dgn hormat , 

sekali lagi , saya stuju degnan usulan dari pak ignas dan pak toto.


too many plans, but very poor implementation.

padahal bukti pengabdian kita (para pejabat negara, BUMN, dll) thp 
bangsa ini adalah hasil nyata yg dinikmati oleh seluruh rakkyat.

bukan sekedar rencana2 hebat yg dipamerkan di press release TV, 
koran, dll.  





--- In [email protected], Ignas Iryanto 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yang ditulis sebelumnya adalah persoalan strategic policy..yang 
dirisaukan bung Totot adalah persoalan implementasi. 
>    
>   PD sebagai perusahaan daerah tentu diatur oleh berbagai UU dan 
Perda DKI yang diharapkan datang dari kebijakan strategis seperti 
itu. Jika berbagai perangkat UU (yang disahkan DPR) serta Perda 
(yang disahkan DPRD) kontradiktif terhadap kebijakan strategis 
seperti tadi...yaa ruwet masalah kita. (Bukan Pro poor policy atau 
pro powerless policy namun pro rich / pro powerfull policy).
>    
>     Namun fakta bahwa PD dibentuk oleh DKI, dapat menunjukan ada 
perhatian Pemda DKI untuk membina,menata dan mengembangkan pasar 
pasar tradisional di DKI. Soalnya adalah bagaimana misi itu 
(membina, menata, mengembangkan) diterjemahkan. Jika penerjemahannya 
adalah hanya menyiapkan tempat dan menarik retribusi, tentu tidak 
cukup. Apa yang dilakukan di pasar modern BSD, sebagaimana yang 
ditulis oleh salah satu netters, bisa menjadi contoh penerjemahan 
yang baik. Apalagi, jika PD malah menjual lahan pasar kepada 
investor untuk membangun mal mal...karena perhitungan keuntungan 
yang lebih besar. Itu salah secara prinsip. Mengapa ?
>    
>   Karena BUMD juga BUMN yang memiliki misi untuk melayani publik 
mestinya tidak meletakan profit sebagai orientasi utama, melainkan 
benefit bagi publik sebagai orientasi utama. 
>    
>   Beda profit dan benefit ini menjadi sangat jelas buat saya 
ketika beberapa tahun lalu ngobrol dengan orang dari BVG di Berlin. 
BVG adalah PD (Berlin) yang menjalankan seluruh angkutan publik di 
kota itu (bus, tram, kapal di kanal kanal, KA). Saya sebagai orang 
baru, bingung melihat Bus Bus (dan yang lainnya) sangat disiplin 
menaati route serta jadawal perjalanan..walaupun penumpang busnya 
atau KA, TRam dll, hampir kosong. Saya bertanya, bagaimana BVG bisa 
untung (profit) dan bertahan, jika sering terjadi bahwa penumpangnya 
kosong. Penjelasannya sangat menarik. BVG dengan sadar menjalankan 
layanan transportasi, yang nyaman, bermutu, tepat waktu, kepada 
publik TANPA profit bagi BVG. Yang pasti kondisi layanan publik 
seperti itu, akan memberikan benefit optimal kepada publik. 
Akibatnya:
>   publik akan menggunakan layanan BVG dan tidak menggunakan 
kendaraan pribadinya dan tetap tepat waktu tiba di tempat kerja 
secara sehat dan nyaman. Hanya itu ? Tidak ! Kondisi itu sebenarnya 
memberikan profit tersembunyi (hidden cost reduction) bagi negara:
>   1. Ada penghematan penggunakan bahan bakar dari rakyat, karena 
pengunaan kendaran pribadi turun secara drastis.
>   2. Karena jumlah kendaraan yang ada di jalan raya berkurang, 
polusi udara karena emisi gas buangan menurun...kualitas udara kota 
menjadi membaik.
>   3. Kurangnya jumlah kendaraan di jalan menghilangkan kemacetan, 
sehingga stress yang sering dialami oleh penduduk ketika 
macet..dapat dihilangkan.
>   4. Poin 2 dan 3 di atas, akan membuat berkurangnya penyakit yang 
disebabkan olehkualitas udara yang buruk serta stress. Itu artinya 
pengeluaran negara pada sektor kesehatan publik juga dapat ditekan. 
(Sistem asuransi kesehatan membutuhkan subsidi dari negara - paling 
tidak waktu itu).
>    
>   So. BVG memang tidak profit. BVG memang (hanya) memberikan 
benefit buat publik. Namun ada "hidden profit atau hidden cost 
reduction" dari sektor sektor lain yang menjadi hasil ikutan dari 
benefit itu. Karena BVGtidak profit, maka Pemda yang menjalan misi 
itu. 
>    
>   Trans Jakarta mestinya juga jangan meletakan profit sebagai 
orientasi utamanya. PD Pasar Jaya, apakah dimungkinkan untuk menjadi 
profit center bagi DKI ? Jika dilihat pada contoh pasar modern di 
BSD City, kelihatannya mungkin. Namun jika tidak mungkin, mengapa 
tidak meletakan benefit buat para pedagang kecil sebagai orientasi 
utama ?
>    
>   Swasta jelas dari sononya meletakan profit sebagai orientasi 
utama sedangkan benefit bagi publik, yang oleh Friedman dianggap ada 
dengan sendirinya jika usaha swasta itu profitable- suatu these yang 
sudah mulai ditolak-, kini diupayakan secara lebih langsung oleh 
swasta dengan konsep CSRnya. Walaupun belum semua swasta yang 
menjalankannya. BUMN dan BUMD yang menjadi profit center, juga harus 
menerapkan CSR sebagai bagian dari kebijakan strategisnya. Kini di 
berbagai BUMN ada divisi Bina Lingkungan yang diharapkan menjalankan 
hal tersebut. Namun banyak ceritra dari orang dalam, bagaimana 
kacaunya pengelolaan dana "bina lingkungan" tersebut. Pemerintah 
dapat saja membuat aturan yang menjadikan CSR obligatorisch dan 
audit CSR atas korporasi sebagai bagian integral dari audit 
korporasi secara keseluruhan, sehingga social responsibility dari 
suatu korporasi yang profit oriented dapat lebih didorong.
>    
>   Soalnya adalah bagaimana strategic planning secara nasional 
dibuat serta kemudian adalah bagaimana manusia manusia pengelola 
BUMN BUMD tersebut memahami fungsinya dalam mengimplementasikannya ?
> 
>   Salam nanosolidarity,
>    
>   Irry
> 
> 
> Totot <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>           Saya setuju pada pemikiran bahwa pemerintah seharusnya
> menjadi regulator dan fasilitator utk semua pihak dan semua
> kalangan. Baik pengusaha mal, juga pedagang tradisional.
> 
> Yang saya sedikit bingung adalah, selama ini apa dong fungsi
> PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar tradisional?
> Sepertinya kok tidak pernah kelihatan mengelola bidangnya dgn baik,
> selain memungut retribusi ini itu dari pedagang ya?
> Pasar2 tradisional tetap saja jorok, kumuh, kotor, dan berantakan.
> Wajar jg para pembeli teralih ke mal utk beli kebutuhan sehari2.
> Tempatnya nyaman, berAC, bersih, harga2 stabil, ada bonus2
> promosi, dan segala macam servis yg memang dikelola dgn
> baik shg bisa mengalihkan perhatian orang2 yg ingin belanja.
> 
> Lalu kalau sudah begini, kira2 bagaimana sebaiknya?
> Adakah pemda juga memperhatikan kebedaraan pasar trad ini?
> Atau malah mrk milih bikin mal demi pemasukan pajak?
> 
> salam bingung,
> totot
>


Kirim email ke