Polisi yang bijak harusnya memberitahukan bagaimana seharusnya prosedur yang benar. Pengguna jalan memang seringkali suka asal. Tetapi saya pribadi selalu berusaha untuk tidak nyetir ugal2an. Tiap lampu merah ada atau tidak ada polisi saya selalu berhenti. apapun resiko yang akan terjadi di lampu merah itu. (beberapa kali lah saya mengalami berbagai percobaan kejahatan sampai sekarang saya sudah kehilangan rasa takut). Tetapi apakah polantas wajar bernego pada pengguna jalan yang menyalahi aturan? Kalau mau mentertibkan lantas ya sudah, tilang saja semua pengguna jalan yang benar2 terbukti bersalah, bahkan mereka harus bisa menolak negosiasi dari si pelanggar. Salah, Tilang, Selesai!
Kalau seperti itu kan pengguna jalan juga akan berfikir untuk berusaha tidak menyalahi aturan. I'm a mobile person. 1 hari saya bisa habiskan 5-7 jam di jalanan. Dan mengendara sendiri. Saya juga pernah melakukan kesalahan, waktu itu saya ambil jalur kiri, tetapi saya mau terus. di depan ada banyak polisi. Saya diberhentikan. Mereka bilang saya salah. Ya sudah saya mengaku bersalah karna daerah itu sama skali asing buat saya. Terus terang saya panik karna nyasar dan sedang mencari pintu masuk jalan tol untuk kembali ke Jakarta tapi malah berputar2 di jalan dalam kota.. Mereka melihat SIM saya alamat Jakarta dan mereka memakluminya. Saya disuruh berhati2, memperhatikan rambu dan melanjutkan kembali perjalanan tanpa menilang atau bernego. Malah mereka memberitahukan arah untuk masuk tol. Tapi masih jarang sekali polisi lalulintas seperti itu. Saya tidak men-judge bahwa semua polantas brengsek. Tetapi paling tidak hanya segelintir polantas yang berusaha untuk lurus. Saya sangat mengerti tugas mereka sangatlah berat, belum lagi kalau harus mengatur jalan yang macet di tengah derasnya hujan. Dan sekarang tugas mereka akan bertambah berat, selain mengatur dan mentertibkan lalulintas, tugas mereka kini adalah mengembalikan citra baik mereka (seutuhnya). Jangan karna 10-20 orang polisi yang nakal, maka polisi se-Indonesia bercitra buruk di mata masyarakat. Nila setitik rusak susu sebelanga. On 5/23/07, Tri Handoko Seto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > tapi polisi juga kadang2 resek. saya pernah di perempatan kuningan dari > arah cawang menuju semanggi. perasaan lewat tengah aja (tidak di kiri dan > tidak di kanan banget yg untuk belok kanan). tapi tiba2 disemprit suruh ke > pinggir jelan yg di tengah2 perempatan itu (kan perempatannya ada pemisah yg > super lebar ya). dibilang saya melanggar marka jalan. saya binggung, marka > yg mana. katanya tadi roda saya melindas garis pembatas. lha saya lihat > garisnya aja udah hampir gak kelihatan. jan kurang ajar bener. untungnya > sesama org jawa saya nego dg bhs jawa. kena deh 20ribu rupiah. setelah itu > mobil saya dipandu untuk meneruskan perjalanan ke arah semanggi dg cara yg > sangat melanggar karena harus muter2 di perempatan heheee...
