Ass.Wr.Wb.

Sekali lagi, saya ucapkan selamat pada juara catur cilik kita ini, semoga
prestasi mu akan membawa terus nama Harum Bangsa Indonesia, khususnya pada
Bp. President SBY saya angkat topi, karena dapat menghargai prestasi anak
Bangsa dengan mengundang mereka ke Istana untuk bertemu dengan Pemimpin
Bangsa. Cuma sayang mengapa bagian Protokol tidak memperhatikan mereka atau
membimbing mereka pada etika yang benar, justru karena ada Protokol-lah yang
perlu kita soroti, mengapa bisa terjadi etika protokol tidak dipegang teguh
hanya pada keamanan saja yang diperhatikan. Apa iya tidak ada biaya untuk
dapat membantu mereka dengan baju Seragam yang selalu diperlihatkan antara
kalang Elit Bangsa pada jamuan2 yang sering disorot oleh crew TV Swasta
ataupun di lingkungan Istana.

Wassalam
mamang




On 5/15/07, Pepih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Sebagai penulisnya, saya sadar bahwa fokus utama perhatian tulisan itu
> ada
> pada Farid Firman Syah karena dia adalah Juara Dunia. Memang ada Masruri
> dan
> Sihite, dua pecatur lainnya yang bertanding di Halkidiki. Tetapi dari
> prestasi, Masruri "hanya" berada di peringkat 3 sedang Sihiti di peringkat
> 6. Dalam ilmu tulis menulis, kita mengenai "pendangan fotografik".
> Diibaratkan sebuah momen, katakanlah ada 3 orang yang masuk dalam frame
> foto
> kita, agar foto itu lebih Indah, kamera kita hanya fokus pada 3 orang itu
> dengan mengaburkan latar belakang pemandangan lainnya. Juga, kalau ada
> tiga
> pecatur berprestasi di sana, secara otomatis kita akan memfokuskan kamera
> kita pada si juara dunianya saja bukan. Dan, cerita pun tertumpu (beat)
> pada
> si juara dunia. Itulah gambaran sederhananya. Jika tulisan kita tidak
> fokus,
> tulisan itu tidak bicara apa-apa. Masruri dan Sihiti saya singgung
> sekadarnya saja, tetapi fokus utama tulisan saya itu ada pada Farid. Ini
> sekadar pilihan saja.
>
> Terima kasih atas perhatiannya.
>
> Pepih Nugraha

Kirim email ke