Saya curiga jangan-jangan, semua departemen kita yang memiliki sekolah
tinggi atau institut sendiri, semuanya sama seperti ini modelnya. Mungkin
dari rekan2 jurnalis bisa membantu membuka tabir ini.

Regards,
Paulus

On 5/6/07, Ambarini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> wah aku prihatin dengan hal ini, mungkinkah sistem pendidikan keras
> seperti ini sedang trend, seharusnya departemen terkait bisa tegas
> menghadapi permasalahan spt ini, sehingga tidak mencoreng sistem pendidikan
> di Indonesia.
>
> Ayu
>
> ~YOGHA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Maaf
> bukan dari Sumber Kompas
> -------------------
>
> Kekerasan mirip IPDN muncul di Cilacap
> http://www.kotapurwokerto.info/index.php?pilih=lihat&id=56
>
> Tiap apel siang siswa dipukul 10 kali
>
> CILACAP - Aksi kekerasan yang mengarah pada tindakan penganiayaan
> menyerupai
> kasus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), terjadi di Cilacap.
> Sebuah
> sekolah pelayaran diindikasikan telah menjadikan aksi kekerasan bermodus
> senioritas. Kasus ini mulai terungkap ketika Jumat (4/5) siang, salah
> seorang siswa dilarikan ke Puskesmas lantaran menderita gangguan
> pernafasan,
> setelah berkali-kali perutnya menerima pukulan dari para seniornya.
>
> Dari fisiknya, sepintas korban yang berinisial RK (16) memang dalam
> kondisi
> sehat, tetapi di bagian perutnya, terdapat sisa lebam akibat pukulan. Hal
> ini mengakibatkan RK mengalami sesak nafas sejak dua hari terakhir.
>
> Keterangan yang dihimpun Wawasan dari pihak Puskesmas menyebutkan, RK yang
> merupakan warga Cilacap Tengah, menderita luka dalam di bagian perut dan
> dada. Sayangnya pihak Puskesmas enggan memberikan keterangan lebih lanjut
> mengenai hasil diagnosis RK, termasuk belum diketahui hasil rontgennya.
>
> ''Kalau lagi berdiri sih nggak sakit, tapi kalau buat sujud atau jongkok
> sakit sekali. Saya dibawa ke Puskesmas tanpa sepengetahuan sekolah, karena
> saya takut. Sebenarnya saya pinginnya tetap sekolah, tapi sejak Kamis
> malam
> sakitnya bertambah. Dan kata dokter disarankan untuk istirahat tiga hari
> agar luka dalam saya sembuh,'' kata RK kepada wartawan yang menemui di
> rumahnya.
>
> Ia juga menjelaskan, aksi pemukulan telah menjadi santapan sehari-hari,
> hanya saja kali ini pukulan para se-niornya banyak yang mengenai dada.
> Aksi
> ini biasanya dilakukan setiap apel pagi, siang maupun pada jam-jam
> tertentu.
> Kekerasan lain berupa tamparan.
>
> ''Terutama kalau pas apel siang, kita bisa menerima pukulan sampai 10
> kali,
> bukan hanya dengan bogem, tapi juga pukulan siku tangan, itu pasti. Kalau
> push up dan lari juga setiap hari. Sebenarnya teman-teman yang lain juga
> mengeluh dan sakit, tapi kita nggak ada yang berani menolak, jadi diam
> saja," ujar RK didampingi kedua orang tuanya.
>
> Sebagian sakit Aksi kekerasan ini melibatkan Danyon (komandan batalyon),
> Danton (komandan peleton) atau setingkat pengurus OSIS pada SMA dan
> seluruh
> stafnya, termasuk petugas polisi taruna (poltar) dan poltir (polisi
> taruni)
> yang hampir setiap apel siang seluruhnya menyarangkan pukulan ke perut
> para
> yuniornya.
>
> Menurut korban, ternyata bukan hanya dirinya yang akhirnya jatuh sakit
> akibat tindak kekerasan yang berlarut-larut ini.
>
> "Jumlah siswa sekelas ada 14 anak, separuhnya tidak berangkat karena
> sakit.
> Cuma tidak ada yang berani mengadukan sakitnya.
>
> Kita biarkan saja, karena katanya ada tradisi balas dendam, kalau kita
> sudah
> naik tingkat kelas dua nanti," lanjut RK.
>
> Layaknya di IPDN, para siswa di sekolah ini juga memilih tutup mulut,
> ketimbang harus menanggung risikonya.
>
> Termasuk ketika sejumlah wartawan mencoba mencari keterangan dari siswa
> yang
> lain pun, tidak ada yang berani berkomentar. [ady-sn]

Kirim email ke