Saya memang "kebetulan " berkecimpung dalam teknologi Pangan.. Dan dari 
pengalamanku , saya sering di bikin kesal olegh para dokter.

Ibi contoh penyebabnya  ( baca hal.13 kol. 1 Kompas 2 Mei 2007).saya kutip 
"   Angka kasus asma di Indonesia bertambah .. ini akibat.... konsumsi 
makanan yang mengandung bahan pengawet ......."


Begitu kata Tuan Dokter spesialis Paru Pradnya Paramita dari RSPAD  Gatot 
Subroto...


Ini di ucapkan dengan penuh generalisasi tanpa menyebut makanan apa .. , 
mengandung bahan pengawet apa.. dan dimakan dakam jumlah berapa....oleh 
manusia yang kondisi kesehatannya bagaimana..

Setahu saya .. diseluruh dunia.. ada otoritas.. yang menguji dan kemudian 
membolehkan pemakaian bahan pengawet tertentu dalam makanan... sebut saja 
di tingkat dunia ada "Codex".. di Amerika ada FDA..., di Indonesia ada 
Badan POM.., dan isinya para ahli.. yang tentunya bersedia menantang tuan 
Dokter Pradnya Paramita ini untuk membuktikan bahwa  pengawet yang sudah 
diijinkan didunia, melalui berbagai pertimbangan ilmiah..telah menyebabkan 
prevalensi  asma di Indonesia meningkat..

Y a tentu lain,  kalau yang ditambahkan adalah bahan pengawet berbahaya... 
atau digunakan diatas takaran yang boleh... itupun belum berarti pasti akan 
timbul bahaya.. Sebagai contoh formalin.. yang jelas tidak dikategorikan 
bahan pengawet ug diperbolehkan , masih banyak yang neragukan ada dampak 
bagi kesehatan manusia, karena ada yang berpendapat dia tidak akan 
berkaumulasi dalam tubuh tapi akan terbuanglagi bersama pengeluaran kotoran 
tubuh.

Contoh lain saya ungkapkan dalam kasus as.benzoat pada posting saya yang 
lalu di FPK, dimana kalau jita minum minuman 20 l per hari yang berbenzoat 
dan as,askorbat dalam batas maksimal yg diijinkan , baru berdampak sama 
dengan menghirup udara  sehari sehari yang memang terpolusi itu. Lha siapa 
jug ayang nminum 20 l perhari. Dan nayatanya , yang kit ahitrup udara 
setiap hari juga tidak jelas dampaknya..

Ya bisa saja.. food technolgist melakukan kesalahan.. seperti banyak dokter 
yang ber mal praktek.. tapi jangan du generalisasi begitu dong... asma 
bertambah krn makan makanan berpengawet... waduh.. pak Dokter ini 
sekolahnya dimana ya ??

Padahal boleh di bilang nggak ada obat yang dirsepkan dokter esekalipun 
yang nggak berbahaya bagi kesehatan.. jika dosisnya salah,, atau bahkan 
diiagnosa nya salah..


Padahal.. bahan pengawet bisa juga yang secara alami sudah ada di dunia 
ini, dan dipakai dalam makanan sbg bahan pengawet, ambil contoh.. rempah 
rempah atau garam..

Mas Kartono.Muhamad  .. bagaimana.. kalau kita bikin pertemuan antara para 
dokter.. yang sok tahu mengharamkan bahan berpengawet secara semena mena.. 
dengan para praktisi pangan dan rekan rekan di Badan POM.. yang jelas jelas 
menghalalkan  bahan pengawet yang teruji.

Kmai juga punay PIPIMM, Pusat Informasi  Produk Industri Makanan Minuman.. 
yang siap berdialog..

Untung dokter nggak dipercaya.. sehingga makanan tetap laku...

Kalo nggak.. apa mau Dokter Pradnya.. bayar buruh di pabrik makanan ???

Salam



Haniwar
praktisi pangan yg amat kesal  dengan sebagian dokter  spt ahli paru ini..
.
Haniwar
http://haniwar.blogspot.com/

Kirim email ke