Dear All, khusus Bung Irry, Sutan Sjahrir dan Moh Hatta, antara lain, dipuja-puji almarhum JB Mangunwijawa sebagai putra-putra Masa depan "nation" Indonesia. Mereka sosialis sejati. Kalau perkembangan dunia misalnya mengubah Negeri Tirai Bambu Cina, dari tampak sebagai sosialis tetapi esensinya kapitalis, perlu pula ditanya, sebaiknya kita menjadi Sosialis atau Kapitalis, atau pengawinan keduanya? Deng Xiao Ping-lah yang bicara tentang itu. Rupanya, diam-diam Kelompok Kompas Gramedia mengamini bentuk tengah: ideologi sosialis-kapitalis sekaligus.
Kalau tanya Sosialis-Menteng? Mungkin tinggal nama jalan Moh Hosni Thamrin atau Sutan Sjahrir yang menjadi guru bangsa. Selebihnya, "Socialism is dead". Hopefully, I am wrong. wassalam, berthy b raharin --- Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Revolusi bukan hal yang mudah dan membutuhkan syarat > syarat obyektif tertentu. Salah satu yang terutama > adalah kesadaran kelas. Apa iya kesadaran kelas itu > ada di tanah air ? Saya kok tidak yakin tau lebih > tepat yakin tidak ada. Indikasinya, lihat saja sudah > berapa orang mencoba membangun partai buruh...tidak > pernah sukses...selalu gagal. > > Tahun 1997, soliditas masa untuk melawan Suharto / > Orde Baru relatif tinggi. Saat itu, mungkin jika > radikalisme massa didorong untuk revolusi...hal > tersebut bisa terjadi. Namun, sejaki lagi...lihat > nasib duapartai yang radikal waktu itu, PRD dan > PUDI. Tidak dapat dukungan apa apa. Revolusi yang > dipaksakan tanpa kondisi obyektif akan sia-sia...dan > revolusi seperti itu lah yang akan memakan anaknya > sendiri secara ganas. > > Dan pemimpin pemimpin kita yang mengususng > sosialisme atau yang menyatakan membela rakyat > kecil. Berapa yang konsisten ? Banyak anak menteng > yang menjadi tokoh sosialis. Seberapa besar > militansi dalam membela kaum lemah, jika para elit > ini tidak pernah mengalami kondisi / posisi sebagai > orang lemah ? Sangat sulit. Tahun 1996 - 1999 PDI > (P) menjadi harapan massa dan dianggap partai wong > cilik. Kita tahu bagaimana prilaku elit elitnya dari > pusat hingga daerah ketika menjadi rulling partai. > > Bagaimana dengan sekarang ? idak banyak berbeda. > > Jadi, mari kita tidak bermimpi tentang revolusi > hanya karena ada kekecewaan kepada para elit semata. > Baca dan pelajari metoda metodanya dan pertimbangkan > apakah realitas obyektifnya cukup untuk mendorong > revolusi. Kecuali kalau kita hanya iseng menulis. > > Yang mungkin lebih realistis, adalah memikirkan > bagaimana mendorong orang seperti Morales atau > Chaves hadir sebagai pemimpin di Indonesia ini ? > Cerdas, empati pada rakyat dan memiliki keberanian > moral yang tinggi. Apakah ada partai yang siap untuk > mengusung orang dengan karakter seperti itu ? > Ataukah partai partai siap menerima calon independen > sebagai pemimpin, agar orang dengan karakter > tersebut bisa muncul ? > > Salam nanosolidarity, > > Irry
