Setuju sekali mas Kukuh, Point yang mendasar ini sebenarnya kalo ngga salah pernah di utarakan oleh mbak Ratih G. Cuma saya lupa apakah di forum ini atau di alumni Jerman. Jadi hemat saya, engga melulu ayam dan telur, melainkan AWAL nya itu sebenarnya ADA. Menurut saya letaknya pada metode pendidikan kita sejak awal (paling tidak saat saya makan sekolahan tahun 60-70an) yang lebih memprioritaskan "MEMBACA ejaan" dari abjad yang tersusun menjadi suatu tulisan. Hal ini sangat berbeda dengan MENGERTI/PAHAM isi atau makna/pesan suatu tulisan, terlepas dari "susunan abjad" yang dibaca. Exercise TERBAIK untuk ini, seperti telah anda katakan, adalah "retelling", yang zaman saya dulu, ngga ada. Coba aja renungkan, mengapa disaat ulangan/tes/ujian membawa buku yang terkait, adalah TABU alias DILARANG, dan coba telaah bentuk soal/pertanyaan pada umumnya .. yaitu jawabannya sudah tercetak di buku. Berarti cara pembuatan soal tersebut terlalu sangat sederhana, bila tak mau dikatakan primitive, yaitu "mencomot" salah satu kalimat dari buku, dirubah tanpa harus banyak berfantasi, menjadi satu pertanyaan, yang jawabannya adalah kalimat itu sendiri. Saat ijazah SMA saya harus "disetarakan" di Kolleg jerman, saya kaget mendengar bahwa pada hampir setiap ujian/tes/ulangan akan selalu "open book". Kesan pertama tentu: gampang dong!? He .. he .. ya keliru besar. Saat itu saya terpaksa secara perlahan menyadari apa artinya membaca dan mengerti. Bersamaan dengan itu timbul kesadaran, bahwa hingga saat itu saya hanya terbiasa lebih memprioritaskan menghafal. Bagi saya tidak ada pilihan lain, harus berupaya keras untuk merobah cara membaca bila ingin menyelesaikan study dengan benar. Pada akhirnya itu semua tetap tidak merobah "selera" baca saya, yaitu tetap sangat terlalu rendah dibandingkan dengan kebanyakan warga jerman yang memang telah terbiasa sejak kecil, baik di bangku sekolah maupun di lingkungan luar sekolah yang kondisinya sangat mendukung untuk gemar membaca secara benar. Malah secara implizit seorang berselera baca seperti saya ini dinilai oleh masyarakat sana sebagai "primitive/uneducated". Kembali ke topik, awalnya adalah pemegang dan pelaksana kebijakan wajib mewujudkan (bertahap?) kondisi ujian, dimana si pembuat soal tidak diperkenankan "asal comot" kalimat dari buku, dan si murid tidak dimungkinkan mendapatkan kalimat jawaban dari dalam buku. Tentu itu suatu proses kerja keras dari berbagai pihak dan tidak semudah membalik tangan. Tentu .. saya sadari, uraian saya ini mengingat kondisi republic dewasa ini, bagaikan "punguk merindukan rembulan" (bener ngga sih?), wong ngurusin lapindo aja yang begitu jelas permasalahannya .. ora rampung-rampung .. Salam Bodo
--- In [email protected], kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Minat baca saya untuk topik ini semula memang rendah, karena semenjak saya bergabung dengan milis FPK ini kalau sudah berbicara yg berkaitan dengan soal yg satu ini jadinya seperti ayam dan telur......apalagi kalau kemudian berujung pada uang. > > Namun, masalah yg mendasar berkaitan dengan minat baca tidak pernah dikupas, dibahas dan dicarikan penyelesaiannya dengan seksama, yaitu masalah pendidikan. > > Bagaimana mau ada minat baca, kalaupun uang ada, kalau sedari di sekolah dasar tidak pernah diajarkan membaca dan menceritakan kembali apa yg sudah dibaca (story telling), jadi tidak ada upaya untuk menggairahkan minat baca secara teratur, terukur dan berkelanjutan... > > Bagaimana guru bisa menularkan gemar membaca, kalau gurunya sendiri tidak diberdayakan untuk punya kesempatan membaca....nah lo kan sudah mulai muter....apalagi ujiannya nanti pilihan ganda....tahu masih ada nggak sih ujian atau pelajaran mengarang?? > > Bingung... > > Salam > Kukuh
