Nasionalisasi adalah sebagian dari persoalan. Tapi persoalan lain 
yang tak kalah penting ialah bagaimana perusahaan-perusahaan itu 
dikelola dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Di Indonesia 
banyak sekali contoh bagaimana perusahaan-perusahaan negara yang 
merupakan asset nasional itu jadi salah urus, sarang korupsi dan 
menjadi beban rakyat. 

Disamping itu masih banyak sektor ekonomi yang sebenarnya dikuasai 
oleh negara tapi tokh tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi 
kesejahteraan rakyat. Dalam mengelola hutan--misalnya--boleh 
dikatakan bahwa negara memiliki kontrol yang sangat besar. Tapi 
sebagai rakyat apa yang kita peroleh setelah hutan itu dibabat oleh 
para pemegang HPH yang notabene adalah orang Indonesia sendiri? 
Tidak ada, kecuali bencana banjir. Hal yang sama juga berlaku dalam 
sektor-sektor ekstraktif lainnya yang notabene tidak membutuhkan 
modal serta teknolgi yang terlalu canggih, seperti perikanan, aneka 
tambang dsb.

Jadi, sebelum mencontoh Bolivia, saya rasa lebih baik kita lebih 
dulu mencontoh Cina, yang menggantung atau menembak mati para 
koruptor bangsa sendiri yang menjarah kekayaan negaranya.

Horas,

Mula Harahap



In [email protected], kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

Nasionalisasi membabi buta bisa konyol.  Apakah kita belum kenyang 
dengan pengalaman itu?  Sejarah menunjukkan misalnya apakah Pelni 
lebih maju daripada jaman KPM, lalu pabrik2 gula, dan banyak lagi 
perusahaan2 yg giliran dipegang kita sendiri tanpa dasar dan 
perencanaan yg matang akhirnya cuma jadi beban saja.

Disamping tata kelola yg belum mumpuni, SDM nya masih pola kerajaan 
alias jadul, belum lagi teknloginya, lemah pula di Internal Control, 
banyak titipan dlsb....akhirnya kinerjaya juga nggak 
optimal....contoh lagi kereta api setelah merdeka panjang rel 
keretanya malah menyusut......

Nasionalisasi sih OK2 saja namun nasionalisasi berdasar pada 
pemikiran dan kajian yg matang bukan sekedar menuruti emosi. 

Salam
Kukuh


Kirim email ke