Quote: "......sejak beliau mencanagkan diri untuk menjadi calon presiden vis a 
vis jendral besar Suharto di tahun 1997 yang silam ....."

  Seingat saya, pada pemilu 1997 Amien Rais tidak mencalonkan diri jadi 
presiden, hanya menyatakan diri siap jadi presiden. Malah tahun tahun sebelum 
itu, sebagai ketua dewan pakar ICMI, cukup sering sowan ke Suharto, bersama 
Habibie. Orang nekad yang mencalonkan diri waktu itu adalah pasangan: Sri 
Bintang Pamungkas dan Yulius Usman. Kita tahu waktu itu, PDI Mega tidak boleh 
ikut pemilu (PDI Suryadi yang diakui - ingat kasus 27 Juli ketika SBY jadi 
Kepala stafnya Sutiyoso di Kodam Jaya), PUDI belum bisa jadi partai sehingga 
pencalonan SBP - YU hanya bertujuan untuk menyadarkan rakyat bahwa bisa orang 
lain juga yang menjadi calon presiden selain Suharto.

  Jika ingatan saya keliru, tolong diluruskan.

  Amien Rais kelihatannya masih akan mencalonkan diri di tahun 2009 sehingga 
pengakuannya ini benar benar berbasis moral atau bagian dari manuver tebar 
pesona, hanya dia yang tahu. Kita masing masing bisa punya persepsi yang 
berbeda. Who could control human perception ?

  Salam, Irry.



muhruslee <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

GO HEAD PAK AMIEN!

Maafkan, tapi saya tak bisa menyembunyikan kekaguman teramat besar
akan sosok pak Amien Rais. Politisi, yang jauh dari pattern, dan
lebih cocok menjadi akademisi ini kembali membuat saya terkesima.
Saat yang lain lebih suka menyembunyikan diri, jaga image dan sok
bersih, pak Amien tanpa merasa risih pada tgl 15 Mei 2007, dihadapan
para wartawan mengakui menerima dana kampanye dari Rokhmin Dahuri,
menteri Dept Kelautan dan Perikanan (DKP) waktu itu sebesar 200juta +
200 juta (400 juta ya). Bahkan siap untuk dijadikan tersangka apabila
memang melawan ketentuan hukum kala itu. Toh ketentuan Kampanye dari
KPU waktu itu mengizinkan sumbangan institusi untuk Calon Presiden
maksimum Rp 750juta. (Gambar diambil dari Blog Yuli Ahmada)

Sejak beliau mencanangkan diri untuk menjadi Calon Presiden vis a vis
Jendral Besar Soeharto di tahun 1997 silam, semua orang terperangah
dan berdecak kagum akan keberanian Amien Rais, bahkan beberapa tokoh
menyebutnya bahwa pak Amien sudah putus urat takutnya, secara fakta
politik masih menunjukkan kekuasaan Soeharto yang masih kuat
mencengkeram. Bahkan Emil Salim pun, `hanya' berani mencalonkan diri
menjadi Wakil Presiden, sesuatu yang diangap bung Kancil, sebutan
lain Amien Rais, sebagai ban serep dan ndak punya kuasa apa-apa.
Roda Suksesi yang digelindingkan beliau semenjak Muktamar
Muhammadiyah tahun 1995 rupanya bak bola salju yang malah panas,
karena tak semua orang berani menatapnya lama-lama, takut!

Tapi tidak dengan Amien Rais, sang penggagas utama Reformasi ini.
Sejarah mencatat, ketika Presiden Habibie gagal mendapatkan dukungan
atas pertangungjawabannya karena salah satunya tikaman dari
dalam "Golkar Brutus", beliau kemudian meminta langsung Amien Rais
untuk maju sebagai Calon Presiden, dan diaminkan oleh sejumlah tokoh,
termasuk Akbar Tanjung dan Yusril Ihza Mahendra. Tapi beliau dengan
santun menolak, karena ingin menjaga komitmennya dengan Gus Dur
karena sebelumnya sudah mencalonkan Gus Dur sebagai Capres dari PAN,
bahkan walau PKB saat itu malah menyokong Megawati.

Beberapa pihak malah mengatakan Amien Rais itu ambisius untuk menjadi
Presiden, dengan ucapan dan koar-koarnya kadang dianggap sebagai
salah satu manifestasi ambisi nya yang luar biasa dan bahkan
menjulukinya sebagai Amien Rakus. Kasihan, saya malah melihatnya
sebgagai wujud kejujuran dan keberanian beliau untuk bersuara. Untuk
menjadi Presiden memang keinginan beliau, demi untuk meninggikan
martabat, menutup lobang kebohongan, menambal celah kemunafikan namun
beliau tetap santun dan sangat akademis, walau teramat kritis sebagai
orang Jawa.

Pemilihan Presiden 2004 kemaren saya urung memakai hak pilih saya di
Putaran Kedua, karena beliau Amien Rais ndak masuk, sesuatu yang buat
saya menyedihkan. Sayang sekali rakyat Indonesia memilih pemimpin
hanya berdasarkan kharisma dan sindrom "korban" saja….sayang sekali….

Tak tahu, di generasi nanti apakah sosok Amien Rais bisa
mengejawantah dan memimpin bangsa dengan tegas, keras tapi
berkarakter kuat membagun bangsa.

Wallahu `alam bishshawab.

Kirim email ke