Sebenarnya, mengerjakan hal-hal yang sederhana tetapi berguna lah yang membuat 
kita tenang dan bahagia (fulfilled). Misalnya memberi pertolongan kepada 
seseorang yang sedang membutuhkan, apakah hal itu berupa tenaga, uang ataupun 
pikiran. Yang penting sebuah pertolongan yang berguna bagi yang sedang 
membutuhkan.
  Mengajak kawan/sahabat kita yang sedang dilanda duka untuk sejenak melupakan 
kesediahn nya dan kita bisa menghiburnya, juga suatu hal yang sangat membuat 
diri kita gembira.
  Membantu anak yang tidak bisa membayar sekolah, ataupun berkebun dan melihat 
tanaman kita tumbuh dengan subur, sudah membuat saya amat bahagia.
  Saya juga bahagia jika sedang membaca buku yang berguna dan membuat saya 
lebih banyak belajar akan hal-hal lain yang belum saya ketahui.
  Atau mungkin hanya saya sendiri yang mengartikan "Bahagia" dengan cara 
tersebut? 
  Kalau kita bisa mempunyai uang banyak dan bisa berbuat apapun yang kita 
inginkan, saya rasa itu hanya kebahagiaan yang "sementara" atau "semu". Atau 
saya salah dengan mengatakan nya begitu?
  Karena saya dari kecil diajari untuk hidup sederhana, dan tidak pamer, maka 
jika ada kelebihan yang diberikan oleh Tuhan YME, saya mensyukurinya. Dan pasti 
itu adalah suatu jalan bagi saya untuk bisa menolong orang lain.
  Jika kita pergi ke Bantul atau Sidoarjo, saat ini dan melihat anak-anak kecil 
yang dalam kesulitan, maka kita bisa mensyukuri dengan kadaan kita sendiri.
  Ada kata-kata bijak yang mengatakan: 
  "Nothing outside of us can give us happiness, for happiness is within us. 
Therefore turn within. When this realization dawns on man, he will established 
on the path to happiness".
   
  Silahkan mencobanya.
  Salam,
  Yuli

Maria Margaretta Vivijanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kuncinya keseimbangan ya...Tanpa uang hidup duniawi memang susah, 
tapi masih bisa dibuat bahagia secara spiritual. Kalau punya uang, 
jangan sampai jadi hambanya...duniawi dan spiritual dua-duanya bisa 
hancur.

Salam,
Retty

Kirim email ke