"SUSTAINED SILENT READING" DI RUANG MAKAN SAYA

Saat ini keluarga kami punya kegiatan bersama baru. Kegiatan 
tersebut adalah "Sustained Silent Reading" alias membaca dalam hati 
berkelanjutan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak beberapa bulan 
lalu dimana kami sepakat untuk melakukan kegiatan membaca selama 
minimal 30 menit setiap pagi. Ini kegiatan rutin kami setelah kami 
sholat Subuh berjamaah. Ini saya lakukan karena lelah meminta 
sekolah anak kami agar mau melakukan program Sustained Silent 
Reading ini di sekolah anak saya dan tidak mendapat tanggapan yang 
memadai. Akhirnya saya putuskan untuk melakukannya sendiri di rumah. 
Sebuah keputusan yang sangat saya syukuri. Jadi setelah sholat Subuh 
kami langsung mengambil buku bacaan kami masing-masing dan tenggelam 
dalam buku bacaan kami sendiri-sendiri di meja makan. 

Meski baru berjalan beberapa bulan tapi kegiatan ini sungguh 
menggembirakan hati saya. Yubi,  anak pertama saya yang duduk di SMP 
kelas 1, telah menyelesaikan beberapa buku fiksi kesukaannya dan 
pagi ini ia pasti akan dapat  menyelesaikan "Eragon" karya 
Christopher Paolini yang tebalnya lebih dari 500 halaman itu. Itu 
bukan buku tebal pertamanya. Ia juga telah menyelesaikan beberapa 
seri Harry Potter yang tidak kalah tebalnya. Tebalnya buku nampaknya 
sudah tidak membuatnya gentar seperti dulu. Banyak orang dewasa yang 
menolak untuk membaca buku yang tebalnya hanya 200 halaman dan 
menganggap membaca sebagai siksaan. Anak saya telah mengalahkan rasa 
enggannya membaca buku tebal.
Pada mulanya ia tidak nampak tertarik dengan cerita "Eragon" tapi 
semakin lama ia membaca nampaknya kisahnya semakin menarik sehingga 
ia bahkan mendedikasikan waktu luangnya untuk membaca buku tersebut 
di luar waktu SSR kami. Saya pernah melihatnya tenggelam dalam buku 
itu selagi ia bersama teman-temannya yang asyik bermain. 
Nampaknya "Eragon" lebih menarik ketimbang permainan dengan teman-
temannya saat itu. Saya jadi ingat diri saya ketika seusianya yang 
juga gemar membaca. Saya menjadi tersiksa jika harus berlibur ke 
desa orang tua yang tidak ada buku bacaannya. Saya yakin ia akan 
menjadi `voracious reader' kelak dan ketrampilannya membaca akan 
sangat membantunya dalam kehidupannya di masa mendatang seperti saya 
banyak terbantu dengannya. Kemarin ibunya memberitahu bahwa ia 
memperoleh nilai tertinggi untuk program membaca cepat di kelasnya. 
Ia tentu bangga dengan hal tersebut mengingat prestasinya dalam 
pelajaran yang BBS, alias biasa-biasa saja.
Yufi, yang berumur 8 tahun, lebih suka membaca buku-buku ilmu 
pengetahuan ketimbang fiksi. Buku-buku tentang alam semesta dan 
jagad raya membuatnya terpesona. Ia bisa lama mengamati gambar-
gambar dan ilustrasi tentang planet, asteroid, dan bintang-bintang. 
Ia nampak mengaguminya. Ia memang dalam banyak hal berbeda dengan 
kakaknya. Ia suka matematika dan IPA tapi kakaknya membencinya. 
Pagi ini ia mulai membaca buku yang baru saja saya belikan untuknya 
yaitu "100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa"  bukunya Stephen J. 
Spignesi. Sampai dua bulan terakhir ini ia masih sering ganti buku 
berkali-kali dalam sesi membaca yang 30 menit tersebut. Pada awalnya 
ia berganti-ganti buku setiap lima menit sehingga ia memenuhi meja 
makan kami dengan buku-buku yang tidak selesai ia baca. Kami 
membiarkannya karena itu memang proses alami dalam `early reading'. 
Buku bacaan favoritnya adalah Seri Ilmu Pengetahuan dari Hamparan 
Dunia Ilmu- Time Life yang dibeli oleh istri saya secara kredit 
beberapa tahun yang lalu ketika saya masih di Surabaya. Harga buku 
tersebut cukup mahal untuk ukuran kantong saya waktu itu dan ketika 
buku tersebut tetap dalam boksnya tanpa ada yang membaca saya 
menjadi uring-uringan pada istri saya. Untunglah kemudian kami mampu 
beli lemari buku dan buku tersebut kami pajang di ruang keluarga. 
Sejak itu buku tersebut menjadi kunjungan favorit bagi keponakan-
keponakan saya yang banyak itu. Sungguh senang melihat anak-anak 
membuka buku-buku tersebut dan terpesona oleh gambar-gambar dan 
ilustrasinya. Mereka dengan asyiknya berkomentar satu sama lain 
tentang gambar dan ilustrasi yang menurut mereka menarik. Yubi dan 
Yufi biasanya berperan menjelaskan gambar-gambar tersebut karena 
mereka sudah melihat atau membacanya berulang-ulang. Biasanya istri 
saya selalu bertindak sebagai `book-watch' dan setiap kali anak-anak 
itu membuka dengan sembrono atau bahkan mendudukinya ia akan 
berteriak untuk mengingatkan mereka bagaimana cara membaca yang 
baik. Sesekali ada keponakan yang terkena sanksi tidak boleh ambil 
buku dan baca sendiri karena pernah menyobek buku tanpa sengaja. 
Istri saya mungkin masih `traumatik' dengan mahalnya cicilan buku 
tersebut sehingga ia harus mengencangkan ikat pinggangnya selama 
setahun. Tapi kini melihat Yufi membaca buku-buku tersebut dengan 
penuh gairah sungguh membuat pengorbanan kami tersebut jadi 
terbayarkan. 
Istri saya sendiri bukanlah `a reader'. Ia tumbuh dalam lingkungan 
yang tidak beriklim membaca seperti keluarga saya. Ia lama tinggal 
di desa dan satu-satunya tempat di mana buku bacaan bisa dipinjam 
adalah perpustakaan keliling yang seminggu sekali lewat desanya. 
Keluarganya juga bukan penikmat buku sehingga ia tidak memiliki 
kemampuan membaca sebaik anak-anak kami. Ia mengatakan bahwa Yubi 
memiliki kecepatan membaca dan memahami lebih baik darinya.
Untuk melatihnya saya sering memintanya untuk membaca buku-buku 
tentang pendidikan anak yang telah saya baca dan saya tandai dengan 
Stabilo Boss agar memudahkannya menangkap inti bacaan. Karena malu 
dengan kemampuan anak-anaknya ia menjadi terdorong untuk juga 
membaca. Meski ia mengaku bahwa sulit baginya untuk memahami bacaan 
yang berat dan kalimat yang panjang-panjang. Sering ia hanya membaca 
dua atau tiga halaman dari sebuah buku dan tertidur karena lelah 
membacanya. Meski demikian saya mesti mengakui bahwa ia seorang 
pembaca yang tidak kenal putus asa. Meski untuk membaca sebuah buku 
ia mesti menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu ia 
tidak putus asa. Saat ini ia telah berhasil menyelesaikan membaca 
cukup banyak buku tentang pendidikan anak dan agama dan bahkan fasih 
berbicara tentang pendidikan anak kepada adik-adiknya. Saat ini ia 
bahkan dianggap sebagai `intelektual' oleh saudara-saudaranya karena 
kemampuannya menjelaskan beberapa hal tentang pendidikan anak yang 
dikuasainya dari buku bacaannya.  It's a big jump for her! Jangan 
salah kira. Istri saya lulusan akademi pariwisata.
Dan begitulah. Pagi itu ketika kami semua asyik dengan bacaan kami 
masing-masing tiba-tiba Yufi melontarkan pertanyaan yang tak 
terduga. "Kenapa sih Tuhan itu menciptakan bencana?" seolah bertanya 
pada dirinya sendiri. Saya tiba-tiba terdiam dan tidak mampu 
menjawab. Meski sederhana ini bukan pertanyaan yang mudah untuk saya 
jawab. Ini pertanyaan yang `filosofis' bagi saya. Otak saya langsung 
bekerja untuk mencari-cari jawaban yang pas untuknya. Pertama muncul 
jawaban bahwa Tuhan tidak menciptakan bencana, tapi manusialah yang 
menciptakannya. Di benak saya lantas berkelebat berbagai bencana 
penyakit, banjir dan longsor yang menimpa banyak daerah belakangan 
ini. Dibelakang itu terpampang gambaran berbagai perbuatan manusia 
yang merusak seperti korupsi, serakah, tamak, jorok, dll. Tapi 
jawaban itu saya tepis karena akan menimbulkan pertanyaan lebih 
lanjut yang saya tidak akan siap menjawabnya. Lalu muncul jawaban 
lain bahwa Tuhan marah dan menghukum manusia karena kesalahan-
kesalahannya. Tapi ini juga saya tolak karena saya tidak ingin ia 
mempunyai kesan bahwa Tuhan itu Maha Pemarah atau Maha Penghukum. 
Saya tetap ingin ia memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu Maha Pengasih 
dan Penyayang lebih dahulu sebelum ia mengerti bahwa Tuhan juga bisa 
menghukum manusia atas kesalahan-kesalahannya. Jadi jawaban itu saya 
pinggirkan juga. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian dan saya 
belum bisa menjawab ketika tiba-tiba istri saya menyelamatkan saya 
dengan menjawab.
"Tuhan menciptakan bencana karena Ia ingin menguji siapa diantara 
kita yang beriman dan yang tidak."  Syukurlah!
Jawaban standar memang, tapi daripada saya tidak bisa menjawab. Saya 
mesti memberi kredit untuk istri saya karena itu. Semula saya kuatir 
bahwa jawaban tersebut bakal mengundang pertanyaan lain yang lebih 
rumit dari Yufi tapi ternyata tidak. Nampaknya ia cukup puas dengan 
jawaban tersebut. Konsep beriman dan kafir nampaknya sedikitnya 
sudah ia pahami atau paling tidak pernah diajarkan padanya dari 
sekolahnya di Istiqamah. Atau ia mungkin ia sekedar bertanya dalam 
hati saja tentang mengapa Tuhan menciptakan bencana setelah membaca 
buku tersebut.
Sampai siang ini saya masih tetap bersyukur bahwa kegiatan membaca 
kami tersebut dapat membuat Yufi melontarkan pertanyaan 
yang `filosofis' seperti itu. Pertanyaan tersebut tentunya tidak 
akan terlontar atau tidak akan pernah ada dibenaknya jika ia tidak 
membaca tentang bencana. Apa yang dibacanya membuatnya menjadi lebih 
ingin tahu lebih banyak. Saya yakin kelak ia akan mencari tahu 
sendiri berbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya. Dan 
jika ia memiliki ketrampilan membaca maka ia akan tahu bagaimana 
cara untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya dan 
dimana ia bisamendapatkannya. Membaca telah memberinya bekal untuk 
mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya di masa depan.

Balikpapan, 21 Februari 2006
Satria Dharma


Kirim email ke