Mbak Yuli,
Sejatinya, apa yang dikatakan Pak Koli Bau benar adanya. Meski saya pun heran
koq Pak Koli baru terheran-heran dengan fakta seperti itu. Beberapa tahun lalu,
ketika saya bekerja dengan British Council (CIMU) untuk program Hibah Belanda,
saya berkesempatan ke bebrapa kabuapten di Flores dan Timor untuk sosialisasi
program. Dari berbagai dialog dan tanya jawab dengan pihak pemda dan sekolah,
saya menangkap kesan kuat muara utama yang menjadi concern mereka adalah
kewenangan/otoritas dan duit. Dua soal ini menjadi amat dominan dalam diskusi
dan tampaknya menjadi daya tarik yang teramat kuat karena berimplikasi pada
motivasi pengerukan rente dari proyek tersebut. Nah..jelas kan orientasinya!
Soal2 penting lain seperti layanan, tanggung jawab, partisipasi masayrakat,
transparansi, akuntabilitas tidak dipedulikan. Tidak heran, bila setiap ada
peneliti/orang asing yang datang dan menanyakan data/informasi, benak mereka
sudah terlebih dahulu direcoki motivasi rente/proyek.
Namun, saya kira ini trend umum. Di hampir semua kabupaten (kebetulan proyek
ini ada di 60 kabupaten) juga terkesan sama perilakunya. Sebagai orang NTT,
apalgi berasal dari Labuan Bajo/Manggarai, pengalaman yang Mbak Yuli alami
tentu amat memalukan. Sekiranya saya adalah petinggi di Labuan bajo, tentu
saya sudah minta Mbak Yuli untuk memberitahui nama aparat tersebut supaya
diberi sanksi keras.
Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: