Pendidikan Menghasilkan Lulusan Berkompeten?", Selasa 
(1/5) di Yogyakarta. Diskusi menghadirkan pula JC Tukiman Taruna 
(anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah), dan Soedijarto 
(guru besar Universitas Negeri Jakarta). 

Agus mencontohkan, meski semangatnya desentralisasi, lahirnya 
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diwarnai aliran 
sentralistis. "Standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar 
yang terpusat adalah pintu masuk kekuasaan ke dalam jantung praktik 
pendidikan, yakni sekolah, guru, dan murid," ujarnya. 

JC Tukiman Taruna melihat KTSP sebenarnya bisa mencerdaskan siswa 
jika guru berani dan benar-benar diberi kesempatan untuk mengkaji 
standar kompetensi dan kompetensi dasar. 

Soedijarto menuturkan, penyelenggaraan UN sebagai penentu kelulusan 
mempersulit upaya menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan 
segala kemampuan, nilai, dan sikap yang diperlukan bangsa. Praktik 
UN bertentangan dengan konsep pembelajaran learning to know, 
learning to do, learning to live together, learning to be. 

Abaikan Ki Hadjar 

Dalam diskusi Refleksi Gerakan Pendidikan dan Kebudayaan Tamansiswa, 
yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tamansiswa, di 
Jakarta, Selasa (1/5), pakar pendidikan Mochtar Buchori menilai 
semangat pelopor pendidikan Ki Hadjar Dewantara semakin tak terlihat 
di dunia pendidikan saat ini. 

Mochtar Buchori berharap kebijakan Ki Hadjar Dewantara terkait 
pendidikan perlu digali lagi. "Bukan mengulang kutipan kata-kata 
beliau, tetapi menangkap semangatnya. Kita jangan terseret arus 
global sehingga hanya menjadi kuli di antara bangsa-bangsa atau 
bangsa yang terdiri dari kuli. Kita harus sadar siapa kita dan mau 
ke mana agar optimal dalam pembangunan." 

Buchori mengatakan, pendidikan seharusnya mengajarkan tiga hal 
kepada anak: menghidupi diri sendiri, kehidupan yang bermakna, dan 
memuliakan kehidupan. "Ajaran Ki Hajar Dewantara baru dapat dipahami 
kalau kita dapat menjabarkan hal itu lebih lanjut," ujarnya. 

UN, menurut Buchori tidak sesuai dengan semangat Ki Hadjar. yang 
menganut proses pendidikan sebagai cipta, rasa, dan karsa serta guru 
sebagai pihak penguji. UN memerangkap peserta didik tidak kreatif 
dan tidak merdeka berpikir karena yang diujikan hanya pilihan ganda. 

Pengamat pendidikan Darmaningtyas yang juga pengurus Tamansiswa 
mengemukakan peringatan Hari Pendidikan Nasional hanya mengambil 
tanggal kelahiran Ki Hadjar, 2 Mei. Namun, pemikiran Ki Hadjar tidak 
disimak dengan baik. (RWN/INE) 



Kirim email ke