Link yang Anda kirim sudah saya intip dan sepertinya mungkin bisa membantu saya memahami mengapa orang-orang seperti Pak Manneke atau Ibu Mariana bisa berapi-api kalau sudah bicara soal yang satu itu. Terima kasih sudah menanggapi. Sayang sepengertian saya isinya sama dengan yang saya bahas dengan Manneke sebelumnya, sehingga saya takut nanti kita mengulang-ulang saja nantinya.
Soal pemahaman saya tentang jender: anda benar. Ilmu saya cuma pas buat balas membalas di warung kopi yang namanya FPK ini yang kebetulan isinya beragam manusia; ada yang ahli jender, ahli modifikasi cuaca, ahli waduk, ahli industri daging, dan ahli kecap nomor satu seperti saya :) Andi --- In [email protected], "Rahadian Permadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Betul memang Megawati ditentang lantaran dia adalah lawan. Tetapi kalau > anda jeli melihat perdebatannya, salah satu alasan penolakannya adalah > 'ke-perempuan-annya'. Perempuan tidak pantas menjadi pemimpin begitu > kata mereka. Argumen yang digunakan oleh lawan politik Mega ini adalah > salah satu contoh bagaimana gender digunakan dalam politik. Anda sudah > mengemas konsepsi ini dalam kalimat anda: bahwa masalah keperempuanan > itu sendiri adalah masakan politik. Betul, ini memang masakan politik > dan lazimnya disebut politik gender. Pada taraf ini, tidak perlu lagi > untuk menggiring diskusi ke kasus-kasus lain. Sebab kasus ini sudah > menyangkal premis awal anda bahwa politik (juga kekerasan) tidak ada > sangkut pautnya dengan gender (Message #57143). Saya kutip lagi > pernyataan anda. "Ya benar Anda, Bu Yuli. Politik tidak mengenal jender. > Kekerasan juga tidak mengenal jender." Dipilihnya bupati perempuan > seperti yang ada sebutkan mengandaikan bahwa politik gender bisa > berubah-ubah. Dalam kasus bupati-bupati perempuan tersebut memang > mungkin tidak digunakan. > > Kalau anda sempat membaca sejarah modern Eropa di abad 19, anda bisa > lihat bahwa gerakan perempuan menuntut untuk diberikan hak pilih. Pada > waktu itu perempuan di Inggris dan negara-negara lainnya tidak > mendapatkan hak pilih. Apa sebabnya? Lantaran adanya persepsi yang > mengatakan bahwa publik adalah milik laki-laki dan politik adalah > wilayah publik sehingga perempuan tidak layak untuk turut campur. > > Sekarang soal Gerwani. Lantas apa alasan dibalik propaganda pesta seks > di Lubang Buaya yang di sebarkan oleh Orba? Imoralitas komunis? > Imoralitas perempuan komunis tepatnya. Kalau dilihat lagi, setelah Orba > berdiri tidak ada lagi organisasi perempuan seperti pada masa Orla, > semua diseragamkan. Kalaupun ada bentukya seperti Dharma Wanita dan PKK. > Orba mengkonstruksikan figur ibu/perempuan menurut seleranya dan semua > kegiatan perempuan diharapkan selaras dengan model perempuan yang > digambarkan oleh Orba. Saya sarankan anda untuk membaca buku Saskia. > > Maaf ya bung Andi, saya menangkap kesan bahwa anda belum begitu paham > tentang apa itu yang disebut gender. Ini yang membuat diskusinya seperti > tidak mengalir. Dalam ilmu-ilmu sosial sekarang ini, analisis gender > sudah popular dipakai, dan mungkin sudah menyamai kepopularan analisis > kelas ala Marxisme. Untuk itu saya kopikan link tentang gender agar > diskusinya bisa mengalir. > http://www.iastate.edu/~iwise/iwise/lectures/08Nov2001.htm > <http://www.iastate.edu/~iwise/iwise/lectures/08Nov2001.htm> . > > salam > > rahadian > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "si_andi" <si_andi@> > wrote: > > > > Pak Manneke dan Pak Rahadian, > > > > Saya sengaja tidak menanggapi soal Megawati dan Gerwani agar tidak > > menyimpang dari topik utama. Tapi berhubung ke'diam'an saya malah > > membuat Pak Manneke menambahi cap saya dengan rabun gender (mungkin > > ditaruh di sebelah cap macho kemaren) izinkan saya membahas agak > > menyimpang sedikit: > > > > Bayangkanlah kalau idola massa sekaliber Megawati ternyata anggota > > Dewan Syuro PKB atau PPP atau PBB. Akan ada jugakah penolakan yang > > Anda kutip itu? Megawati ditentang karena dia adalah lawan, Pak. > > Bukan karena keperempuanannya. Alasan kepemimpinan perempuan itu > > cuma masakan politikus yang kebetulan sedap benar untuk dikunyah > > massa tapi sebenarnya sedikit saja yang menelan. Buktinya PDI-P > > menang saja kan ketika itu? Soal Megawati kalah di MPR itu kan lain > > cerita. > > > > Bukti lagi? Pernahkah kemudian para penentang itu meributkan bupati- > > bupati atau camat-camat perempuan yang makin banyak itu dengan > > alasan jender? Kalau agama alasannya, mestinya harga mati, toh? > > Kenapa Megawati dilawan tapi Rustriningsih atau Haeny Relawati > > dibiarkan? Jangan-jangan Anda percaya juga kalau Marissa Haque kalah > > di pilgub Banten karena dia perempuan? > > > > Soal Gerwani, maafkan kalau saya salah menanggapi lagi karena belum > > baca bukunya. Tapi yang saya tahu yang mau ditembak dari mitos > > Gerwani adalah imoralitas paham komunisme, bukan masalah karena > > Gerwani itu perempuan. Mitos imoralitas ini juga dikobarkan dengan > > adegan penyiksaan di film G30S yang amat-sangat-graphics itu (dan > > pelakunya tidak cuma Gerwani). Sama juga halnya dengan penghujatan > > atas Pramudya atau Sitor Situmorang (yang ternyata tidak ada komunis- > > komunisnya itu) tidak lantas diterjemahkan sebagai orde baru > > berpaham menindas sastrawan. > > > > Terima kasih atas gosokannya, Pak :-) Ilmu saya cuma cukup untuk > > eyel-eyelan warung kopi saja; jangan terlalu diseriusi. > > > > Andi >
