Terima kasih kembali buat Pak Irry.

Salam,
Nana

--- In [email protected], Ignas Iryanto
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya kira opini kita tidak banyak bedanya. Dengan mngatakan bahwa
kekerasan bukan monopoli laki laki dan wanita bukan pemilik
satu-satunya dari wanita, jelas cocok dengan pernyataan bahwa
patriarki bukan persoalan jenis kelamin. Tidak perlu jauh ke India.
Ketika Mega naik jadi presiden banyak teman teman aktifis gender tegas
mengatakan Mega tidak memiliki paradigma gender bahkan Mega lebih
dekat ke Maskulinisme ketimbang feminisme. (Lebih tegas lagi, dia
cenderung lebih dekat ke militer daripada pada kekuatan masyarakat
sipil.).
>
>   Saya tetap kuatir jika paradigma feminisme yang ultraliberal itu
mempengaruhi gerakan feminis di tanah air. Tidak mengapa toh, saya
berhak untuk kuatir. Tentu saja sekaligus bersyukur bahwa ada orang
seperti anda, bung Maneke dll yang memberikan optimisme bahwa
feminisme yang diperjuangkan di tanah air tidak dengan versi itu.
>
>   Saya kira dengan ini, saya ingin mengakhiri diskusi dalam tema
ini. Terima kasih atas berbagai masukan dari ibu dan juga dari bung
Maneke juga Nana P yang menstimulasi diskusi ini dengan postingnya.
>
>   Salam, Irry

Kirim email ke