Kira2 SBY berani nggak buat program seperti Evo Morales??? 82% hasil
migas gross buat Indonesia, bukan 85% dari Laba Rugi seteleah
dikurangi berbagai macam biaya2.

Dalam hal ini salut buat Evo Morales. 

--- In [email protected], "Agus Hamonangan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Indonesia Punya Legalitas yang Kuat untuk Meniru Langkah Morales
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/utama/3503082.htm
> =========================
> 
> la paz, Rabu - Presiden Bolivia Evo Morales, Selasa (1/5), di La Paz,
> mengumumkan negara kembali mengontrol semua bisnis asing, khususnya
> migas. Sebanyak 12 perusahaan asing telah bersedia menandatangani
> kontrak migas baru, Rabu (2/5).
> 
> Kontrol yang paling menonjol adalah bisnis minyak dan gas yang selama
> ini dikuasai asing. Keturunan indian Quechua ini disebut berhasil
> menaklukkan para Goliat, julukan raksasa minyak asing yang ditakuti.
> 
> Kontrol tersebut berlaku secara resmi sejak 1 Mei, atau setahun sejak
> Morales mendeklarasikan hal tersebut. Sebagian bisnis migas sudah
> dikuasai sebelum 1 Mei 2007.
> 
> Ekonom AS peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001 Joseph E Stiglitz mendukung
> penuh tindakan Morales. Stiglitz sudah sejak lama mempertanyakan
> peruntukan hasil migas Bolivia yang selama ini dinikmati investor
> asing dengan kolaborasi yang rapi dengan politisi keturunan Spanyol.
> 
> Dengan pengumuman Morales itu, perusahaan minyak negara Bolivia, YPFB
> (Yacimientos Petroliferos Fiscales Bolivianos, mirip Pertamina) akan
> mengontrol semua kekayaan alam dan gas. Presiden YPBF Guillermo
> Aruquipa mengatakan, negara sudah resmi menjadi pemilik semua kekayaan
> gas dan minyak.
> 
> Sebanyak 12 perusahaan minyak asing juga langsung menandatangani
> kontrak baru, setelah pengumuman resmi nasionalisasi tersebut.
> Perusahaan yang menandatangani kontrak bisnis migas yang baru itu
> antara lain Repsol YPF SA (Spanyol-Argentina) oleh Presiden Repsol YPF
> Luis Garcia Sanchez dengan Presiden YPFB president Guillermo Aruquipa.
> 
> Perwakilan perusahaan minyak asing lain yang telah bersedia
> menandatangani adalah Petrobras (Brasil), Total-Fina-Elf (Perancis
> Belgia), British Gas (Inggris).
> 
> Dengan kontrak baru itu, semua perusahaan asing harus menyetor 82
> persen dari penerimaan (bukan total laba) ke YPBF dan hanya 18 persen
> untuk perusahaan asing sebagai operator eksplorasi minyak.
> 
> Dengan kontrol negara tersebut, YPBF juga dengan leluasa mengontrol
> praktik penipuan keuangan yang umum dilakukan perusahaan asing, yang
> bertujuan mengelabui negara tempatnya beroperasi.
> 
> Usaha migas asing di Indonesia jauh lebih enak, karena menerima 15
> persen dari total laba (penerimaan dikurangi biaya).
> 
> Masih ada beberapa perusahaan asing yang masih berpikir-pikir untuk
> menandatangani kontrak migas baru. Exxon-Mobil (AS) mengatakan, sedang
> memonitor perkembangan secara saksama.
> 
> Namun, Morales sudah menyatakan dengan jelas, "Kami masih terbuka
> untuk sebuah negosiasi, karena kami sebagai keturunan indian percaya
> dengan prinsip dialog," kata Morales.
> 
> "Namun jika negosiasi tidak berjalan, kami memberi waktu enam bulan
> bagi mereka untuk berpikir atau meninggalkan negara ini. Kami tidak
> akan takut untuk mengambil hak kami," kata Morales. "Dominasi asing
> atas kekayaan kami sudah berakhir. Hormatilah harkat Bolivia," kata
> Morales. Kekayaan Bolivia dikuasai asing sejak dekade 1980-an, lewat
> program swastanisasi yang dicanangkan Bank Dunia dan IMF.
> 
> Tolak arbitrase internasional
> 
> Presiden Bolivia ini juga sudah menutup pintu bagi penyelesaian
> sengketa dengan perusahaan asing melalui peran afiliasi Bank Dunia,
> International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID).
> 
> "Tak pernah ada negara di dunia ini yang menang dengan keberadaan
> arbitrase internasional. Tidak pemerintah, tidak Negara dan tidak juga
> rakyat. Hanya perusahaan multinasional yang menang," kata Morales.
> 
> Perusahaan asing mengkritik Morales yang mundur dari arbitrase
> internasional. Namun, Morales mengancam perusahaan asing secara halus.
> "Kami dengan niat baik, menolak tekanan hukum, kampanye lewat media
> dan tekanan lewat jalur diplomasi... yang jelas telah menolak
> kedaulatan negara lewat ancaman dan mencoba menggunakan arbitrase
> internasional," kata Morales.
> 
> Layak diikuti
> 
> Mengomentari tindakan Bolivia, yang meniru Venezuela, Kepala Badan
> Pelaksana Kegiatan Hulu Migas Kardaya Warnika mengatakan, meskipun
> sama-sama produsen minyak, kondisi Bolivia tidak bisa disamakan dengan
> Indonesia.
> 
> Pengamat perminyakan Dr Kurtubi menilai, langkah yang dilakukan
> Bolivia menunjukkan kontrak kerja sama migas bukan hal yang tabu untuk
> diubah. "Kalau itu bisa memperbaiki penerimaan negara mengapa tidak
> dilakukan?" ujarnya.
> 
> Menurut Kurtubi, ada klausul di dalam kontrak kerja sama yang
> menyatakan bahwa apa pun yang diperjanjikan oleh kedua belah pihak,
> kedaulatan negara ada di atas semua itu.
> 
> Kurtubi mengatakan, gelombang nasionalisasi atas usaha pertambangan di
> Amerika Latin saat ini perlu diikuti secara saksama karena yang mereka
> peroleh dari kekayaan alamnya masih sangat kurang dan dominasi
> perusahaan asing sangat kuat. "Sekalipun tidak persis sama, hal yang
> mereka alami memiliki kesamaan dengan yang kita alami," kata Kurtubi.
> 
> "Inti dari apa yang terjadi di Amerika Latin adalah bagaimana agar
> negara memperoleh bagian yang lebih besar," kata Kurtubi. Di
> Indonesia, kata Kurtubi, dengan dasar kontrak bagi hasil (PSC) yang
> standar, upaya meningkatkan persentase perolehan negara terbuka lebar.
> "Bahkan untuk menguasai secara dominan seluruh tambang migas juga
> dimungkinkan karena dalam PSC standar ada kedaulatan negara di atas
> kontrak," kata Kurtubi.
> 
> Menurut Kurtubi, ada kalimat di klausul PSC yang dengan jelas memberi
> hak hukum pada Indonesia. Alasannya, di dalam klausus itu tertulis
> bahwa pada setiap kontrak, tidak boleh ada pihak yang memiliki
> kesempatan membawa sengketa bisnis ke arbitrase internasional. "Setiap
> kontrak juga tidak boleh mencegah atau membatasi Pemerintah Indonesia
> untuk mengutamakan kepentingannya," demikain isi klausul.
> 
> Menurut Kurtubi, ini adalah pintu hukum yang sah dan kuat untuk
> Indonesia, dalam memaksimalkan kekayaan alam untuk kepentingan negara.
> Dengan klausul itu, Indonesia relatif aman dari kemungkinan dibawa ke
> arbitrase internasional. (REUTERS/AP/AFP/MON/DOT/BOY)
>


Kirim email ke