Mas John,
terimakasih atas opini anda berdasarkan apa yang anda lihat di daerah
tersebut, semoga memang benar mewakili bahwa kondisi student kita secara umum
telah memiliki kemampuan berbahasa inggris (percakapan) yang walaupun grammar
masih kurang baik.
saya cuma mengingatkan saja lho bahwa kemampuan percakapan, membaca dan
bahkan menulis dengan pemahaman yang benar adalah sangat jauh berbeda dan
terkadang bisa menimbulkan kesalah pengertian bagi para pihakyang terlibat.
saya senang jalan-jalan ke daerah yang sedikit berbeda dengan mas John, saya
senang jalan-jalan di daerah kwitang - senen dan sekitarnya, biasa cari bacaan
ringan dan bekas dan terus terang disana saya sering mendengar percakapan yang
menyiratkan bahwa si pelaku kurang mampu dalam bahasa inggris sehingga berusaha
mencari terjemahan atau alih bahasa text book yang diinginkannya.
tapi sekali lagi itu tidak berarti benar juga kesimpulan saya ya Mas!
yang penting dalam topik awal sebenarnya gimana sih menumbuhkan kembali minat
baca bangsa ini bisa bangkit dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada.
thanks n salam,
csd
john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Chairil,
Kalau dikatakan kemampuan berbahasa asing student kita minim sekali, saya kok
kurang sependapat.
Saya saksikan sendiri, ketika jalan-jalan di Mangga Dua, seorang sales wanita
atau SPG (saya kira masih berusia 20 tahunan) dengan bahasa Inggris yang lancar
(terlepas dari grammar yang agak kacau), dapat menjelaskan produknya kepada
seorang tamu asing (bule).
Di Ratu Plaza, Jakarta Selatan, juga sama. Para sales wanita (SPG) dengan fasih
melayani para tamu asing (bule) yang asyik berbelanja DVD. Sekali lagi
percakapan dilakukan dalam bahasa Inggris yang lancar.
Salam.