Dalam berbagai program atau proyek yg berkaitan dengan nelayan, memang jarang 
nelayannya diikut sertakan sebagai rekanan yg sejajar dan setara, yg lebih 
sering malah dijadikan objek atau malahan "pelengkap penderita".
   
  Nelayan dan mata pencaharian mereka menangkap ikan, memang tidak banyak yg 
benar2 tahu seluk beluk kehidupan mereka.  Repotnya adalah munculnya orang, 
kelompok atau lembaga yg berusaha betul2 mau menolong namun sayangnya sering 
kali kurang atau sama sekali tidak memahami dunia perikanan tangkap beserta 
seluruh mata rantainya.
   
  Diberbagai belahan dunia, terutama negara2 dunia ketiga, upaya peningkatan 
taraf hidup nelayan yg sering dilakukan adalah dengan memperkenalkan mekanisasi 
kapal2/perahu tradisional mereka.  Upaya ini mendasarkan pada konsep mekanisasi 
pertanian.  Padahal lahan dan karakteristik usahanya berbeda sekali.  
   
  Dari hasil mekanisasi ini sebenarnya lebih banyak kegagalannya ketimbang 
keberhasilannya.  Misalnya saja kenaikan biaya operasional kapal2 yg telah 
dimekanisasi tidak sepadan dengan peningkatan hasil tangkap dari kapal2 itu. 
Akibatnya ya lama2 penghasilan para nelayan ini tekor.  
   
  Masih ditambah lagi dengan tidak ditanganinya usaha perikanan ini secara 
menyeluruh, artinya paska panen dan mata rantai distribusi hasil perikanan juga 
tidak digarap, perlu mata rantai penanganan dingin (cold chain systems), 
akibatnya hasil tangkap nelayan ini mutunya rendah otomatis harganyapun murah, 
sementara dengan kapal2 yg telah dilengkapi dgn motor maka biaya operasinya 
bertambah untuk beli bensin, minyak tanah atau solar, dan jangan lupa 
cicilannya.
   
  Ada lagi program transmigrasi nelayan, ideanya memang bagus, sayangnya ini 
juga tidak dipersiapkan dengan matang dan menyeluruh.  Misalnya saja nelayan 
dari Pantai Pesisir Utara Jawa ditransmigrasikan ke Papua.  Terkesan lautnya 
sih sama padahal benar2 berbeda, artinya daerah operasi penangkapan ikannya 
(Fishing groundnya)serta ikan2nya berbeda alhasil tata cara penangkapan, alat 
tangkapnya juga berbeda.
   
  Belum lagi keberadaan pasar bagi hasil tangkap para nelayan itu. Sudah capai2 
menangkap ikan nggak ada yg beli.
   
  Memberikan pelatihan bagi nelayan, juga merupakan tantangan tersendiri.  
Gampangnya, kapan pelatihan itu harus diberikan?  Karena begitu mendarat mereka 
sudah sibuk dengan berbagai kegiatan mulai dari mendaratkan kapal & hasilnya 
sampai lelang...istirahat dan siap2 melaut lagi.....ini sederhananya.....
   
  Itulah sekelumit yg sempat saya ketahui, jadi tidak sesederhana yg kita bisa 
perbicangkan atau diskusikan.  Itulah sebabnya hingga saat ini bisa dikatakan 
nelayan masuk dalam kategori kelompok yg masih hidup dibawah garis kemiskinan.
   
  Mungkin ada rekan2 FPK yg memiliki informasi yg lebih kini dan rinci, mohon 
mau berbagi.
   
  Salam
  Kukuh Kumara

Putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kesalahan developer reklamasi adalah, mereka tidak menyertakan
komunitas nelayan sebagai partner jangka panjang proyek. Padahal kalau
developernya bisa lebih cerdas, proyek reklamasikan seharusnya dapat
juga memberdayakan komunitas nelayan di pesisir, mungkin bisa dengan
membangun kampung nelayan yang lebih layak sehingga bisa dijadikan
obyek wisata untuk penghuni reklamasi ataupun turis nantinya, dan
menjadi income tambahan buat developer. 

Nelayan juga dapat diberikan training dan kredit modal oleh developer,
supaya bisa membuat kapal yang lebih bertenaga lebih dan tangkapannya
lebih banyak dan bagus, anak2nya dikasih beasiswa, istrinya dikasih
duit untuk usaha, dan nelayan2 tersebut karena dianggap partner oleh
developer bisa dipakai sebagai karyawan part-time disaat senggang,
bisa sebagai staff Marina karena latar belakang tentang lingkungan
lautnya yang cukup memadai. Anak2nya yang dikasih beasiswa juga nanti
bisa dijadikan karyawan masa depan, sehingga lebih murah.

Kalo masalah dana sih rasanya tidak mungkin tidak ada, karena bagian
ini sih sebenarnya termasuk 'peanuts' buat developer. Apalagi dananya
ini cuman seberapa, tapi benefits-nya yang didapat itu lho,
intangible. Ini kan juga bagian dari CSR (Corporate Social
Responsibility) perusahaan. 

Itung2 berkarya juga buat bangsa, daripada capek mulu dijadiin musuh,
gusur sana gusur sini, ribut ma LSM itu LSM ini. Coba berpikir jangka
panjang dengan menjadikan komunitas nelayan ini partner yang
strategis. Sekarang abad 21 bung, bukan abad pertengahan!

p

--- In [email protected], firdaus cahyadi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> apakah dengan membawa ke darat nasib nelayan akan lebih baik? saya
rasa 99% tidak. Saya punya pengalaman saat mengadvokasi kasus
reklamasi pantai timur surabaya. Kasus di situ sama persis dengan
reklamasi pantura jakarta dimana ratusan hektar hutan bakau digusur
untuk perumahan mewah. Nelayan di situ akhirnya terpakasa berpindah
profesi menjadi kuli bangunan. Apakah itu layak? 
> Perlu diingat sekali lagi reklamasi pantura jakarta diperuntukan
untuk pembangunan kawasan komersial dan perumahan mewah orang2 orang
kaya.Adilkah bila sumber-sumber kehidupan nelayan (ekosistem pantai)
dihancurkan untuk kepentingan orang2 kaya?
> 
> Menurut saya nelayan pantai utara di jakarta harus diberdayakan
tanpa alih profesi. Artinya upaya penghancuran sumber2 kehidupan
nelayan harus segera dihentikan terlebih dahulu sebelum
memeberdayakan mereka menjadi nelayan 'modern'..
> 
> kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Minta tolong kalau ada yg bisa bantu, coba di data
semenjak adanya Pemerintahan Indonesia sudah ada berapa banyak
program untuk pemberdayaan nelayan? Ada transmigrasi nelayan, ada
mekanisasi, nelayan unggulan, dan seterusnya....kini di tahun 2000an
lihat kehidupan nelayan nya apakah beranjak lebih baik????
> 
> Yg kehidupannya membaik adalah pengelola program buat nelayan????
Dan itu tidak hanya untuk nelayan Jakarta...tetapi nelayan seluruh 
Indonesia.
> 
> Kalau ada kesempatan memperbaiki nasib didarat bagi nelayan2 itu
kenapa tidak? Janganlah membantu mereka untuk tetap jadi nelayan 
pantai/tradisionil yg belum tentu bisa membuat nasib mereka lebih 
baik.....yg memang hidupnya didarat sebaiknya tidak usahlah
menyarankan agar nelayan harus begini/begitu kalau belum pernah
merasakan benar jadi nelayan....
> 
> Salam
> Kukuh Kumara
>



         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke