Lantas apa menurut anda perkosaan massal pada peristiwa Mei bisa
terjadi? Apakah orang-orang yang melakukannya memang tumbuh dengan nilai
moral yang eksklusif? Jika tentara melakukan perkosaan di Papua, Aceh,
dan Timor apakah memang patut dikatakan sebagai perilaku eksklusif di
kalangan tentara?

Ngomong-ngomong, apakah Singapura pernah mengalami hidup dalam budaya
militeristik seperti halnya Indonesia pada masa Orba?

Mungkin diskusi ini akan lebih baik jika kita bisa membaca analisis Tom
Boellstorff dan Marshall Clark yang dikutip oleh Ariel.




--- In [email protected], "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Pak Rahadian dan Pak Manneke,
>
> Saya kembali lagi ke argumen awal. Yang dianalisis oleh Ariel adalah
> masyarakat pada umumnya; bukan komunitas tertentu. Itu sebabnya saya
> kontraskan dengan tentara, kumpulan preman, atau organisasi preman
> berbasis agama. Nilai-nilai yang mereka anut tidak otomatis sama
> dengan yang dianut masyarakat umum. Ketika dihadapkan dengan pilihan
> mati demi negara, agama, atau mata pencariannya umpamanya;
> masyarakat umum tidak akan semudah itu bilang. "Yak, saya pilih
> mati". Demikian juga orang biasa tidak akan mudah memperkosa dengan
> alasan apapun. Sebaliknya, orang-orang yang dirasuki ideologi atau
> tumbuh dengan nilai moral yang eksklusif bisa melakukan (ATAU
> MEMBIARKAN) hal-hal yang tidak akan dilakukan orang biasa.
>
> Saya ambil contoh peristiwa Holocaust. Kondisi keterpurukan Jerman
> setelah PD I memungkinkan mereka mengobarkan PD II. Tapi peristiwa
> Holocaust hanya bisa terjadi pada masyarakat yang terasuki ideologi
> fasisme dan rasisme oleh demagog brilian seperti Hitler.
>
> Demikian juga dengan kasus Mei 1998. Penjelasannya akan lebih
> sederhana kalau kekerasan itu dilakukan oleh orang-orang yang
> menempatkan ideologi atau konsep kepatuhan pada atasan atau uang di
> atas rasa kemanusiaannya. Komunitas semacam itu tidak sedikit
> jumlahnya, tapi juga bukan representasi masyarakat pada umumnya.
>
> Apalagi kalau membaca penjelasan Pak Rahadian tentang pengaruh tidak
> adanya perang berkepanjangan pada tentara. Sepertinya penjelasan itu
> menyangkut psikologi tentara dan bukan psikologi masyarakat. Contoh-
> contoh yang diberikan Pak Rahadian dan Pak Manneke juga adalah
> contoh perilaku kotor tentara. Bukan perilaku masyarakat.
>
> Analisis seperti itu juga bukannya tidak ada pembantahnya. Militer
> Singapura, contohnya, tidak pernah berperang. Kaum lelakinya,
> tentara atau bukan, harus menjalani pendidikan militer selama 2
> tahun. Tiap hari saya naik kereta dengan anak-anak muda berseragam
> loreng. Saya tahu persis di dalam pendidikan tersebut mereka diajari
> juga bagaimana menjadi manusia yang tega membunuh lawannya. Tapi itu
> ternyata tidak menjadikan masyarakat sana jadi senang kekerasan atau
> anti perempuan.
>
> Sebaliknya, dengan menganggap bahwa masyarakatlah yang sakit dalam
> peristiwa-peristiwa kekerasan di Indonesia seperti menafikan bahwa
> kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan bukanlah norma umum dalam
> hidup bermasyarakat. Contoh berita tentang pelecehan yang dilakukan
> polisi kemaren menunjukkan bahwa masyarakat kita tergugah
> kemanusiaannya melihat perempuan dilecehkan (bukan diperkosa) oleh
> orang yang lebih berkuasa. Dalam masyarakat yang benar sakit,
> peristiwa semacam itu pastilah akan dianggap lumrah.
>
> Itulah sebabnya saya meragukan; benarkah kita sebagai anggota
> masyarakat benar sanggup menonton perkosaan massal dengan bersorak
> sorai? Saya tidak sedang meragukan ada tidaknya perkosaan massal di
> Mei 1998. Saya sedang bertanya, benarkah kejadian nista itu
> dilakukan oleh masyarakat Indonesia, oleh orang-orang seperti kita
> dan tetangga-tetangga kita? Saya menangkap bahwa Ariel menjawab ya
> untuk pertanyaan itu dengan analisis murka maskulinnya. Mungkin
> pengertian saya terhadap Ariel salah, tapi saya tegas menjawab tidak.
>
> Andi

Kirim email ke