Hmm...rupa-rupanya para pendekar Kompatiologi turun mulai gunung semua untuk 
bahu-membahu membela pendekar wanitanya, Cornelia Istiani. Saya jadi 
tersanjung. He he he.

  Vincent Liong meragukan kredibilitas saya dalam memahami tulisan Audifax? Go 
ahead. Sah-sah saja. Sama sahnya dengan keraguan saya atas kredibilitas Vincent 
Liong dalam memahami tulisan Audifax, dan juga komentar saya kepada Audifax. 
Saya sampaikan sekali lagi, dengan lebih ringkas dan lugas, supaya Vincent 
Liong tak "tertipu" lagi: pelbagai  kritik terhadap feminisme oleh Cornelia dan 
Mang Iyus, serta gagasan Audifax tentang pengaruh posmo dalam feminisme, SUDAH 
menjadi lahan garapan dan proses kritik diri dari feminisme kontemporer. Jadi, 
jika kritik-kritik tersebut baru disampaikan kini, maka jawabannya sudah ada 
semua karena memang feminisme telah menyerap kritik-kritik itu dan 
menjadikannya sebagai bagian dari proses evolusi pemikiran-pemikiran feminis. 
Makanya, baca, baca, baca, supaya nggak ngerasa bahwa dirinya sudah sangat 
ngerti dan paham, padahal pengetahuannya sudah menjadi bagian dari inventori 
yang ada. Ini sama saja dengan mengkritik orang yang dianggap
 masih pakai Pentium 1, dan menyarankan pada orang itu untuk pakai Pentium III, 
padahal orang itu sudah pakai Pentium IV.

  Maka itu, bagi saya, judul MEMBACA ULANG (MELAMPAUI) FEMINISME bagi para 
feminis kontemporer adalah sebuah proses yang telah dilalui oleh mereka sendiri 
sebelum para dedengkot Kompatiologi angkat bicara soal feminisme. Namun, karena 
pendekar ini tak merasa perlu menyimak saran saya untuk membaca dulu sebelum 
mulai menilai, hasilnya ya gini: Tak kunjung nyambung. Mau bukti, Vincent? 
Lihat daftar pustaka di bawah artikel Audifax. Hampir 100% sumber-sumber kritis 
tentang feminisme itu adalah hasil tulisan para feminis sendiri. Rosemary 
Putnam Thong dan Aquarini Prabasmoro adalah pemikir dan intelektual feminis! 
Buku Thong yang diterjemahkan Aquarini itu merupakan overview terhadap pelbagai 
pemikiran feminis masa kini, yang fokusnya pada self-questioning.

  Oh ya, untuk catatan Anda juga: feminisme masa kini tak lagi mempersoalkan 
dikotomi objektif dan subjektif. Semua riset berperspektif perempuan, bagi 
feminisme, tak hanya boleh mengklaim objektivitas, tetpai juga harus mengakui 
subjektivitasnya. Mengapa? Karena feminisme bukan "ilmu murni". Feminisme ada 
untuk memperjuangkan perbaikan nasib dan hidup perempuan. jadi, ia jelas-jelas 
berpihak dan punya kepentingan. Ini diakui, tidak disembunyikan.

  Saran saya agar mencoba mendapatkan esensi dan tak berkutat pada persoalan 
kontekstualisasi seharusnya Anda tujukan pada rekan-rekan Anda yang angkat 
bicara soal feminisme. Carilah esensi feminisme terlebih dahulu sebelum mulai 
melancarkan serangan. Kalo enggak. nanti kecele. Anda sendiri sebagai boss-nya 
Kompatiologi jangan-jangan juga kecele...

  manneke



Vincent Liong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  "manneke budiman" wrote:

Point-point penting dalam tulisan Audifax inilah yang
sejauh ini telah digarap oleh kaum feminis gelombang
ketiga yang berbasis Dunia Ketiga. Maka itu, saya tak
bosan-bosannya menyarankan kepada teman-teman di
mediacare, termasuk kepada Cornelia dan Mang Iyus,
yang kritis pada feminisme untuk membaca dan mencari
tahu perkembangan mutakhir feminisme, supaya kritik
mereka tidak terpaku pada gagasan-gagasan feminisme
liberal berbasis Barat yang sebetulnya telah beberapa
waktu ditinggalkan.

Tulisan Audifax justru dengan objektif memperlihatkan
sampai di mana perkembangan pemikiran feminisme pada
saat ini, yang telah berbaur dengan berbagai konsep
dan wawasan yang berangkat dari posmodernisme dan
poskolonialisme. Kini, bahkan concern utama feminisme
adalah pada gagasan-gagasan seperti gender sebagai
bagian dari performativity (Judith Butler), pada
hibriidity (Ien Ang), pada persilangan perjuangan
gender, ras dan kelas (Chandra Mohanty), serta pada
perlawanan terhadap feminisme liberal (beel hooks).
Literatur inilah yang perlu dibaca dulu oleh Cornelia
dan Mang Iyus, supaya kritiknya terhadap feminisme
tidak ketinggalan zaman.

Terima kasih atas forward-nya. Saya selalu mengagumi
kejernihan pikiran dan keluasan pengetahuan Audifax.
Di mata saya, dia adalah Kompatiolog ulung yang
mumpuni. Tolong sampaikan salam kenal saya kepada
Beliau.

manneke


Vincent Liong answer:

Sdr Manneke Budiman,

Saya jadi meragukan kredibilitas anda dalam memahami
tulisan: “MEMBACA ULANG [MELAMPAUI] FEMINISME” karya
rekan Audifax tsb. Masalahnya, ketika anda mengkritisi
bahwa Cornelia Istiani & Mang Iyus ketinggalan jaman,
pada kenyataannya Audifax merangkum (tanpa ditambahi
bumbu) dan menulis ulang apa yang diceritakan secara
lisan per telepon oleh Cornelia Istiani dengan bahasa
sehari-hari, ke bahasa filsafat. Tidak ada yang
berubah, hanya penggunaan bahasa kontekstualnya saja.

Permasalahan dari pembahasan masalah berbasis
ilmupengetahuan sosial resmi adalah pada konteks
mengkultuskan kata-kata, definisi-definisi canggih itu
sendiri secara objective (impersonal) dengan range
pengguna bahasa yang sangat lokal. Antara satu
golongan dengan golongan yang lain memiliki tatabahasa
yang berbeda sehingga seolah-olah semua bertentangan,
padahal bahasa kontekstualnya saja yang beda.
Pembahasan masalah berbasis ilmupengetahuan sosial
resmi yang objective (impersonal) membuat kehilangan
ikatan dengan konteks yang lebih subjective
(personal).

Bicara tentang pembahasan ala ilmupengetahuan sosial
resmi entah itu bernama feminisme, global warming,
dlsb tidak pernah lepas dari kepentingan satu golongan
terhadap golongan yang lain dengan bahasa kontekstual
yang dibela golongan masing-masing.

Misalnya ketika bicara tentang masalah cekcok mulut
dalam ikatan pernikahan. Yang pemposisian dirinya
adalah isteri sehingga berkepentingan untuk membela
feminisme akan menuntut suami ke pengadilan bila sang
suami berbicara kasar, Yang pemposisian dirinya adalah
suami sehingga berkepentingan untuk membela
maskulinisme akan menuntut isteri bila sang isteri
berbicara kasar. Masing-masing pihak akan menuntut
bargaining price yang harus dibayar sebagai pihak
lawan sebagai ganti-rugi, Misalnya: Sang suami
mendapat haknya untuk memiliki isteri yang baru
sehingga punya lebih dari satu isteri, sang isteri
menuntut haknya untuk tidak menjalankan posisinya
dalam peran mengurus keluarga, dlsb.

Banyak sekali peran bapak rumahtangga dan ibu
rumahtangga yang berjalan tanpa perlu mencari
pembelaan di luar keluarga untuk mempersalahkan
anggota keluarganya sendiri, misalnya di rumah saya
bapak saya yang menjalankan peran untuk berbelanja
kebutuhan sehari-hari ke supermarket dan pasar, juga
memperbaiki rumah bila ada kerusakan. Maskulinisme
yang menganggap perempuan harus tahu diri dan
feminisme yang menganggap yang menganggap laki-laki
harus tahu diri sama-sama adalah believe sistem untuk
membela diri sendiri, sehingga tidak ada lagi
persaingan yang egaliter yang sifatnya sesuai
pemposisian diri, tempat dan waktu yang apa adanya.
Dalam persaingan yang egaliter orang harus tahu diri,
di mana titik kesepakatan diam-diam antara satu pihak
dengan pihak lain tanpa perlu mempertengkarkannya.


Seperti pernah saya tulis di salahsatu tulisan saya…
Subject: Kompatiologi: Zaman Feodal menuju Zaman
Pedagang
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20446
---
Ada suatu masa dimana antar saudara saling berdagang,
anak terlibat tawar menawar dalam berdagang dengan
bapaknya, suami berdagang dengan isterinya. Antara
mertua dan menantu juga saling berdagang. Zaman itu
nanti bisa katakan sebagai zaman pedagang.

Sadar tidak sadar dalam hubungan egaliter, seorang
ayah membutuhkan keinginan anaknya untuk mau
mengerjakan PR dan si anak membutuhkan ayahnya untuk
membelikannya DVD Playstation. Proses tawar menawar
dalam dagang ini bisa terhambat (stop prosesnya) bila
sang ayah mampu menceramahi anaknya, hingga anaknya
meyakini pola pikir yang hirarkis bahwa seorang anak
harus mengikuti nasehat orangtua agar menjadi anak
yang baik dan disayang orangtua.
---

Sdr Manneke cobalah untuk mendapatkan esensinya, bukan
mendapatkan bahasa kontekstualnya yang kelihatan
bertentangan satu sama lain. Maka dari itu tidak
seperti praktisi dan teoritisi ilmupengetahuan sosial
resmi yang seragam di bahasa kontekstualnya (kulit
luarnya) saja, kompatiologi tampak berbeda-beda bahasa
kontekstualnya tergantung pemposisian dirinya, tetapi
memiliki keseragaman essensialnya. Seperti anda bisa
lihat “LAMPIRAN Info Pendekon Kompatiologi”
di bawah ini.

Note: Baca keterangan tentang ciri-ciri dan
spesialisasi masing-masing pribadi pendekon di bawah
nama lengkap pendekon.

Semoga anda tidak tertipu lagi…


Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Selasa, 8 Mei 2007


Kirim email ke