Oleh DESHI RAMADHANI 
Dosen Tafsir Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, 
Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/05/Fokus/3492011.htm
===============================

Kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus dari kematian seperti yang 
dikatakan Injil adalah sebuah metafora belaka, yang didasarkan pada 
temuan makam dengan tulang-belulang di Talpiot yang diduga adalah 
Yesus yang dipercaya umat Kristiani, terlalu dini. Sebuah metafora 
yang bergerak hanya dalam ranah subyektif, bukan obyektif. 
Pilihannya antara prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" 
atau "yang ajaib bisa sungguh historis". 

Kontroversi belakangan ini tentang makam keluarga Yesus dan 
kepastian kebangkitan-Nya dengan seluruh tubuh perlu ditempatkan 
dalam gambar besar penelitian kisah- kisah ajaib di dalam Alkitab. 
Usaha untuk menjelaskan secara ilmiah hal-hal ajaib yang dikisahkan 
dalam Alkitab bukanlah hal baru. Hal ini sudah banyak dilakukan, 
baik terhadap Perjanjian Lama (misalnya, sepuluh tulah atau kutuk 
yang menimpa bangsa Mesir sebelum orang Israel akhirnya pergi 
meninggalkan Mesir) maupun Perjanjian Baru (misalnya, Yesus yang 
berjalan di atas air atau Yesus yang meredakan badai ganas di 
danau). Usaha ini memperlihatkan sikap tertentu terhadap kisah ajaib 
dalam Alkitab dalam kaitan dengan dimensi historis kejadian-kejadian 
itu. 

Kesejarahan mukjizat 

Di balik usaha-usaha ini terdapat sebuah prinsip yang menempatkan 
hal-hal ajaib dan penjelasan ilmiah sebagai dua kubu yang saling 
bertentangan. Tujuan penelitian ilmiah ini adalah memperlihatkan 
bahwa apa yang diceritakan dalam Alkitab sebagai sebuah peristiwa 
ajaib karena campur tangan langsung dari Sang Ilahi pada dasarnya 
adalah peristiwa-peristiwa alam biasa yang bisa dibuktikan 
berdasarkan pendekatan-pendekatan ilmu alam. Maka, usaha ini membawa 
bendera yang mengatakan: "Untuk segala mukjizat, pasti bisa 
ditemukan penjelasan ilmiahnya." 

Berjalan seiring dengan usaha ini, pertanyaan tentang historisitas 
peristiwa dalam Alkitab pun menjadi bagian dari penyelidikan para 
ahli. Pendekatan ilmiah membuktikan bahwa peristiwa yang dikisahkan 
dalam Alkitab sendiri secara historis bisa saja terjadi. Seiring 
dengan pembuktian historis ini, konsekuensinya, kemungkinan adanya 
intervensi langsung dari Sang Ilahi disingkirkan. Peran Sang Ilahi 
harus tunduk pada peran sains. 

Pembuktian ilmiah mengatakan bahwa peran Sang Ilahi tidaklah 
sedemikian dahsyat seperti dikisahkan dalam Alkitab. Alam memiliki 
hukumnya sendiri. Mukjizat bukanlah intervensi dari Sang Ilahi, 
melainkan hasil yang sangat masuk akal dari proses alami. Film 
berjudul Reaping yang sedang diputar di bioskop-bioskop di Jakarta, 
misalnya, mencoba menceritakan pergulatan seorang ilmuwati bukan 
dalam menerima historisitas kisah-kisah Alkitab, melainkan dalam 
menerima intervensi langsung Sang Ilahi di dalamnya. 

Pada kenyataannya dalam Alkitab banyak kisah ajaib yang tidak 
berhubungan dengan gejala alam. Dalam Perjanjian Baru dikisahkan 
banyak penyembuhan fisik yang dilakukan baik oleh Yesus maupun oleh 
para murid-Nya yang menerima dan menggunakan kuasa dalam Nama-Nya 
yang kudus. Penelitian ilmiah atas kisah-kisah ajaib dalam ranah 
penyembuhan fisik semacam ini tentu tidak bisa begitu saja 
membuktikan bahwa semua itu adalah proses biologis atau ragawi 
belaka. 

Dalam konteks semacam ini pertanyaan tentang historisitas kisah-
kisah ajaib menjadi semakin tajam. Apakah penyembuhan ajaib seperti 
yang dikisahkan dalam Alkitab itu benar terjadi secara historis? 
Dengan demikian, yang disingkirkan tidak hanya kemungkinan 
intervensi dari Sang Ilahi (sebagaimana halnya dalam penjelasan 
ilmiah atas keajaiban yang berkaitan dengan gejala alam), melainkan 
juga kejadian itu sendiri. Bila tidak bisa ditemukan penjelasan 
ilmiah bagi penyembuhan ajaib itu, haruskah disimpulkan bahwa kisah 
semacam itu tidak pernah sungguh terjadi secara historis? 

Fakta yang sering terjadi secara kasat mata di hadapan orang modern 
justru mengatakan lain. Ada banyak orang yang menurut ilmu 
kedokteran menderita penyakit yang tidak tersembuhkan justru 
mengalami kesembuhan. Tidak sedikit dokter yang akhirnya harus 
mengatakan bahwa penyembuhan itu memang tak bisa dijelaskan secara 
logis berdasarkan pendekatan ilmiah. Pertanyaan lebih jauh harus 
dijawab. 

Bila penyembuhan terjadi di luar jangkauan penjelasan medis, siapkah 
seseorang menerimanya sebagai sebuah keajaiban atau mukjizat? Di 
satu pihak, penyembuhan itu begitu kasat mata dan secara empiris 
bisa dibuktikan. Di lain pihak, tidak bisa dibuktikan secara jelas 
apa atau siapa yang menyembuhkan orang yang bersangkutan. 

Di sinilah orang akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan empiris 
bahwa keajaiban bisa sungguh bersifat historis. Artinya, "yang 
ajaib" bisa sungguh terjadi secara historis dalam ruang dan waktu di 
mana manusia ini hidup dan bergerak. Mukjizat yang berada di luar 
jangkauan akal budi manusia bisa benar-benar terjadi secara 
historis. Keajaiban adalah sebuah peristiwa sejarah juga. Craig A 
Evans, Fabricating Jesus (2005), bahkan mengatakan bahwa satu 
kesalahan serius dari banyak kesalahan lain adalah "kegagalan untuk 
memperhitungkan perbuatan ajaib Yesus". Sungguh disayangkan bahwa 
banyak ahli yang meneliti keajaiban yang berkaitan dengan tokoh 
Yesus dalam Alkitab justru berangkat dengan sebuah asumsi 
bahwa "yang ajaib pasti tidak historis". 

Proses demirakulisasi 

Akibat logis dari asumsi semacam ini adalah sebuah proses yang saya 
sebut sebagai demirakulisasi (Latin miraculum; Inggris miracle) 
Yesus. Perkataan miraculum, berkait dengan kata kerja mirare, yang 
berarti 'melihat' atau 'memandang'. Secara bebas miraculum berarti 
sesuatu yang mau tidak mau dilihat atau dipandang dengan mata 
terbelalak. Dengan demikian, proses demirakulisasi tidak lain adalah 
sebuah proses pengingkaran terhadap apa yang sebenarnya begitu jelas 
terlihat meskipun tidak bisa dijelaskan dengan akal budi. 

Cara kerja yang dipilih menjadi jelas: Yesus yang benar-benar ada 
secara historis harus dijelaskan dan direkonstruksi dengan 
menyingkirkan segala hal ajaib atau mukjizat seperti dikisahkan 
dalam Alkitab. Pembuktian Yesus Historis dalam proses demirakulisasi 
mengharuskan sang peneliti memilih data yang masuk akal saja. Dalam 
praktiknya, ini bisa membuat sang peneliti mengambil data yang 
diperlukan terlepas dari konteksnya begitu saja. James D Tabor, 
penulis buku The Jesus Dynasty, adalah salah satu peneliti yang 
mengikuti cara kerja seperti ini. 

Dua contoh kecil bisa diperlihatkan di sini. Pertama, Tabor mencoba 
menjawab pertanyaan tentang profesi Yesus sebelum Ia tampil secara 
publik di Galilea. Perkataan Yunani dalam Injil adalah tektôn. Kamus 
besar yang disusun oleh Bauer, Arndt, Gingrich (1957) menjelaskan 
tektôn sebagai carpenter, wood-worker, builder. Tabor begitu saja 
memilih arti tektôn sebagai builder (tukang bangunan; tukang batu). 
Untuk mendukung argumennya ia merujuk pada tulisan yang sekarang 
dikenal sebagai Protoevangelium Yakobus 9:3 yang mengatakan bahwa 
pekerjaan Yusuf adalah sebagai tukang bangunan. Tabor hanya memilih 
satu rujukan kecil ini untuk mendukung hipotesisnya bahwa Yesus pun 
bekerja sebagai tukang bangunan. 

Tulisan Protoevangelium Yakobus sudah beredar sekitar tahun 150 M. 
Argumen-argumen penting dalam tulisan ini justru bertujuan 
membuktikan kelahiran ajaib Yesus melalui Maria yang masih perawan 
dan tetap perawan sesudah kelahiran Yesus. Tabor siap menggunakan 
bahan di luar Alkitab untuk mendukung argumennya meskipun untuk itu 
ia harus mengambil rujukan kecil dari sebuah bahan yang justru 
berlawanan arah dengan cara kerja demirakulisasi yang dipilihnya. 
Dengan kata lain, untuk mendukung argumennya, Tabor siap mengambil 
sebuah teks dan melepaskannya dari konteks begitu saja. Menurut 
kacamata keahlian saya dalam bidang tafsir, pemisahan teks dari 
konteks adalah sebuah kesalahan metodologis yang sungguh fatal. 

Kedua, Tabor mencoba membuat rekonstruksi kronologis tahap 
perjalanan Yesus dan para murid-Nya menuju Jerusalem dan hari-hari 
terakhir-Nya di sana. Dengan menggabungkan berbagai data dan 
loncatan-loncatan kreatif berdasarkan informasi dari Injil, sebuah 
kronologi diusulkan. Namun, satu hal segera menjadi jelas. Ada satu 
bahan yang dalam konteks Injil memiliki arti penting yang justru 
dihindari oleh Tabor. Dalam Injil Yohanes bab 11 dikisahkan bahwa di 
sebuah kampung yang bernama Betania, Yesus membangkitkan Lazarus 
dari kematiannya. Kisah Yesus yang menyembuhkan dan kisah Yesus yang 
membangkitkan orang mati tentu saja berada di luar ranah pembuktian 
mukjizat berdasarkan gejala-gejala alam. 

Lebih dari itu, bila Tabor menggunakan kisah tentang kebangkitan 
Lazarus ini, ia tentu akan harus juga menerima kemungkinan adanya 
kebangkitan Yesus sendiri dari mati. Padahal, argumen penting yang 
justru sedang diperjuangkan adalah untuk membuktikan bahwa Yesus 
tidak bangkit. Tabor ingin membuktikan bahwa tubuh Yesus telah 
dipindahkan oleh para pengikut-Nya dari tempat semula Ia dimakamkan 
setelah penyaliban, ke tempat yang baru. Untuk maksud itu Tabor 
berani membuat pernyataan bahwa Ia telah menemukan makam Yesus dan 
keluarga-Nya. 

Temuan arkeologis 

Temuan arkeologis yang kembali hangat belakangan ini dan 
penggunaannya untuk sebuah pembuktian Yesus Historis perlu 
ditempatkan secara jelas dalam kerangka cara kerja demirakulisasi 
para peneliti yang terlibat di dalamnya. Hasil proses semacam inilah 
yang tersaji ke kalangan publik. Film dokumenter The Lost Tomb of 
Jesus dengan produser pelaksana James Cameron, buku karangan Simcha 
Jacobovici dan Charles Pellegrino The Jesus Family Tomb: The 
Discovery, the Investigation, and the Evidence that Could Change 
History, dan buku James D Tabor The Jesus Dynasty adalah bukti hasil 
kerja peneliti yang berprinsip "yang ajaib pasti tidak historis." 
Sikap terhadap publikasi semacam ini akan sangat ditentukan oleh 
penerimaan atau penolakan terhadap prinsip tersebut. Bila menerima 
prinsip tersebut, berarti orang harus menolak kebenaran empiris yang 
justru masih berlangsung sampai hari ini, yakni bahwa "yang ajaib 
bisa sungguh historis". 

Hal yang sama berlaku dalam bersikap terhadap kebangkitan Yesus. 
Kebangkitan Yesus dengan seluruh tubuh-Nya adalah peristiwa ajaib. 
Maka, bagi para peneliti ini harus disimpulkan bahwa hal itu pasti 
tidak historis. Yang historis adalah bahwa Yesus tidak bangkit 
dengan seluruh tubuh-Nya. Untuk membuktikannya, temuan makam di 
Talpiot dijadikan sebagai argumen penting. Pertanyaan untuk sebuah 
temuan arkeologis senantiasa berkaitan dengan hubungan antara 
artefak arkeologis dan data dalam Alkitab. 

Fakta pertama. Pada tahun 1980 ditemukan 10 osuarium (tempat tulang) 
di makam Talpiot, sebelah selatan kota lama Jerusalem. Satu di 
antaranya dinyatakan hilang. Pada sembilan osuarium itu ada enam 
yang memiliki inskripsi nama-nama: Yesus anak Yusuf, Maria, 
Mariamene e Mara (Maria Magdalena), Yoses, Matius, Yudas anak Yesus. 
Seluruh inskripsi tersebut tertulis dalam bahasa Aram, kecuali 
inskripsi Maria Magdalena yang tertulis dalam bahasa Yunani. 

Fakta kedua. Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang sangat umum 
dimiliki oleh orang pada zaman itu di wilayah tersebut. Meskipun 
demikian, bahwa nama-nama semacam itu ditemukan sebagai sebuah 
kesatuan di satu kompleks makam adalah sebuah kenyataan yang sangat 
unik. Peluang empat nama (Yesus anak Yusuf, Maria, Maria Magdalena, 
Yoses) dalam cluster semacam itu adalah 1:600. Demikian pendapat 
Prof Andrey Feuerverger, pakar statistik dari Universitas Toronto. 

Fakta ketiga. Hasil uji DNA terhadap endapan organik pada 
osuarium "Yesus anak Yusuf" dan osuarium "Maria Magdalena" tak 
memperlihatkan adanya hubungan persaudaraan di antara keduanya 
menurut garis ibu. 

Bila ingin setia pada data-data empiris semacam ini, kesimpulan yang 
harus diambil adalah: (1) Ada sebuah kompleks makam keluarga tempat 
ditemukan 10 osuarium; satu dari osuarium itu telah hilang; enam 
dari yang masih ada memiliki inskripsi nama-nama yang sangat umum; 
(2) Kesatuan nama-nama umum itu hanya terjadi satu kali dari antara 
600 kasus; (3) Yesus anak Yusuf dan Maria Magdalena bukan saudara-
saudara sekandung. 

Kesimpulan yang lebih dari itu adalah hipotesis. Satu hipotesis yang 
belum berdasarkan fakta justru dijadikan sebagai kesimpulan oleh 
Tabor. Di sini Tabor sudah berkeyakinan bahwa osuarium lain dengan 
inskripsi "Yakobus, anak Yusuf, saudara dari Yesus" adalah satu 
osuarium yang hilang dari makam keluarga di Talpiot itu. Hipotesis 
lain adalah ikatan perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" dan "Maria 
Magdalena". Hipotesis lanjutan dari ini adalah bahwa "Yudas anak 
Yesus" adalah anak dari perkawinan antara "Yesus anak Yusuf" 
dan "Maria Magdalena" itu. Masih perlu dilihat bagaimana uji DNA 
terhadap endapan organik dalam osuarium "Yudas anak Yesus" tersebut. 

Hipotesis paling berani adalah dengan mengatakan kemungkinan 
bahwa "Yesus anak Yusuf" itu adalah Yesus yang dikisahkan dalam 
Injil. Ini sama saja dengan seorang peneliti asing di abad-abad 
kemudian yang bisa menyimpulkan bahwa sebuah makam dengan 
nama "Bambang anak Suharto" di sebuah tempat di bumi ini adalah 
makam Bambang anak dari seorang bernama Suharto yang selama bertahun-
tahun menjadi penguasa tunggal di sebuah negeri di bumi ini. Tidak 
mustahil bahwa Bambang yang dimakamkan di sana adalah Bambang preman 
pasar di kampung sekitar makam itu yang bapaknya bernama Suharto 
yang punya toko kelontong dekat alun-alun. 

Yesus yang mana? 

Di sinilah letak persoalan paling serius dalam penelitian Yesus 
Historis berdasarkan temuan arkeologis saat ini. Ada sebuah makam 
dengan osuarium bernama "Yesus anak Yusuf". Sungguh tidak mustahil 
bahwa artefak yang tersedia ini adalah sebuah keunikan istimewa, 
satu dari 600 kemungkinan kasus, yang merupakan makam dari seorang 
yang sama sekali lain. Hipotesis berikut ini sama kuatnya dan harus 
bisa diterima. 

Ada seorang pedagang yang cukup kaya di Jerusalem pada dekade 
pertama abad Masehi. Nama orang itu adalah Yusuf. Seorang anaknya 
yang bernama Yesus itu bekerja sebagai seorang ahli hukum yang 
mencapai puncak kariernya setelah berhasil menentang dan menghukum 
mati seorang guru eksentrik berasal dari Nazaret yang juga bernama 
Yesus. Suatu hari Yusuf dan Maria istrinya memutuskan mengadopsi 
seorang anak putri dari Magdala, dan mereka beri nama Maria 
Magdalena. Yesus sang ahli hukum itu pernah punya hubungan dekat 
dengan seorang perempuan sehingga ia punya anak, tetapi lalu 
ditinggal pergi oleh kekasihnya itu. Yesus ini akhirnya harus 
menitipkan anaknya yang bernama Yudas untuk diasuh oleh Yusuf dan 
Maria. Demikianlah pada akhirnya satu per satu mereka mati. Jasad-
jasad Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yesus anak Yusuf, dan Yudas 
anak Yesus ini akhirnya dimakamkan di kompleks makam keluarga yang 
sudah mereka siapkan di Talpiot. 

Berabad-abad kemudian sekelompok peneliti menemukan makam itu dan 
mulai menduga- duga bahwa Yesus dalam makam itu adalah Yesus yang 
diyakini oleh orang Kristiani sebagai Tuhan yang bangkit dengan 
seluruh tubuh-Nya. Maka, sungguh masih terlalu dini untuk membuat 
kesimpulan seperti itu. Terlalu dini juga untuk mulai yakin bahwa 
kebangkitan Yesus dari Nazaret itu adalah sebuah metafora belaka, 
bukan persitiwa historis; sebuah metafora yang bergerak hanya dalam 
ranah subyektif, bukan obyektif. Maka, pilihannya kembali antara 
prinsip "yang ajaib pasti tidak historis" atau "yang ajaib bisa 
sungguh historis". 

 



Kirim email ke