Tanggapan saya simpel lagi Bung Andi: para wartawan yang membela MH itu, selain 
solidaritasnya kepada sesama wartawan tinggi, mereka juga punya kesadaran 
gender yang tinggi. Juga para miliser yang menyatakan kegusaran mereka atas 
ulah brimob itu. Ini. buat saya, adalah bukti bahwa feminisme cukup berhasil 
membuka kesadaran banyak orang tentang adanya fakta kekerasan terhadap 
perempuan.
   
  Mengenai bagaimana budaya kekerasan ala militer bisa menular ke masyarakat 
sipil secara meluas, saya tanggapi di postingan Anda yang satu lagi ya (yang 
buat Rahadian dan saya).
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak Manneke; colekannya salah tempat. Yang saya bantah kemaren 
adalah kuas besar yang bilang MASYARAKAT INDONESIA menjadikan 
perempuan sebagai target; sebagaimana argumennya Ariel Heryanto. 
Saya sebagai orang yang dituduh tentu tidak terima. Sebaliknya, 
berita di bawah malah menguatkan argumen saya.

Yang dibahas satu pihak soal polisi yang melecehkan perempuan. Tapi 
Anda lupa mengangkat bahwa para wartawan di situ beramai-ramai 
membela korbannya, bahwa polisi militer langsung menanggapi akan 
mencari pelakunya, bahwa anggota milis ini beramai-ramai menyatakan 
dukungan dan simpati kepada korban. Begitukah tanggapan masyarakat 
yang murka maskulin?

Dalam masyarakat yang sudah "murka maskulin" versi Anda itu hal yang 
lebih buruk bisa terjadi. Para wartawan bisa saja mengacuhkan 
pengaduan si korban. Polisi militer bisa saja malah membela si 
pelaku. Anggota milis ini bisa saja mengacuhkan berita di atas.

Tapi itu tidak terjadi kan? Siapa yang sekarang sedang berimajinasi?

Andi

Kirim email ke