Oleh Soelastri Soekirno
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/14/utama/3531076.htm
========================

Karena mengambil uang suaminya, seorang ibu rumah tangga warga
Ciledug, Kota Tangerang, dipukuli sang suami. Tindakan itu terpaksa
dilakukan sang istri karena uang jatah belanja Rp 5.000-Rp 15.000 per
hari tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan.

Memang, mahalnya harga bahan pangan dan pendukungnya membuat beban
kehidupan sehari-hari makin berat. Akibatnya, orang bisa saja lalu
melakukan tindakan tidak bijak.

Di Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, suami
istri yang menghadapi kesulitan ekonomi bahkan menempuh jalan pintas.
Mereka melakukan bunuh diri bersama dengan cara gantung dini, Sabtu
(12/5).

Sepasang suami istri yang nekat bunuh diri itu adalah Samad bin Yad
(45) dan istrinya, Titik (45). Keduanya ditemukan sudah meninggal
dalam keadaan tergantung di dalam rumahnya. Tragis memang!

"Peristiwa (bunuh diri) ini membuat saya prihatin, apalagi karena
alasan ekonomi. Perlu ada solusi dan upaya bersama untuk meningkatkan
taraf ekonomi masyarakat di desa tersebut," kata Kepala Polsek Serang
Ajun Komisaris Badari yang ditemui Kompas, kemarin.

Persoalan ekonomi membuat banyak ibu rumah tangga harus
bersungut-sungut dan bahkan sering didamprat ketika minta uang belanja
kepada suami.

Ibu rumah tangga asal Ciledug itu, misalnya, sering harus mengambil
uang dari saku celana panjang suaminya hanya untuk menambah uang
pembeli beras atau lauk-pauk.

Celakanya, sang suami yang sehari-hari menjadi pak ogah atau pengatur
lalu lintas liar di Jalan Raya Ciledug tak bisa menerima tindakan
istrinya. Begitu mengetahui tindakan istrinya, dianiayalah istri yang
sudah memberinya tiga anak itu.

"Kadang dia ngambil Rp 5.000 atau Rp 10.000. Katanya untuk beli beras.
Saya jadi jengkel," aku HS (31), suami Ipah, kepada Kepala Polsek
Metro Kota Ciledug Ajun Komisaris UA Triyanto beberapa waktu lalu.

Keluarga sang istri yang tak bisa menerima penganiayaan itu melaporkan
tindakan HS ke Polsek Kota Ciledug. Dalam percakapan singkat dengan
Kepala Polsek terungkap, HS memukuli istrinya karena jengkel uang di
saku celananya sering hilang.

"Berapa uang belanja yang kamu berikan ke istrimu?" tanya Triyanto.

Lelaki itu menjawab, "Kadang Rp 5.000, kadang Rp 10.000 sampai Rp 15.000."

Triyanto makin jengkel mendengar pengakuan itu. "Bagaimana bisa cukup
belanja untuk sekeluarga dengan uang segitu. Harga beras seliter sudah
berapa. Kamu ikut makan tidak?" kata Triyanto lagi. HS dengan polos
menjawab, "Iya, Pak."

Kekurangan uang belanja tak hanya dialami istri HS. Leher para ibu
rumah tangga di banyak tempat bagai makin tercekik oleh melonjaknya
harga bahan pokok. Setelah dihajar mahalnya harga beras, kini harga
minyak goreng naik hingga Rp 8.000 per liter. Harga lauk juga ikut
naik. Telur, misalnya, mencapai Rp 11.000 per kg.

Di sisi lain besar jatah uang belanja tiap hari cenderung tetap, di
Kota Tangerang rata-rata Rp 10.000-Rp 20.000 untuk makan sehari dengan
empat hingga tujuh anggota keluarga.

Pipin dan Saroh, warga Kelurahan Sukarasa Kecamatan Kota Tangerang,
mengaku jatah belanja yang biasa dia terima (Rp 20.000) tak cukup
untuk membeli beras dan lauk-pauk keperluan makannya, suaminya, dan
dua anaknya.

Kedua perempuan yang ditemui pada Sabtu itu lalu menghitung. Harga
beras satu liter kelas sedang Rp 4.000, sayur bayam atau kangkung tiga
ikat Rp 3.000, minyak goreng Rp 2.000 (seperempat liter), minyak tanah
seliter Rp 2.400, tempe Rp 2.500, uang jajan anak Rp 2.000, dan gula
satu plastik kecil Rp 2.000. Sisanya untuk membeli mi instan, sebagai
tambahan lauk atau pengganti makan malam, jika nasi yang dimasak hari
itu tak cukup untuk dimakan.

Ekonomi keluarga

Kasus suami yang membakar istrinya, yakni Tasbirah, di Kota Tangerang,
hingga luka parah; lalu kasus Alimin yang menusuk perut istrinya,
Dewi, hingga tewas di Cililitan, Jakarta Timur, beberapa hari lalu;
kasus Makbulloh yang gegar otak karena dipukul suaminya, Marhotib, di
Bekasi; atau bunuh diri bersama pasangan suami istri Samad dan Titik
di Bekasi yang terjadi pekan lalu, adalah contoh aktual akibat
sulitnya ekonomi masyarakat yang memunculkan kekerasan dalam rumah tangga.

Kejadian kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu membenarkan pendapat
anggota Komisi III DPR Nursyahbani Katjasungkana bahwa kasus KDRT
banyak dipicu faktor ekonomi, pendidikan, dan dominasi lelaki atas
perempuan (tak seimbangnya relasi suami dan istri).

Berbagai faktor itu akhirnya memunculkan kasus kekerasan yang
cenderung naik. LBH APIK Jakarta dalam kurun Januari-April 2007 telah
menangani 140 kasus kekerasan, 83 kasus di antaranya berupa KDRT
dengan korban perempuan. Angka ini jauh lebih banyak daripada periode
sama tahun 2006 yang setahun hanya 324 kasus. (COK) 

Kirim email ke