Dear All,

Setiap kisah ceritera dengan pesan moral senantiasa
tidak lengkap. Senantiasa ada sisi yang perlu
dikritisi agar pesan moralnya seimbang. Analisis kisah
parabel ataupun analogi dan bentuk kisah lain dengan
pesan moral, TIDAK SENANTIASA ada dalam posisi UTUH
memberi pesan moral. Untuk suatu kisah dengan pesan
moral, message moral dapat diterima, namun senantiasa
perlu dengan catatan kritis, KARENA kisah parabel atau
analagi dan lain, senantiasa mengandung
ketimpangannya.

Kisah "Monyet dengan Keakuannya", dari "ORIGINAL
QUOTE", sebenanya bukan TOPLES GELAS, malainkan
"Tempurung"/"geluk" utuh yang digunakan untuk
menangkap monyet yang "tidak dapat melepas tangannya,
karena genggaman tangannya dalam geluk tidak dibuka"
sehingga, dengan mudah mereka, monyet ditangkap. Pesan
moralnya, sebenarnya "keserakahan akan menutup hati
manusia" untuk membuka tangan bagi orang lain.

Dendam dapat dihermeneutikkan sebagai "pemendaman
keakuan" (parabel kisah monyet) sehingga dapat keluar
dalam pelbagai bentuk kompensasi. Dendam kesumat dalam
sejarah bangsa lebih banyak ada dalam wilayah sejarah
Ken Arok, dan pribadi/suku bangsa dengan cara "senyum
dan mensublimasi" pelbagai perasaan dalam keakuan.
Para penulis sejarah, HB Jassin (paus sastra dan
kritikus), para kritikus sosial, tidak serta-merta
dianggap sebagai pendendam.

Revenge (dendam) senantiasa bermotifkan nafsu rendah
untuk mengalahkan lawan. Tidak senantiasa dengan cara
offensif. Kebanyakan denga cara SUBLIMASI perasaan dan
kepentingan. Orang yang penuh senyum dan tampak
tenang, senantiasa bukan pribadi pengampun. Dan orang
vokal di wilayah lahiriah, bukan senantiasa menjadi
para pendendam.

Kritik vokal dan proporsional, terkadang sangat
menyakitkan sekalipun, demi membangkitkan pihak yang
dikritisi, mengurangi bahkan meniadakan dendam di hati
sana. Dendam berhubungan dengan cara pikir hanya untuk
menghabiskan lawan, atas cara kasar maupun teramat
santun. Kritik yang senantiasa untuk membangun kawan
diskusi/dialog, atau bahkan teman debat, terarah pada
peneguhan lawan bicara.

Dendam berada dalam wilayah RELATIF. Orang yang vokal
belum tentu pendendam, dan yang penuh senyum, belum
tentu pengampun. Mari kita uji dalam psikologi
Analisis Transaksional Thomas Harris.

wassalam,

berthy b rahawarin

--- astuti wikan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tentang penyakit hati, saya punya pengalaman
> lho...untuk mengatasinya. Dikala kita lagi benci
> sama
> orang, lagi marah, kecewa dendam. Kita ambil sehelai
> kertas, kita tulis surat entah kita tujukan ke
> kawan,
> saudara atau orang tua. Keluar deh semua uneg-uneg
> kita, lega kan...seolah-olah kita sudah cerita semua
> ke orang.
> 
> Kita sobek kertas tersebut, dan penyakit hati pun
> hilang, tanpa menyakiti orang lain. Simpel kan..dan
> kita bisa tidur nyenyak.
> 
> Wassalam

Kirim email ke